
Sebelum meninggalkan kota, Ariel mengambil uang cash dari tabungannya, bahkan menjual perhiasan kemudian mengajak Abil ke stasiun kereta. Ariel ingin mengajak adiknya ke sebuah tempat.
Tempat yang diketahui Ariel dari sebuah artikel yang pernah dia baca, sebuah yayasan yang mau menampung anak-anak seperti dirinya dan Abil.
“Kita benar akan pergi jauh?” tanya Abil memandang Ariel yang duduk di sampingnya.
“Ya, ini yang terbaik untuk kakak dan Abil,” jawab Ariel dengan senyum di wajah. “Yang terpenting kita bersama, ‘kan?”
Abil mengangguk, bagi bocah itu tak masalah ke mana pun mereka pergi asal bersama.
Mereka naik kereta untuk pergi ke Jogja, di sana ada sebuah yayasan yang mau menampung anak terlantar yang sudah tak memiliki orangtua dan tempat tinggal.
Ariel memandang sepanjang wilayah yang mereka lewati, membuang jauh perasaannya untuk bisa memulai kehidupan barunya bersama Abil.
***
Gagah berada di ruang kerjanya, dia mencoba menghubungi Ariel setelah merasa memiliki waktu untuk bicara dengan istri sirinya itu. Namun, sayangnya nomor Ariel tidak bisa dihubungi, dan membuat Gagah cemas.
“Apa terjadi sesuatu dengannya?” Gagah bertanya-tanya di dalam hati. Akhirnya dia menghubungi Roni untuk menanyakan keberadaan Ariel.
__ADS_1
Sementara itu, Roni sedang kebingungan karena Ariel tidak berada di kamar inap. Dia baru saja kembali setelah melabrak Ardi dan Puti, Roni sangat panik saat tak mendapati Ariel di kamar, serta perawat pun tidak tahu ke mana keponakannya itu.
“Halo.”
Roni buru-buru menjawab panggilan dari Gagah saat ponselnya berdering.
“Ron, di mana Ariel? Kenapa ponselnya tidak bisa dihubungi?” tanya Gagah dari seberang panggilan.
Roni semakin panik karena Gagah menanyakan keberadaan Ariel, hingga akhirnya bercerita akan kondisi gadis itu dan sekarang malah menghilang.
“Saya sekarang tidak tahu di mana Ariel, dia pergi dari rumah sakit,” kata Roni dengan suara penuh kepanikan.
Di ruang kerjanya, Gagah syok mendengar ucapan Roni, dia lantas meminta Roni untuk menjemputnya agar bisa mencari keberadaan Ariel.
“Memang Ariel kenapa? Dia tidak menghubungi kami,” kata Mika.
“Benar, terakhir aku bertemu dengannya dua hari lalu karena dia tidak masuk kuliah dan aku datang mengantar buku catatan,” timpal Claudia.
“Kalian yakin Ariel tidak datang atau menghubungi kalian?” tanya Roni memastikan.
__ADS_1
“Iya, untuk apa kami bohong,” jawab Mika yang ikut cemas, kalau sampai benar Ariel menghilang.
Gagah menyugar kasar rambut ke belakang, dia semakin panik karena Ariel menghilang begitu saja.
Roni juga tak kalah panik dan cemas, andai dirinya tidak pergi, mungkin saja Ariel takkan kabur. Apakah mungkin Ariel benar-benar ingin pergi dari kehidupan Gagah, Roni tak berani menyampaikan hal tentang Ariel yang ingin pergi dari hidup pria itu.
Saat Roni dan Gagah sedang panik, ponsel Roni berdering dan terpampang nama Niken di sana.
“Halo, Bu.” Roni pun menjawab panggilan Niken.
Gagah memandang Roni, memperhatikan sopirnya itu bicara dengan pemilik panti di mana Abil tinggal.
“Ron, apa Ariel bersamamu bersama Abil?” tanya Niken dari seberang panggilan.
Roni terkejut hingga bola matanya membulat mendengar Niken menyebut nama Abil.
“Tidak Bu, saya saja sedang mencari Ariel,” jawab Roni kemudian memandang Gagah yang tampak cemas.
“Aduh, apa Ariel membawa Abil? Semua barang Abil tidak ada di kamarnya,” kata Niken dari seberang panggilan.
__ADS_1
“Apa?” Roni berteriak karena terkejut.
Gagah mendengar apa yang dikatakan Niken, hingga menebak jika Ariel pasti sengaja pergi. Sementara itu, Roni semakin kebingungan. Ariel benar-benar berani melakukan apa yang dikatakan.