
Dengan menggunakan taksi, Ariel datang ke rumah Puti. Ia berniat untuk melabrak tantenya itu karena sudah berani berbuat kasar ke adik kesayangannya. Ariel tak habis pikir, ada wanita sejahat Puti di dunia ini. Dirinya dan Abil sudah pindah lama dari rumah wanita itu, dia bahkan tidak merepotkan lagi keluarga Puti tapi kenapa diusik seperti ini.
Ariel memberikan selembar uang seratus ribuan ke sopir taksi, dia berjalan cepat karena kebetulan rumah Puti masuk ke dalam gang, panggilan sang sopir taksi yang ingin memberi uang kembalian pun diabaikan, amarah gadis itu sudah sampai di ubun kepala, dia tidak peduli dengan sapaan orang yang melihatnya datang. Ariel langsung masuk ke dalam rumah dan menyambar sebuah nampan yang terbuat dari bahan enamel di atas meja ruang tamu. Ia melemparnya kasar sampai bunyinya membuat siapa pun yang mendengar pasti terkaget-kaget.
“Apa itu?” Puti keluar dari dalam dengan raut wajah marah, wanita itu pun kaget mendapati Ariel yang sudah melotot garang ke arahnya. “Heh … kamu apa-apaan? Kamu yang lempar nampan itu, Ha?”
Ariel malah menyeringai, dia menoleh ke arah meja ruang tamu, tangannya meraih vas bunga dan langsung melemparnya ke arah lemari kaca yang berada di sebelah Puti. Terang saja kaca lemari dan vas itu pecah berkeping-keping. Puti sampai berteriak histeris ketakutan.
“Ada apa?”
Suami Puti yang tak lain adalah adik kedua ayah Ariel pun bergegas masuk ke dalam rumah. Mendapati sang keponakan yang berdiri dengan dada yang naik turun, pria itu pun tak berani untuk bertanya. Ia sadar Ariel sedang murka.
Ariel menarik taplak meja hingga beberapa barang di atasnya jatuh berserakan di lantai. Beberapa tetangga Puti pun sudah keluar dari rumah untuk melihat apa yang terjadi di sana.
“Ariel apa yang kamu lakukan?”
“Apa yang aku lakukan? kenapa tante mencubit Abil? Di mana otak tante, Ha?” bentak Ariel. Ia sama sekali tidak menunjukkan rasa hormat ke Puti.
__ADS_1
“Astaga apa anak itu mengadu? Aku tidak melakukan apa-apa,” elak Puti.
“Tidak melakukan apa-apa tante bilang? Apa tante pikir aku percaya, aku lebih percaya Abil dari pada mulut tante. Karena sejak kecil Abil dididik orangtuaku untuk tidak pernah berbohong,” amuk Ariel.
“Halah … didikan apa? didikan kok kamu jadi lontee.” Puti malah mencibir, wanita itu benar-benar tipikal emak-emak kampung yang menyebalkan, julidnya bukan main dan termasuk salah satu spesies emak-emak langka yang sebenarnya tidak perlu untuk dilestarikan.
“Apa tante bilang?”
Ariel tertawa ironi. Namun, Puti seharusnya bisa melihat perubahan yang ada pada diri sang keponakan, Ariel lebih berani, gadis itu melihat sebuah guci di pojok ruangan dan langsung mengangkatnya tinggi, dia melempar guci itu ke tembok hingga hancur berkeping-keping.
“Ariel!” teriak om dan tantenya tak percaya dengan apa yang baru saja dia lakukan. “Kamu sudah menghancurkan barang-barang di rumahku, apa kamu bisa ganti, Ha? dasar bocah tidak tahu diri!”
“Uang ‘kan? yang kamu butuhkan ini ‘kan? terserah apa yang mau kamu pikirkan tentang aku, yang pasti lihat saja nanti! aku akan membeli kesombonganmu dengan uang yang aku miliki,” ketus Ariel.
“Lihat saja besok, aku akan membawa pengacara dan polisi ke sini untuk menuntut kamu karena sudah melakukan tindak kekerasan ke anak di bawah umur,” imbuhnya.
Ariel berbalik hendak pergi, tapi Puti menarik rambutnya hingga kepala Ariel mendongak ke atas. Tak tinggal diam Ariel pun membalas dengan menggigit dan mencakar, hingga sang om memisahkan dan meminta gadis itu bergegas pergi dari sana.
__ADS_1
_
_
_
Setelah melabrak Puti, Ariel kembali pulang ke rumah. Ia tak banyak bicara ke Roni. Melihat kondisinya saat pulang, pria itu jelas sudah tahu apa yang baru saja terjadi.
“Riel, aku akan ajak Abil menginap di kosanku saja, sepertinya Gagah ingin datang ke sini dia baru saja mengirim pesan dan bertanya apa aku menemuimu, tapi dia sedikit ragu takut kamu menolaknya. Kalau kamu memang butuh dia, minta saja dia ke sini,” ucap Roni seolah tahu bahwa diam-diam di balik rencana jahatnya, Ariel sudah memendam perasaan ke Gagah.
Ariel hanya diam, melihat Abil yang sudah terlelap dia pun menggeleng. “Biar saja Abil tidur di sini Om, aku tidak ingin mengganggu mas Gagah yang sedang pusing dengan kondisi Azka.”
“Azka sudah boleh pulang besok.”
Informasi yang diberikan Roni membuat Ariel terdiam, dan pada akhirnya dia membiarkan pria itu membawa Abil pergi. Ariel pun duduk di tepian ranjang seorang diri. Ia raih ponselnya tapi ragu untuk menghubungi sang suami.
Namun, saat Ariel ingin meletakkan ponselnya kembali ke nakas, tiba-tiba saja sebuah pesan masuk ke sana.
__ADS_1
[ Apa kamu sudah tidur? ]