Godaan Pelakor Belia

Godaan Pelakor Belia
Bab 55 : Luka


__ADS_3

Meta sangat panik saat menyadari gunting yang dia pegang melukai tangan Gagah, darah terus menetes menandakan jika luka di tangan pria itu lumayan dalam.


Ariel langsung mengeluarkan tisu dari tas, kemudian menggunakan untuk menutup luka Gagah.


“Ya Tuhan, Mas. Sepertinya lumayan dalam.” Ariel begitu cemas dan ketakutan melihat Gagah berdarah.


Meta tertegun melihat pemandangan di depannya, seharusnya dia yang memberikan perhatian ke Gagah, bukannya Ariel. Gadis itu pun mengabaikan keberadaan Meta di sana, lantas mengajak Gagah masuk ke apartemen, meninggalkan Meta yang hanya bisa memandang, hingga akhirnya terpaksa pulang dengan rasa kecewa.


Begitu masuk apartemen, Ariel langsung menghubungi Roni untuk memanggilkan dokter.


“Halo, Om. Mas Gagah terluka, apa bisa panggilkan dokter untuk datang ke apartemen segera?” tanya Ariel dengan wajah ketakutan.


“Bagaimana bisa?” tanya Roni dari seberang panggilan dengan nada suara panik.


“Nanti aku jelaskan, sekarang tolong panggilkan dokter secepatnya,” pinta Ariel.


Setelah mendapat balasan dari Roni, Ariel pun bergegas membantu Gagah untuk menghentikan darah yang masih merembes di sapu tangan.


“Kita bersihkan dulu, Mas.” Ariel mengajak Gagah menuju wastafel untuk membersihkan luka dari darah.


“Aku tidak apa-apa, kamu jangan cemas begitu,” ucap Gagah saat melihat bagaimana takut dan cemas istri sirinya itu.


“Bagaimana aku tidak cemas, lukanya lumayan lebar dan dalam, Mas.” Ariel tetap memaksa membersihkan meski Gagah berkata baik-baik saja.


Ariel pun membersihkan luka Gagah menggunakan air, takut jika infeksi kalau tidak buru-buru ditangani. Gagah memandang gadis itu, dia merasa semakin sayang karena sang istri siri sangat perhatian.


Ariel sampai menangis melihat luka Gagah, karena melindunginya pria itu malah terluka. Gagah mengusap air mata di pipi Ariel dengan sebelah tangan, dia terus berkata jika dirinya baik-baik saja, tapi tetap tidak bisa membuat Ariel tenang.


Tak berselang lama, Roni datang bersama dokter. Ariel menceritakan semua, kemudian meminta Roni membersihkan tempat di mana mereka bertengkar tadi, termasuk menyingkirkan gunting yang ditinggal Meta begitu saja.

__ADS_1


“Tolong rahasiakan kondisiku,” pinta Gagah ke sang dokter yang memeriksanya.


Gagah mendapatkan tiga jahitan karena lukanya lumayan dalam, dan sekarang sudah tertutup rapat setelah ditangani dokter.


“Anda jangan cemas, saya akan merahasiakan ini,” balas sang dokter pribadi, yang memang sudah sangat dekat dengan keluarga Gagah.


Pria itu pun sedikit tenang, kemudian memandang Ariel yang baru saja keluar dari arah kamar. Sebelum berpamitan pulang, sang dokter sempat menyapa gadis itu.


“Bagaimana?” tanya Ariel mendekat ke Gagah yang duduk di sofa.


“Tidak apa-apa, beberapa hari lagi juga pasti akan sembuh,” jawab Gagah berbohong untuk melegakan hati sang istri.


Ariel duduk di tepian ranjang, kemudian memegang tangan yang teluka. Ditatapnya luka yang sudah berbalut perban, air mata kembali luruh saat ingat bagaimana Gagah membela dirinya.


“Maaf ya, Mas. Karenaku Mas jadi terluka,” ucap Ariel menyesal.


“Kamu jangan bilang begitu, bukankah aku sudah bilang jika akan melindungimu,” balas Gagah sambil mengusap air mata di pipi Ariel menggunakan tangan satunya.


Pria itu pun mengulas senyum, lantas mengusap lembut kepala Ariel. “Sudah tidak apa-apa, lagi pula ini juga tidak terlalu fatal, kamu jangan sedih.”


Gagah mencoba menenangkan hati Ariel, istrinya itu sendiri mengangguk meski masih terlihat jelas jika merasa bersalah.


Ariel pun meminta Gagah untuk istirahat, sementara itu dia menemui Roni yang sudah membersihkan tempat kejadian tadi.


“Sudah selesai, Om?” tanya Ariel.


“Sudah semua, aku pastikan jika tidak akan ada yang tahu,” jawab Roni.


Ariel mengangguk, setidaknya sedikit lega karena masalah tadi tidak ada yang tahu.

__ADS_1


“Aku pulang dulu.” Pamit Roni karena pekerjaannya sudah selesai.


Ariel mengantar Roni sampai depan pintu, hingga Roni kembali membalikkan badan dan memandang Ariel.


“Ada apa?” tanya Ariel karena Roni tak langsung pergi.


“Kamu ingat Mika?”


“Tentu saja lah Om, aku bertemu dia hampir setiap hari. Apa dia mengganggu Om lagi?” tanya Ariel tak senang.


“Ah … itu, dia memintaku menjadi pacarnya,” jawab Roni jujur apa adanya.


“Apa?” Ariel sangat terkejut, hingga menggelengkan kepala tanda tak setuju. “Tidak bisa, aku tidak setuju!”


Roni bingung menjelaskan, padahal semua itu juga demi Ariel dan Gagah.


“Tapi aku sudah mengatakan setuju,” ujar Roni.


Ariel terkejut dengan mulut menganga, sebelum kemudian menepuk jidatnya sendiri. Sungguh dia tak mengerti kenapa Roni malah mau menjadi pacar Mika.


***


Ariel kembali ke kamar setelah mengantar Roni, hingga melihat Gagah yang ternyata belum tidur.


“Kenapa tidak tidur, Mas?” tanya Ariel. Menghampiri Gagah dan ikut duduk di ranjang.


“Ada hal yang ingin aku katakan kepadamu,” jawab pria itu.


“Apa?” tanya Ariel dengan dahi berkerut.

__ADS_1


“Aku sudah menjatuhkan talak ke Meta, dan aku sudah yakin untuk berpisah darinya.”


Ariel terperangah mendengar ucapan Gagah, jika pria itu benar-benar akan bercerai bagaimana dengan membuat Meta hancur? menurut Ariel itu belum seberapa. Haruskah dia bersedih atau berbahagia?


__ADS_2