Godaan Pelakor Belia

Godaan Pelakor Belia
Bab 27 : Racun


__ADS_3

“Apa-apaan? Kamu masih bisa bertanya apa? Kamu menyebarkan gosip kalau aku sugar baby, apa kamu pikir aku tidak tahu, Ha!” Ariel mendorong Mika sampai gadis itu terhuyung ke belakang,


Tidak ada satu pun mahasiswa yang membantu melerai, bahkan teman Mika takut karena Ariel nampak garang, mata gadis itu berkilat seolah bisa menebas leher siapa saja yang berani menentangnya. Terlebih mereka diam bukan semata-mata hanya karena rasa takut, beberapa dari mereka tahu bahwa apa yang diucapkan Ariel adalah fakta. Memang Mika lah yang menyebarkan gosip dengan mengirim foto Ariel berbelanja disertai kata-kata yang memprovokasi.


“Jangan hanya karena aku diam selama ini kamu pikir aku takut padamu,” ucap Ariel. Ia lempar botol minuman yang terbuat dari kaca di tangan dengan kasar hingga membentur paving dan pecah. “Aku bisa melakukan hal gila jika ada yang berani mengusik hidupku, ingat itu!” ancamnya sebelum pergi dari sana.


Saat berjalan menjauh dari tempat Mika, Ariel melihat Claudia berdiri sambil membetulkan letak kacamata. Ariel pun tersenyum sebelum mendekat kemudian mengajak sahabatnya itu pergi.


“Apa kamu benar-benar baru saja melawan Mika? aku tidak salah lihat 'kan?” tanya Claudia yang tak percaya.


“Jangankan Mika, mau orang terdekat walikota pun akan aku hajar jika berani mengusik kehidupan pribadiku,” jawab Ariel diikuti senyuman yang membuat Claudia merasa sedikit takut.


“Riel, kamu baik-baik saja ‘kan?”

__ADS_1


Karena pertanyaan sang sahabat, Ariel pun sadar bahwa Claudia sedang takut. Ia pun mengajak temannya itu duduk di kursi yang berada tak jauh dari tempat mereka berdiri. Ariel menggenggam tangan Claudia yang nampak gemetar.


“Kamu tahu kenapa kita bisa menjadi teman?”


Claudia menggeleng menjawab pertanyaan Ariel, dan lagi-lagi dia membenarkan letak kacamatanya yang agak merosot.


“Itu karena kita memiliki nasip yang sama di kampus ini, kamu dijauhi karena mereka menganggapmu culun dan kampungan, sedangkan aku dijauhi karena mereka menganggapku miskin dan juga sugar baby.” Ariel menjelaskan agar sahabatnya itu merasa tenang.


“Seperti yang pernah kamu bilang, tidak masalah karena kita kuliah di sini untuk menimba ilmu, tapi jika terus-terusan mendapat hinaan, aku yakin bukannya menimba ilmu kita hanya akan menimbun tekanan.”


“Kamu harus berani, jangan biarkan orang menginjakmu,” ucap Ariel. Dia memberi semangat agar Claudia tidak lagi mau dimanfaatkan oleh mahasiswa lain. Bagaimana pun juga Ariel tahu kalau banyak mahasiswa yang selalu meminta sahabatnya itu mengerjakan tugas mereka.


_

__ADS_1


_


Sementara itu di rumahnya, Gagah nampak sedang menutup pintu kamar Azka yang baru saja pulang dari rumah sakit. Ia membiarkan sang putra beristirahat setelah menemaninya beberapa menit. Saat hampir melangkah menuju lantai bawah, Gagah melihat Meta berjalan diikuti Roni. Keduanya masuk ke ruang baca.


Gagah curiga, Meta pasti akan memerintahkan sesuatu ke sopirnya itu. Namun, pikiran itu tak membuat Gagah takut, dia memulas smirk di wajah, karena yakin Roni pasti akan memberitahu jika Meta merencanakan sesuatu.


“A-a-apa Nyonya?” Roni tergagap karena Meta memberikan sebuah botol kecil berwarna cokelat padanya. “Bagaimana cara saya melakukannya?”


Roni gemetaran, dia tak menyangka Meta bisa berencana ingin membunuh Ariel dengan cara meracuni gadis itu.


“Kenapa? apa kamu tidak mau melakukannya? aku akan memberikanmu imbalan dua puluh juta, lakukan dan pikirkan caranya. Kamu bisa berpura-pura menjadi kurir makanan, Antarkan makanan yang sudah kamu tambahkan racun itu ke dia, bukankah itu ide yang bagus?”


Meta tertawa sinis, membuat Roni menelan saliva. Dia ingin sekali mencekik wanita - yang sampai bisa berpikiran kejam ingin melenyapkan nyawa orang lain ini.

__ADS_1


“Lakukan itu Ron, jika kamu masih ingin aku percaya kepadamu. Sejujurnya aku curiga kamu bersekongkol dengan suamiku untuk menutupi perselingkuhannya,” imbuh Meta.


__ADS_2