Godaan Pelakor Belia

Godaan Pelakor Belia
Bab 89 : Alasan


__ADS_3

Gagah masih menatap curiga Rehan yang baginya sangat misterius, kemudian berdiri hingga membuat Roni terkejut.


“Pak Gagah mau apa?” tanya Roni takut jika Gagah emosi dan memukul Rehan.


“Mau ke kamar mandi, mau ikut?” Gagah bicara dengan nada suara kesal.


Roni pun menggelengkan kepala mendengar ucapan Gagah.


“Kamar mandi di sebelah dapur,” kata Rehan sambil menunjuk dapur.


Gagah tak menjawab dan hanya melirik sekilas Rehan, sebelum kemudian berjalan ke arah kamar mandi. Saat melewati dapur, Gagah melihat Ariel dan memilih menghampiri istri sirinya itu.


Ariel sendiri sedang membuat minum sambil melamun hingga sejak tadi tidak selesai-selesai, dia memikirkan langkah apa yang harus dia ambil, perasaannya kembali goyah saat melihat pria yang dicintainya.


Tanpa disadari saat Ariel masih larut dalam lamunan, Gagah sudah berada di belakangnya.


“Riel,” panggil Gagah.

__ADS_1


Ariel menoleh dan terkejut saat Gagah langsung menarik tangan.


“Ada apa, Mas?” tanya gadis itu kebingungan.


Gagah tidak menjawab, dia memilih menarik dan mengajak Ariel sedikit menjauh, tepatnya di koridor antara dapur menuju kamar mandi. Di sana Ariel langsung dipojokkannya ke tembok, Gagah membuat istri kecilnya itu terkejut, terlebih dia mengunci Ariel di sana agar tak bisa menghindar.


“Ada apa, Mas?”


Ariel mengulangi ucapannya karena bingung. Matanya menyisir kedua bola mata Gagah.


“Apa kamu menerima tawaran pria itu?” tanya Gagah. Dia tentu tidak akan rela jika Ariel bersedia menikah dengan Rehan, meski itu hanya pura-pura.


Bola mata Ariel tampak berkaca-kaca, sangat berat untuknya mengambil sebuah keputusan di saat seperti ini.


Gagah melihat Ariel hampir menangis, dia pun memilih menangkup pipi gadis itu, kemudian mendongakkan lembut sebelum akhirnya menyentuhkan bibir mereka. Gagah melumaat bibir Ariel bergantian dan gadis itu nampak menikmati.


Sementara itu di ruang tamu. Roni merasa canggung karena hanya berduaan bersama Rehan. Hingga akhirnya dia berdiri dan memilih pergi untuk menyusul Gagah ke kamar mandi. Namun, tak dia sangka saat hampir sampai di dapur, dia harus disuguhi pemandangan adegan dewasa. Bola mata Roni membulat lebar sebelum kemudian membalikkan badan dengan cepat.

__ADS_1


“Sial, kenapa aku harus melihat adegan itu,” umpat Roni dalam hati kemudian memilih pergi dan urung menyusul Gagah.


Gagah melepas tautan bibirnya dan Ariel, kemudian menatap gadis itu yang masih memejamkan mata. Dia masih menangkup kedua sisi wajah Ariel, menyentuh lembut dan memberikan tatapan hangat.


Ariel perlahan membuka mata, ditatapnya wajah Gagah lekat. Ia bersyukur ini bukan sebuah ilusi semata. Hatinya senang bercampur bimbang karena kehadiran Gagah di sana.


“Apa alasan pria itu ingin berpura-pura menikahimu?” tanya Gagah karena Rehan tidak mau memberitahu.


“Dia sedang sakit parah dan memiliki kekasih yang sangat mencintainya. Dia ingin aku berpura-pura menjadi istrinya, agar kekasihnya membenci dia. Dengan begitu semua akan jauh lebih mudah bagi kekasihnya melupakan cinta mereka. Dan untukku dengan menikah pura-pura, maka akan meredam gosip hubungan kita.” Ariel pun menceritakan semuanya kepada Gagah.


“Jadi ini seperti simbiosis mutualisme?” tanya Gagah.


Ariel mengangguk membenarkan. Tatapan matanya masih terlihat sedih.


“Kamu tidak boleh menerimanya, aku takut jika ada masalah baru yang harus kamu hadapi nantinya. Aku masih bisa melindungimu, jadi tetaplah bersamaku,” kata Gagah untuk mencegah Ariel menerima tawaran Rehan.


“Tapi Mas--”

__ADS_1


Ariel ingin mengemukakan pendapat tapi langsung terhenti. Gagah lebih dulu meletakkan telunjuk di permukaan bibirnya, memintanya untuk tidak membantah.


“Percayalah kepadaku, Riel! Aku pernah berjanji akan melindungimu, sekarang pun akan tetap sama, meski aku pernah lengah dengan mengabaikanmu hingga hampir membuat nyawa calon anak kita terancam, tapi tetap aku mohon! beri aku kesempatan,” pinta Gagah.


__ADS_2