
Mika mengajak Ariel menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari arah mereka berlari, lantas meminta Ariel cepat masuk sebelum para wartawan semakin mendekat.
Mika langsung tancap gas begitu mereka sudah di mobil, melajukannya dengan kecepatan tinggi agar para wartawan tak bisa mengejar. Keduanya bernapas lega, akhirnya bisa lolos dari wartawan untuk sementara waktu.
“Hah … akhirnya lepas juga.” Mika mengembuskan napas kasar lalu tersenyum lega.
Ariel pun langsung menoleh Mika kemudian berkata, “Meski kamu baik kepadaku, tapi aku tetap tidak akan merestuimu menjadi pacar omku.”
Mika menoleh Ariel sekilas, kemudian mencebik kesal. “Terserah apa maumu, yang jelas aku hanya ingin memperbaiki hubungan denganmu,” ucapnya sambil fokus ke jalanan.
Ariel terus memandang Mika yang sedang menyetir, dia tak serta merta percaya. Benarkah gadis itu sudah berubah.
***
Meta duduk sambil memegangi kening di ruang keluarga, sungguh kabar perselingkuhan Gagah yang beredar membuatnya sedikit tertekan. Meski dirinya sudah melakukan konferensi pers dan mengeluarkan pernyataan, tapi ternyata banyak pihak yang masih menghubunginya secara pribadi.
“Bu, ada tamu,” kata pembantu.
__ADS_1
Meta melepas tangan dari kening, menatap pembantu rumahnya yang berdiri di samping dengan tatapan iba.
“Siapa?” tanya Meta.
“Katanya pengacara,” jawab pembantu itu.
Meta pun menegakkan badan, kemudian berpikir pengacara mana yang datang ke rumahnya tiba-tiba. Dia pun memilih keluar untuk melihat pengacara yang disebut sang pembantu.
“Bu Meta, perkenalkan saya pengacara Pak Gagah, saya ke sini atas permintaan beliau.” Pengacara itu langsung memperkenalkan diri.
Meta mengerutkan dahi, untuk apa Gagah mengirim pengacara ke rumah di siang bolong seperti ini.
“Apa?” Meta begitu syok mendengar hal itu. “Apa dia bercanda? Di mana dia sekarang? Bagaimana bisa dia ingin bercerai di saat seperti ini?”
Tentu saja Meta tak terima, pemilihan tinggal hitungan jam. Dirinya sudah membela pria itu mati-matian di depan awak media, lalu bagaimana bisa Gagah malah ingin menceraikannya.
“Aku tidak terima! Aku akan mencari dan bicara dengannya!” Meta begitu murka, di langsung berdiri dan hendak pergi. Wanita itu berjalan ke arah pintu meninggalkan pengacara Gagah, tapi langkahnya terhenti saat melihat siapa yang datang.
__ADS_1
“Kebetulan kamu pulang, kita perlu bicara!” Meta bicara dengan nada suara tinggi.
“Aku tidak ada urusan denganmu, serta tak minat berdebat denganmu.” Gagah melangkah meninggalkan Meta begitu saja.
Meta melongo melihat sikap Gagah yang tak acuh, hingga menatap punggung Gagah yang sepertinya ingin menemui Azka.
Benar, ternyata Gagah datang hanya untuk bertemu putranya, bagaimanapun juga dia sadar harus bicara dengan putranya. Azka bisa jadi sudah melihat berita yang beredar.
Azka dan Gagah kini berada di belakang rumah, mereka duduk bersisian sambil memberi makan ikan di kolam.
“Pa, Papa dan Mama sedang bertengkar, ya?” tanya Azka yang tahu jika hubungan antara Gagah dan Meta tidak baik-baik saja.
“Aku di sekolah sering sekali diledek teman-teman,” ucap Azka lagi sambil menunduk menatap ikan yang sedang mengerubuti makanan yang baru dia lempar.
Gagah menoleh kemudian mengusap kepala putranya itu lembut. “Kamu tidak perlu berpikiran macam-macam, meski Papa dan mama bertengkar, kami tetap orangtuamu,” ucap Gagah mencoba melegakan hati Azka.
Anak itu kini menoleh Gagah dan membuat keduanya saling pandang. Azka mengangguk mengerti, tapi ekspresi wajahnya kembali sedih.
__ADS_1
“Ada apa?” tanya Gagah.
“Di sekolah, teman-teman bilang aku tidak mirip Papa padahal aku anak Papa. Kenapa mereka bilang seperti itu?”