
Siang itu, Roni baru saja sampai di rumah Meta, dia langsung membersihkan mobil yang baru saja digunakan untuk mengantar-jemput Gagah sebelum pulang. Hingga tiba-tiba ada yang memukul bagian kap mobil, dan Roni pun terkejut sampai berjingkat.
“Bu Meta?” Roni memandang Meta yang berdiri di depan mobil.
“Mulai hari ini, aku memecatmu!” Meta menatap Roni dengan wajah garang.
Roni terperanjat mendengar ucapan Meta lalu bertanya, “Kenapa Bu?”
Meta menyeringai, kemudian mendekat ke arah Roni berdiri. “Kamu pikir aku tidak tahu apa yang sudah kamu lakukan? Kamu berani membohongiku, kamu tahu tentang perselingkuhan suamiku tapi selama ini malah memilih diam dariku. Kamu pikir aku ini bodoh dan tidak tahu apa-apa? Kamu salah!”
Roni menelan ludah, dia tidak bisa berkutik karena Meta sudah mengetahui apa yang disembunyikannya.
“Setelah selesai, segera pergi dari sini dan jangan kembali lagi!” Meta pun beranjak pergi setelah selesai mengusir Roni.
Roni menghela napas, entah kenapa dia merasa seperti sudah mempersiapkan diri jika hari ini tiba, dia tidak merasa kecewa, tapi untuk memohon pada Meta dia sedikit enggan.
***
Pagi itu, Ariel berangkat ke kampus seperti biasanya, dia mengikuti kuliah tanpa gangguan sama sekali. Hingga siangnya gadis itu tampak berjalan keluar dari gedung perkuliahan, hingga langkahnya terhenti karena ada yang menghadang.
Ariel menghela napas kasar, tampak malas saat melihat siapa yang kini ada di hadapannya.
__ADS_1
“Mau ke mana kamu?” tanya Mika.
“Pulanglah, memang apa urusanmu?” Ariel memutar bola mata.
Mika berdecak, dia tersenyum mencibir kemudian berkata, “Buru-buru pulang pasti mau ketemuan sama sugar daddy kamu, ya?”
Ariel menghela napas lagi, sungguh teman satu angakatanya ini seperti tidak ada habisnya menuduh dirinya yang bukan-bukan.
“Bukan urusanmu!” ketus Ariel, kemudian berjalan melewati Mika.
Mika memang tidak sekali dua kali membuat masalah dengan Ariel, bahkan terus memprovokasi teman sekelas mereka untuk membenci istri siri Gagah itu. Ariel sendiri masa bodoh dengan yang dilakukan Mika, selama dirinya masih merasa aman, maka dia tidak akan bertindak berlebihan.
***
Mika menghentikan mobil tidak jauh dari Ariel turun. Hingga melihat teman sekelasnya itu masuk ke rumah yang tampak mewah. Dia keluar dari mobil, kemudian mengambil foto Ariel yang sedang masuk ke rumah barunya, apalagi di sana ada mobil terparkir di depan halaman.
“Hah! Benar dugaanku kalau dia memang punya sugar daddy, sekarang dia tidak bisa mengelak lagi begitu aku memiliki cukup bukti untuk menjatuhkannya,” gumam Mika dengan wajah yang sangat senang.
Sementara itu, Roni baru saja tiba untuk menemui sang keponakan dan membahas masalah dirinya yang dipecat Meta, hingga dia melihat gerak-gerik Mika yang mencurigakan. Merasa jika Mika adalah sebuah ancaman, Roni pun langsung mendekat untuk menegur.
“Siapa kamu?” tanya Roni saat sampai di belakang Mika yang berdiri.
__ADS_1
Mika sangat terkejut hingga ponselnya hampir terlepas dari tangan, kemudian menoleh dan melihat Roni yang memasang wajah garang.
“Kenapa kamu mengambil foto sembarangan? Apa kamu mata-mata?” tanya Roni menyelidik.
“Bu-bukan,” jawab Mika sedikit takut. Namun, jantung gadis itu tiba-tiba berdebar cepat, bukan karena takut akan pertanyaan Roni, melainkan karena wajah pria itu.
“Lalu apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Roni kemudian.
Mika termangu tidak mendengar pertanyaan Roni, matanya masih menatap lekat wajah pria di hadapannya itu.
Roni menaikkan satu sudut alis, merasa heran dengan Mika yang malah melamun. Roni pun menjentikkan jari di depan Mika, membuat gadis itu akhirnya tersadar.
“Apa yang kamu lakukan di sini?” Roni mengulang pertanyaannya.
“Ah … itu. Emm … nyari rumah teman, ternyata salah blok,” jawab Mika sambil menyeringai.
Roni merasa aneh dengan jawaban gadis itu. “Ya sudah, sana pergi!” usir Roni. “Jangan seperti penguntit,” sindirnya kemudian.
Mika mengatupkan bibir, kemudian mengangguk dan langsung masuk mobil kemudian meninggalkan area itu.
“Dasar aneh-aneh!"
__ADS_1