Godaan Pelakor Belia

Godaan Pelakor Belia
Bab 104 : Kehilangan


__ADS_3

Dengan berat hati Gagah akhirnya menandatangani prosedur yang akan dilakukan ke Ariel. Setelah menyerahkan berkas persetujuan ke perawat, dia menemui Ariel yang tengah kesakitan dengan infus terpasang di tangan, dan alat bantu pernapasan yang terpasang di hidung.


“Riel.” Gagah langsung menggenggam telapak tangan Ariel untuk menguatkan istri sirinya itu.


Ariel melihat Gagah berada di sana, hingga air mata semakin mengucur deras dari kelopak matanya.


“Mas Ga-gah.” Ariel terbata memanggil nama suaminya karena sedang menahan rasa sakit di perut. Dia merasakan mulas dan sebuah dorongan karena mengalami pendarahan hebat yang mengakibatkan terbukanya jalan lahir.


Gagah tidak tega melihat Ariel yang seperti ini, hatinya begitu tersayat perih saat melihat air mata Ariel yang membasahi wajah. Dia semakin mempererat genggaman tangan Ariel, jika bisa ingin rasanya ikut menangis di sana.


“Kamu yang kuat, ya.” Gagah mencoba memberi dukungan untuk istrinya.


“Bagaimana bayi kita, Mas? Dia akan baik-baik saja, ‘kan?” tanya Ariel, memandang Gagah yang ada di sampingnya penuh harap agar tidak terjadi sesuatu hal buruk dengan bayi mereka. Sesekali Ariel menahan sakit seperti kontraksi ingin melahirkan.


Gagah mempererat genggaman, kemudian menggelengkan kepala pelan.


“Dokter memintaku membuat keputusan. Demi menyelamatkanmu, aku harus merelakan calon bayi kita,” lirih Gagah karena sebenarnya tak sanggup menyampaikan hal itu ke Ariel.

__ADS_1


Ariel menggelengkan kepala cepat mendengar ucapan Gagah, belum lagi pria itu menggenggam telapak tangan begitu erat dan menjatuhkan kening di kepalan tangan mereka.


“Tidak, Mas! Tidak!” Ariel tak rela janinnya diambil. Bahkan kini buliran kristal bening semakin luruh membasahi wajah.


Gagah sekuat tenaga bersikap tegar, tak ingin membuat Ariel semakin tertekan dan sedih.


“Ini yang terbaik, Riel. Aku mohon, aku tidak bisa membiarkanmu kehilangan nyawa juga,” ucap Gagah dengan suara berat. “Bayi kita tidak bisa diselamatkan, Riel.”


Suara Gagah terdengar begitu berat, rasa sesak sedang menghantam rongga dada hingga membuatnya merasakan sakit seperti yang sedang dirasakan Ariel. Kehilangan bayi yang sudah dinanti beberapa bulan ini, bukanlah hal mudah untuk Ariel dan Gagah.


“Jangan ambil bayiku, Mas!” Ariel meracau sambil menangis histeris.


“Sabar, Riel. Aku mohon sabar. Masih ada aku di sisimu.”


Kini Gagah hanya tinggal menunggu proses pengguguran janin yang ada di rahim Ariel. Meski ini semua begitu berat, tapi Gagah lebih memikirkan keselamatan Ariel.


***

__ADS_1


Di luar ruang perawatan. Rehan dan Arumi sama-sama diam. Kini Arumi sudah tahu jika Ariel bukanlah istri Rehan, melainkan istri Gagah.


Arumi sebenarnya masih bingung, apa yang sebenarnya terjadi.


“Apa pernikahan kalian adalah sebuah sandiwara?” tanya Arumi memecah keheningan.


Koridor itu sejak tadi terasa begitu sepi, hanya sesekali terdengar suara roda ranjang pesakitan yang beradu dengan lantai saat didorong perawat yang melintas.


Arumi memandang Rehan yang berdiri di sebelahnya, menatap wajah sang kekasih yang masih dicintainya itu.


Rehan tidak menjawab, tatapan pria itu masih terus tertuju ke ruang perawatan Ariel.


“Re, apa kamu benar-benar tidak mau bercerita? Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kalian pura-pura menikah? Ariel bukan istrimu, iya ‘kan? Sebab itu kamu tidak bisa mengambil keputusan,” cecar Arumi.


Rehan tidak mau menjawab pertanyaan Arumi, lebih memilih memalingkan wajah untuk menghindari tatapan kekasihnya itu.


Tentu saja sikap Rehan semakin membuat Arumi penasaran, apa sebenarnya yang terjadi hingga Rehan bersikap demikian dan tega berbohong kepadany.

__ADS_1


__ADS_2