
Rehan akhirnya pulang dan kini sudah sampai di rumah orangtuanya. Baru saja menginjakkan kaki di rumah, Rehan langsung dihadang oleh sang ibu—Rika.
“Kamu dari mana saja?” tanya Rika saat melihat putranya pulang.
“Jalan-jalan,” jawab Rehan santai sambil berjalan menyeret koper.
“Re, kenapa nomormu tidak bisa dihubungi beberapa hari ini? Kamu pergi ke mana?” tanya Rika memberondong Rehan dengan pertanyaan.
Rehan menghentikan langkah, kemudian menoleh ke Rika.
“Aku ada urusan pekerjaan di luar kota, Ma. Jarang pegang ponsel, dan tempatnya agak terpencil jadi susah sinyal,” jawab Rehan sekenanya.
“Tapi saat malam, istirahat atau mendapat sinyal, setidaknya kamu masih bisa ‘kan membalas pesan Mama?” tanya Rika yang masih tidak terima dengan alasan Rehan.
Rehan lagi-lagi menghela napas kasar, kemudian berkata, “Aku lelah, mau ke kamar dan istirahat dulu.”
Rehan berjalan meninggalkan ibunya, tapi Rika tentu saja masih tak puas dengan alasan putranya itu.
__ADS_1
“Kamu jangan seperti ini, Re. Kamu tidak tahu bagaimana Arumi kebingungan mencarimu? Apa kalian ada masalah?” tanya Rika sambil mengikuti langkah Rehan.
Rehan memilih tidak menjawab pertanyaan Rika, dia langsung masuk kamar meninggalkan sang ibu di luar. Rika sangat terkejut dengan sikap putranya, wanita itu hanya bisa memandang pintu yang kini sudah tertutup rapat.
“Ada apa dengan anak itu?” Rika bertanya-tanya sendiri.
Rehan langsung membongkar koper begitu berada di kamar. Mengeluarkan obat-obatan dan memasukkan ke laci meja sebelah ranjang. Teman-teman dan keluarganya hanya tahu jika dirinya sakit biasa karena terlalu sibuk bekerja, tapi siapa sangka jika sebenarnya dia mengidap leukimia.
Rika tentunya tak tinggal diam melihat putranya yang tak acuh dan sedikit berbeda. Dia lantas menghubungi Arumi—kekasih Rehan, agar datang ke rumah karena tahu jika gadis itu sudah kebingungan mencari keberadaan Rehan karena pergi tanpa kabar serta tak bisa dihubungi.
Di sebuah perusahaan. Arumi yang berprofesi sebagai desainer, langsung menghentikan aktivitasnya saat mendapat panggilan dari Rika.
“Rumi, Rehan baru saja pulang. Kamu datanglah kemari,” ucap Rika dari seberang panggilan.
Bola mata Arumi berkaca saat mendengar Rehan kembali. Dia langsung berdiri dan berkata jika akan datang sesegera mungkin.
***
__ADS_1
Arumi datang ke rumah Rehan, sesampainya di sana dia langsung disambut oleh Rika.
“Rehan ada di belakang,” kata Rika sambil menunjuk halaman belakang dengan dagu.
“Aku akan ke sana dulu, Ma,” balas Arumi yang tak sabar ingin segera bertemu Rehan.
Arumi mengangguk kemudian membiarkan Arumi bertemu putranya.
Begitu melihat Rehan yang sedang berdiri memandang halaman, Arumi pun memeluk pria itu dari belakang untuk mencurahkan rasa rindunya.
Rehan cukup terkejut karena kedatangan Arumi yang langsung memeluk. Namun, mencoba bersikap biasa, bahkan tak menoleh sama sekali ke kekasihnya itu.
“Re, kenapa kamu pergi tidak bilang-bilang? Belum lagi selama seminggu ini tidak bisa dihubungi. Apa aku ada salah?” tanya Arumi sambil melongok wajah Rehan.
Rehan mencoba mengatur emosinya, sebelum kemudian melepas kedua tangan Arumi yang memeluk dari belakang. Dia pun memutar badan hingga saling berhadapan dengan Arumi. Memandang sang kekasih dengan tatapan dingin yang menusuk.
“Tidak ada salah, aku hanya banyak pekerjaan dan urusan yang harus diselesaikan,” jawab Rehan dengan ekspresi wajah datar.
__ADS_1
Arumi melihat perbedaan dalam sikap dan cara kekasihnya itu menatap juga bicara, ada aura dingin yang begitu menusuk hingga jantung gadis itu.