Godaan Pelakor Belia

Godaan Pelakor Belia
Bab 66 : Mual


__ADS_3

Ariel menonton berita sendirian, tatapannya tertuju pada televisi berukuran lima puluh dua inci di ruang tengah apartemennya. Gadis itu menyimak tentang hasil perhitungan pemungutan suara, di mana Gagah masih diposisi pertama, Ariel bersyukur karena mencuatnya skandal perselingkuhan tidak membuat publik meragukan elektabilitas suaminya.


Ariel termenung, hingga tangannya tanpa sadar mengulur menyentuh bagian perutnya yang masih datar. Menjadi perebut laki orang dan ibu di usia sangat belia bukan menjadi cita-citanya. Terlebih, semua ini didasari sebuah keinginan balas dendam yang ternyata ada andil pihak ke tiga.Jika saja Ardi dan Puti jujur dan tak memakan haknya juga Abil, mungkin Ariel akan berpikir dua kali untuk membuat keputusan menjadi seorang palakor.


Namun, di setiap bab kehidupan, penyesalan memang selalu datang di bagian akhir, penyesalan hanya bisa dirasakan seseorang saat sudah menjalani sebuah pilihan.


Ariel gelisah, sejak keluar dari rumah sakit Gagah bahkan belum menghubunginya. Alih-alih berpikir mungkin pria itu sibuk dengan tim suksesnya, Ariel berpikir Gagah pasti sudah tahu fakta tentangnya dari Meta. Hingga, Ariel hanya bisa diam di apartemen. Para wartawan yang mengejarnya pun tak nampak lagi, mungkin mereka sudah tidak merasa perlu meminta klarifikasi dirinya.


“Haruskah aku mengirim pesan ke Mas Gagah?” gumam Ariel. Matanya tertuju pada ponsel yang tergeletak di atas meja. Cukup lama dia hanya berdiam diri tanpa melakukan sesuatu, sampai bel apartemennya berbunyi. Ariel berharap yang datang adalah Gagah, tapi dia sadar itu hanya angan semu saat mendapati Mika berdiri di hadapannya. Anehnya gadis yang terobsesi dengan omnya itu datang bersama Claudia.

__ADS_1


“Om Roni memintaku ke sini, aku membawakan buah, nasi ayam, pizza juga minuman soda,” cerocos Mika. Ia masuk ke dalam tanpa dipersilahkan. Menutup pintu dengan pantat dan memberikan bungkusan plastik di tangannya ke Ariel. Claudia sampai masuk cepat-cepat karena Mika mendorongnya.


“Bantu aku! kenapa mukamu kucel seperti itu,” cibir Mika.


Ariel terkejut dan hanya mengedip, hingga Claudia juga mengiyakan ucapan Mika. Namun, Ariel memilih tak peduli, dia mengalihkan pertanyaan dengan menatap sahabatnya curiga.


“Bagaimana bisa kamu datang bersama mahkluk ini?”


“Aku tadi sedang berada di perpustakaan, dan dia langsung menarikku ke sini,” kata Claudia.

__ADS_1


Mika tahu kalau Sahabat Ariel itu memang suka berangkat ke kampus meski tidak ada jadwal kuliah, Claudia akan mojok di perpustakaan untuk membaca buku sepanjang hari. Jadi dari pada sendirian ke apartemen Ariel, Mika memilih mencari Claudia, merampas buku dari tangan gadis itu lalu menariknya ke dalam mobil.


“Aku pikir kalian bermusuhan,” cicit Claudia.


“Tidak, aku akan menjadi bibinya,” ulang Mika lagi. Gadis itu melotot saat Ariel tiba-tiba saja mual.


Ariel meletakkan bungkusan yang diberikan Mika ke lantai lalu berlari. Ia menuju wastafel untuk mengeluarkan isi perut. Tak curiga, Mika malah meyangka Ariel mual gara-gara ucapannya barusan.


"Dia berpura-pura atau apa?" tanya Mika dengan wajah keheranan.

__ADS_1


"Entah! bukankah kamu bilang Om Ariel yang menyuruhmu? mungkin saja dia sedang sakit."


Jawaban Claudia membuat Mika mengangguk, dia buru-buru menyusul Ariel, berniat menunjukkan ke gadis itu bahwa dia pantas menjadi bibinya.


__ADS_2