
“Ron jemput Ariel dari panti! aku akan menunggunya di apartemen.”
Gagah memberi perintah ke Roni setelah percakapannya dan Ariel selesai. Ia meminta asistennya itu pergi setelah mengantarnya ke apartemen. Gagah yakin pria yang mengawasi Ariel pasti sudah pergi dari sana.
Setibanya di apartemen, Gagah bergegas ke kamar untuk berganti baju. Ia tanpa sengaja melihat laci meja Ariel sedikit terbuka dan mendekat. Gagah berniat menutupnya rapat, tapi malah menemukan sebuah botol mencurigakan di sana.
“Apa ini?” gumam Gagah yang berpikir bahwa itu adalah vitamin milik Ariel.
Namun, Gagah seketika mengernyit melihat tulisan yang tertera di botol itu. Meski tak pernah melihat bagaimana bentuk pil penunda kehamilan tapi semua orang pasti tahu jika ada tulisan huruf K dan B.
“Ariel,” gumam Gagah, raut mukanya seketika berubah.
__ADS_1
_
_
Sekitar satu jam kemudian, pintu apartemen terdengar terbuka. Gagah yang duduk menonton televisi di ruang tengah pun langsung bangkit menyambut Ariel. Ia tersenyum manis tapi gadis itu membuang muka dan memilih masuk ke kamar.
Rasa rindu yang membuncah di dada Ariel membuatnya sangat kesal, dia bingung. Ariel tahu dia hanya istri siri dan kedua, tapi di lubuk hatinya gadis itu tidak ingin diabaikan. Ia sebenarnya sedang marah pada diri sendiri, hal yang biasanya hanya dimengerti oleh sesama perempuan.
“Mas Gagah kenapa ke sini? bagaimana kalau orang yang kemarin datang masih berada di sekitaran apartemen? pemilihan sebentar lagi dan aku tidak mau mengacaukan hidup Mas Gagah,” ucap Ariel dengan nada ketus, dia sudah hampir menangis karena kesal.
Gagah membuang napas kasar, dia dekati Ariel dan membalik paksa tubuh gadis itu agar mau menoleh ke arahnya. “Apa kamu marah? kenapa kamu marah? kamu tahu jika harus marah aku pun ingin marah, lihat apa yang aku temukan di lacimu tadi.”
__ADS_1
Gagah berjalan menuju nakas di mana dia meletakan botol obat yang ditemukannya. Ariel pun seketika terbeku, dia tidak menyangka bahwa Gagah akan menemukan obat yang diberikan Roni padanya beberapa bulan yang lalu itu.
“Kamu bilang ingin memiliki anak, tapi kamu meminum obat seperti ini,” ucap Gagah, kini dia menunjukkan rasa kecewa yang sejak tadi berusaha ditutupi.
“Iya aku meminumnya, tapi saat awal pernikahan siri kita,” ucap Ariel penuh penekanan. “Sudah lama aku tidak lagi mengonsumsi obat itu karena aku serius ingin memiliki anak dengan Mas Gagah.”
Ariel menyambar botol obat itu dari Gagah dengan kasar lalu berucap lagi, "Tapi sekarang sepertinya aku harus meminumnya lagi karena Mas Gagah memang tidak akan pernah aku miliki seutuhnya, aku tidak ingin anakku dicap sebagai anak haram, bagaimana dia hidup nanti? Memang lebih baik tidak perlu ada anak di antara aku dan mas Gagah, pelakor seperti aku memang tidak boleh berharap lebih.”
Ariel meluapkan semua emosinya seperti anak yang merajuk ke orang tua, air matanya sudah membanjiri pipi, sedangkan Gagah merasa sangat bersalah melihat gadis yang dicintainya sampai sesedih Ini.
Gagah merampas kembali botol obat dari tangan Ariel lalu melemparnya sembarangan, dia merengkuh tubuh gadis itu lantas memeluknya erat. Gagah mengucapkan kata maaf berulang-ulang di telinga Ariel, tapi bukannya tenang istri belianya itu malah semakin tergugu.
__ADS_1
“Maaf, maafkan aku! aku tahu kamu pasti sangat ketakutan karena ada orang asing yang datang. Aku salah! maafkan aku!”