
Siang itu Ariel diminta Roni datang ke sebuah alamat yang sudah dikirimkan. Pria itu berkata dia harus melihat rumah yang ingin dibeli Gagah untuknya. Namun, tak ada senyum bahagia di wajah gadis itu, Ariel melihat-lihat setiap ruangan yang ada di rumah itu dengan tatapan datar dan tak antusias. Hingga pria dan wanita yang merupakan sales dari perumahan yang Ariel datangi saling pandang. Keduanya yang sejak awal menemani gadis itu melihat-lihat merasa hanya buang-buang waktu, dugaan keduanya Ariel tidak menaruh minat dengan rumah itu.
“Aku suka, hari ini akan aku transfer uang tanda jadinya,” ucap Ariel yang lagi-lagi membuat kedua orang itu saling pandang.
Setelah benar-benar memberikan uang DP yang dia sebutkan, Ariel tidak kembali ke apartemen. Ia harus pergi ke kampus untuk mengerjakan tugas kelompok bersama temannya. Sepanjang perjalanan dia terus saja memikirkan Gagah, bukan tanpa alasan Ariel memutuskan membeli rumah yang dilihatnya tadi. Sudah beberapa hari ini Gagah tidak datang menemuinya dan dia benar-benar merasa rindu. Siapa tahu dengan rumah baru intensitas pertemuan mereka akan lebih sering. Sisi egois Ariel pun muncul, ingin rasanya dia merajuk dan meminta Gagah untuk datang malam nanti.
Sepanjang diskusi bersama kelompoknya Ariel nampak tidak fokus, hingga akhirnya dia mohon undur diri lebih dulu dan berkata sedang tidak enak badan, kebetulan Ariel satu kelompok dengan Claudia, sehingga sahabatnya itu bisa membantu menguatkan alasannya. Apa lagi Claudia sudah tahu kalau tugas itu ujung-ujungnya pasti dia yang akan mengerjakan.
_
_
Ariel pulang ke apartemen, dia berjalan pelan menuju lift dan kaget melihat pria yang wajahnya familiar masuk ke dalam lift yang sama dengannya, hal ini membuat kening Ariel terlipat halus.
__ADS_1
Pria itu tak lain adalah pria yang beberapa waktu lalu menekan bel dan membuatnya ketakutan.
Menyadari bahwa pria itu sepertinya tidak mengenalinya, Ariel memilih untuk tidak turun di lantai di mana apartemennya berada. Gadis itu buru-buru kembali ke lantai dasar, keluar dari halaman apartemen dan menghentikan sebuah taksi konvensional. Ariel memilih pergi ke panti asuhan menemui Abil.
Sepanjang perjalanan, Ariel sibuk berbalas pesan dengan Roni. Ia menceritakan apa yang baru saja dialami. Dan kesempatan itu dia pakai juga untuk bertanya tentang keberadaan Gagah sekarang.
Namun, belum juga Roni membalas pesannya, sebuah panggilan masuk dari orang yang seharian ini dia pikirkan.
“Apa kamu baik-baik saja? maaf aku belum bisa menemuimu karena pemberitaan sangat menyudutkan, aku takut …. “
“Mas tenang saja! aku tidak apa-apa,” potong Ariel cepat. Ia ingat dengan jelas gosip yang santer beredar pasal hubungan Gagah dan Meta. Meski pernah berkata bahwa Ariel adalah yang utama dan dia bisa melepaskan segalanya untuk gadis itu, tapi tetap saja kenyataannya hal itu tak semudah membalik telapan tangan. Gagah tak bisa serta merta melakukannya.
“Apa kamu marah?” tanya Gagah, suaranya terdengar cemas.
__ADS_1
“Tidak,” jawab Ariel singkat, nadanya sedikit ketus karena sebenarnya dia memang merasa kesal.
Gagah seolah tidak peduli dengan ketakutannya, tapi Ariel juga sadar sebagai seorang perebut laki orang dia tidak boleh ciut nyali, dia harus berani, menebalkan muka dan bersikap tak peduli.
“Kamu sekarang ada di mana? aku akan menyusulmu,” ucap Gagah.
Pertanyaannya membuat Ariel membeku karena bingung memutuskan. Jika dia menjawab, Gagah mungkin saja menyusulnya ke panti dan bisa jadi malah akan menimbulkan keributan, tapi jika memilih diam dia sendiri sudah teramat rindu ingin melihat wajah suaminya itu.
Ariel pun akhirnya memilih jalan tengah, dia jujur sedang menuju panti asuhan tapi melarang Gagah datang.
“Kenapa?” tanya pria itu terheran-heran.
“Karena aku tahu Mas sibuk, jadi tidak perlu memaksa bertemu.” Jawaban Ariel membuat Gagah semakin yakin bahwa istri belianya itu sedang marah.
__ADS_1