
Gagah buru-buru keluar dari apartemen Ariel karena mendapatkan panggilan dari asisten pribadi presiden.
“Oh begitu, baik saya akan ke sana,” ucap Gagah setelah mendengar perkataan dari seberang panggilan.
Gagah pergi karena diminta menemui presiden segera, bahkan tak sempat pamit ke Ariel karena dirinya harus mempersiapkan diri dan berpakaian formal serta rapi untuk menemui orang nomor satu di negara itu.
Gagah menghubungi timnya untuk ikut bersama, pemungutan suara hampir selesai dan Gagah sudah mendapatkan lebih dari lima puluh persen dari seluruh jumlah suara yang sudah dihitung.
Ariel sendiri masih terdiam di kamar, memandang pesan dari Meta. Sikap Gagah yang tadi berubah serta mendadak pergi meninggalkannya, membuat Ariel berpikir jika mungkin benar kalau Gagah sudah berubah rasa kepadanya dan takkan sama seperti dulu. Dia memilih berbaring, memeluk tubuhnya sendiri sambil meringkuk, merasakan kesendirian dalam lubang kesalahan yang teramat sangat dalam.
***
Sudah beberapa hari Gagah tidak datang, bahkan pesan Ariel tidak ada satu pun yang dibalas.
__ADS_1
Ariel merasa tertekan hidup sendiri dengan kondisinya sekarang, kehamilan pertama di usia muda bukanlah hal mudah untuk dijalani. Hari ini Ariel tidak pergi ke kampus lagi, dirinya mengalami mual dan muntah yang hebat setelah beberapa hari sebelumnya mengalami hal yang sama, bahkan terasa memburuk setiap harinya.
Ariel baru saja keluar dari kamar mandi, mengambil ponsel dan ingin menghubungi Gagah. Namun, mengurungkan niat sebab pesannya sejak kemarin pun belum dibaca pria itu.
“Mas Gagah benar-benar kecewa kepadaku,” lirih Ariel dengan bola mata berkaca-kaca.
Ariel semakin yakin jika Gagah benci kepadanya, kenyataannya sampai sekarang Gagah tidak menghubungi, membuktikan jika pria itu mungkin sudah tidak peduli lagi dengannya.
Saat Ariel kembali tertekan karena rasa bersalah. Dia kembali merasa mual dan ingin muntah karena perutnya kembali terasa diaduk-aduk. Ariel pun berlari lagi ke kamar mandi, berjongkok di depan kloset dan kembali membuang isi perut yang sebenarnya sekarang sudah kosong. Sejak semalam Ariel terus mual, bahkan saat bangun tidur pun mual itu kembali datang, hingga tak memberinya waktu untuk sekadar memasukkan sesuatu ke mulut.
“Ibu, aku rindu.” Dalam isaknya Ariel menyebut nama sang ibu.
Sungguh dia tidak pernah berpikir akan mengalami hal ini, hal yang seharusnya membawa kebahagiaan, kenyataannya malah membuatnya begitu menderita. Ariel terus menangis hingga terisak, menggunakan sisa tenaga untuk mengeluarkan semua kepedihan yang dirasakan. Hingga dia memejamkan mata, menahan kesedihan yang sedang singgah di hati.
__ADS_1
Sementara itu, Roni pergi ke apartemen Ariel karena sejak pagi keponakannya itu tidak bisa dihubungi. Dia cemas terjadi sesuatu dengan Ariel, hingga memutuskan untuk datang ke apartemen.
“Riel!” Roni mengetuk pintu dengan keras karena sejak tadi menekan bel tidak ada yang membuka.
Dia yakin jika Ariel berada di apartemen, sebab Mika berkata keponakannya itu tak masuk kampus lagi.
“Riel, kamu di dalam, ‘kan?” Roni kembali mengetuk.
Pria itu panik karena tak ada jawaban dari Ariel, hingga memilih berlari turun untuk memanggil security. Dia meminta security untuk membantunya membuka pintu apartemen Ariel bagaimanapun caranya. Roni sangat yakin kalau keponakannya itu di dalam dan terjadi sesuatu.
Akhirnya security pun melakukan perintah Roni, berusaha membuka pintu unit apartemen Ariel setelah mendapatkan izin dari pengembang gedung. Begitu pintu berhasil dibuka, Roni langsung berlari masuk untuk mencari keberadaan Ariel. Pria itu masuk kamar tapi tak mendapati keponakannya di sana.
“Riel!” panggil Roni karena merasa Ariel di kamar mandi sebab pintu tertutup.
__ADS_1
Tidak ada jawaban dari Ariel, hingga membuat Roni semakin cemas. Dia pun akhirnya memberanikan diri membuka pintu, hingga terkejut saat melihat Ariel di sana.
“Ariel!”