Godaan Pelakor Belia

Godaan Pelakor Belia
Bab 94 : Maksud Mas?


__ADS_3

Gagah dan Roni masih tidak percaya dengan apa yang bisa dilakukan oleh Meta. Roni bahkan terkejut ketika Gagah berkata jika yang terjadi kepada Robi karena ulah Meta.


Mereka masih berada di mobil dalam perjalanan menuju kantor dinas. Setelah Gagah bercerita dengan apa yang terjadi, keduanya kemudian diam satu sama lain.


“Jika Bu Meta bisa melakukan hal sekejam itu terhadap orang yang mengkhianatinya, artinya dia juga bisa melakukan hal buruk terhadap Ariel yang diangap sebagai musuhnya,” ucap Roni memecah keheningan kabin sedan mewah Gagah.


Gagah tersentak mendengar ucapan Roni yang benar adanya, Meta pasti takkan membiarkan Ariel hidup dengan tenang.


“Aku harus memikirkan cara agar membuat Meta menjauhi Ariel,” ujar Gagah sambil berpikir.


“Mungkinkah kita harus membuat Bu Meta percaya jika Anda dan Ariel sudah tidak memiliki hubungan lagi, dengan begitu dia pasti akan berpikir jika Ariel bukan lagi sebuah ancaman, serta bisa melupakan kebenciannya ke Ariel karena kalian telah berpisah.” Roni mengemukakan apa yang ada di pikirannya.


Gagah tampak berpikir, apa yang dikatakan oleh Roni sepertinya masuk akal.


“Sepertinya apa yang kamu katakan benar,” ucap Gagah. “Kamu carilah informasi tentang kematian Robi, kita harus memiliki bukti tentang skenario pembunuhan Robi agar bisa kita gunakan sebagai senjata untuk melawan Meta dan Pradana.”


***

__ADS_1


Gagah termenung di ruang kerjanya sebelum bekerja, memikirkan solusi untuk menjaukan Ariel dari Meta. Dia tidak ingin jika sampai Meta melakukan hal gila terhadap Ariel dan calon bayi mereka.


Di sisi lain. Ariel duduk mematut diri di depan cermin sambil memandang bayangan dirinya. Gadis itu lantas melirik ke bawah, melihat perutnya yang mulai terlihat menyembul dari balik pakaian yang dikenakan.


Ariel mengusap perlahan dan lembut, mencoba merasakan perbedaan di bentuk fisik tubuhnya, dia tak menyangka ada nyawa baru yang sedang tumbuh, dan bergantung padanya di dalam sana.


“Mama pasti akan menjagamu dengan baik,” lirih Ariel. Apalagi saat mengingat bagaimana dokter memintanya untuk hati-hati dan menjaga kondisi kehamilannya.


Ariel sudah tidak masuk kuliah selama beberapa minggu, tapi syukurlah karena ini sedang libur semester sehingga membuatnya tak merasa bersalah karena terus membolos.


“Halo, Mas.” Ariel pun menjawab panggilan itu.


“Hei, kamu sedang apa?” tanya Gagah berbasa-basi dari seberang panggilan.


“Masih di kamar, Bu Anisa melarangku kerja terlalu berat, jadi dia mengurangi jatah kerjaanku,” jawab Ariel.


“Apa ada masalah dengan kandunganmu?” tanya Gagah cemas mendengar Anisa sampai melarang Ariel bekerja terlalu banyak.

__ADS_1


Ariel tertawa kecil mendengar pertanyaan Gagah yang tampak begitu cemas, sebelum kemudian menjawab, “Tidak, Mas. Kondisinya baik-baik saja, hanya saja Bu Anisa tak ingin aku terlalu lelah.”


Terdengar suara helaan napas lega dari seberang panggilan, hingga kemudian Gagah kembali bicara.


“Tapi kamu juga baik-baik saja, ‘kan? Aku merindukanmu,” ucap Gagah.


Ariel tersenyum mendengar kata rindu dari pria yang sangat dicintainya itu, kemudian membalas, “Aku juga merindukanmu, Mas.”


“Riel, jika aku meminta sesuatu, apa kamu akan mengabulkannya?” tanya Gagah dari seberang panggilan.


Dahi Ariel berkerut halus mendengar pertanyaan Gagah, dia pun balik bertanya, “Meminta apa, Mas?”


“Riel, bagaimana jika kamu menerima tawaran Rehan?”


Ariel cukup terkejut mendengar ucapan Gagah, kenapa tiba-tiba pria itu menginginkan dirinya setuju dengan tawaran Rehan.


"Maksud Mas apa?"

__ADS_1


__ADS_2