
Ariel masih kebingungan juga penasaran kenapa Gagah meminta dirinya setuju dengan tawaran Rehan, sedangkan sebelumnya jelas-jelas pria itu menentang.
“Kenapa Mas Gagah tiba-tiba ingin aku menikah pura-pura dengan Mas Rehan?” tanya Ariel masih tidak mengerti.
“Riel dengarkan aku,” pinta Gagah dari seberang panggilan.
Gagah pun menceritakan tentang Robi, siapa pria itu dan apa yang menimpanya, hingga dia dan Roni merasa sangat ketakutan.
Ariel tentu sangat terkejut, sampai-sampai memegangi dadanya karena syok.
“Apa itu benar, Mas?” tanya Ariel yang belum percaya.
“Iya, siang hari dia menemuiku dan malamnya ditemukan tewas. Bahkan saat aku tanya langsung ke Meta, dia mengakui jika dialah yang menyuruh orang untuk membunuh karena telah berkhianat,” jawab Gagah.
Ariel semakin syok, tidak menyangka jika Meta bisa senekat itu sampai membunuh orang.
__ADS_1
“Riel, aku takut Meta bertindak di luar batas dan mencelakaimu karenaku. Untuk itu aku berpikir menghindarkanmu darinya dulu,” ujar Gagah dengan suara panik.
“Aku harus apa, Mas? Aku tidak mau jika sampai dia mencelakai calon anak kita?” tanya Ariel dengan satu tangan memeluk perut.
“Kamu hubungi Rehan, katakan kepadanya jika kamu setuju pura-pura menjadi istrinya,” jawab Gagah.
Ariel pun mengangguk dan berkata jika akan segera menghubungi Rehan, semua itu dia setujui demi keselamatannya dan calon bayi yang ada di kandungan.
***
Di sisi lain, Rehan ke rumah sakit untuk kembali memeriksakan kondisinya. Dia sebenarnya heran dengan penyakit yang diderita, selama ini Rehan selalu dalam kondisi sehat dan tak pernah sakit, hanya saja mudah lelah dan letih saat bekerja juga melakukan kegiatan apa pun. Hingga hasil pemeriksaan menunjukkan jika dia memiliki penyakit leukimia m
“Asal Anda minum obat serta melakukan tes dan pengobatan secara rutin, Anda pasti bisa hidup lebih lama,” jawab sang dokter yang tak ingin memberi kepastian kepada Rehan.
“Ini adalah hidupku. Kenapa Anda tidak jujur saja?Aku sudah siap dengan hal yang akan terjadi, jadi beritahu berapa lama waktu untukku bertahan hidup?” tanya Rehan sedikit mendesak dan menekan agar dokter itu jujur.
__ADS_1
Dokter sebenarnya tidak memiliki hak menentukan seberapa lama pasiennya bisa hidup dengan penyakit yang diderita. Mereka hanya bisa memprediksi tanpa sebuah kepastian, tapi karena Rehan terus mendesak, dokter pun akhirnya mencoba memperkirakan kemungkinan sisa hidup dari kondisi Rehan saat ini.
“Mungkin sekitar empat sampai lima bulan,” jawab dokter itu pada akhirnya.
Setelah bicara dengan dokter dan mendapatkan kepastian akan umurnya. Rehan berjalan di koridor untuk pergi dari rumah sakit dengan hati hancur.
Ponsel yang digenggamnya terus berdering, nama Arumi terpampang di sana tapi Rehan tak sedetik pun ada niat untuk menjawab. Hingga panggilan itu berhenti, dan berganti panggilan dari Ariel.
Rehan menatap ponsel, dia bergegas menjawab panggilan itu. “Halo, ada apa Riel?”
Rehan menghentikan langkah saat menjawab panggilan itu. Ia berharap Ariel akan membawa kabar yang memenangkan baginya.
“Mas, aku sudah bicara dengan Mas Gagah. Dia setuju aku menjadi istri pura-puramu dan menjalin pernikahan palsu,” jawab Ariel dari seberang panggilan.
“Hem ….” Rehan hanya bergumam. “Baik, aku akan urus semua,” imbuhnya.
__ADS_1
Rehan terlihat biasa saja karena semua keputusan tetap akan sangat menyakitkan untuknya. Baginya yang terpenting adalah perasaan Arumi, dia tak ingin Arumi menderita karena kehilangan saat begitu mencintai. Biar saja Arumi membencinya, agar kelak jika dirinya mati, tak membuat gadis itu menderita dan bersedih terlalu lama.
"Aku akan mengabarimu lagi."