
Ariel galau, dia sudah mendengar rencana Gagah pasal pernikahannya dengan Meta dari Roni. Namun, dia belum berani bertanya. Sekadar mengirim pesan saja Ariel tidak berani. Ia berpikir bahwa Gagah butuh waktu untuk sendiri, hingga malam itu dia memilih untuk berkutat dengan laptop dan tugas kuliahnya di apartemen yang tiba-tiba terasa sunyi. Ia terus saja menggerakkan jemari di atas keyboard untuk menyelesaikan tugas, sebelum suara ponsel membuatnya menoleh. Ariel pikir Gagah mengirimkan pesan, tapi ternyata sang sepupu – Sania.
[ Riel, apa kamu bisa meminjamiku uang? Kata Mama kamu sekarang kaya karena jadi ayam kampus ]
Pesan yang sangat menjengkelkan itu jelas membuat Ariel malas, gadis itu memutar bola mata lalu menghapus pesan itu dari riwayat pesan di ponselnya, tapi baru saja ingin meletakkan benda pipih miliknya itu, sebuah pesan masuk kembali dari orang yang sama.
[ Sombong sekali, hanya dibaca tidak dibalas. Kalau kamu tidak mau meminjamiku uang, sudah kenalkan saja aku ke om-om kaya kenalanmu ]
Ariel tersenyum miris, Sania benar-benar membuat suasana hatinya berubah. Ariel akhirnya memilih menjauhkan laptop untuk membalas pesan sepupunya itu.
[ Om-om juga pilih-pilih, mana mau dia dengan gadis sepertimu]
__ADS_1
Balasan Ariel menghujam tepat di jantung Sania. Gadis itu sedang berada di sebuah kafe bersama teman-temannya. Sania dengan sombongnya berkata ingin mentraktir semua temannya, tapi sayang dia tidak memiliki cukup uang.
“Sialan! untuk apa memiliki sepupu yang katanya sekarang kaya tapi tidak berguna,” gumam Sania.
Sementara itu, Ariel merasa sangat geram. Tak anak tak ibunya sama-sama senang membuat dirinya kesal. Padahal dia sudah tidak ingin berhubungan lagi dengan mereka. Namun, tetap saja dia diusik. Ariel selalu memblokir nomor Sania tapi gadis itu selalu memiliki cara untuk mengganggu.
Ariel melempar ponselnya ke ranjang, dia berdiri hendak berjalan menuju dapur untuk membuat makanan, tapi langkah kakinya tertahan mendengar suara bel apartemen berbunyi.
Kening Ariel mengernyit, dia tak langsung membuka pintu dan memilih untuk mengintipnya lebih dulu. Gadis itu kaget melihat seorang pria tak dikenal berdiri di sana. Seketika nalurinya berkata dia harus berjaga-jaga. Dia pun memasang grendel pintu lalu bergegas masuk ke dalam kamar. Ariel menyambar ponsel lagi untuk menghubungi Roni, beruntung panggilan itu segera diangkat.
“Om, ada pria tak dikenal di depan apartemenku, dia bahkan menekan bel,” ucap Ariel ketakutan.
__ADS_1
Roni yang sedang bersantai selonjoran di sofa terlihat menegakkan punggung. Ia kaget sekaligus cemas mendengar cerita sang keponakan.
“Tenang, yang penting jangan keluar. Tetap di dalam! kalau pria itu orang suruhan Meta, bisa bahaya kalau tiba-tiba aku ke sana.”
Ariel duduk di tepian ranjang dan menggigit bibir bawahnya, dia mulai sadar jika terus tinggal di sana memang sudah tidak aman. Ariel berpikir jika yang datang adalah Meta, dia pasti akan lebih berani membuka pintu dan menghadapi, tapi ini seorang pria dan dia merasa harus ekstra waspada.
Setelah menelepon Roni, Ariel pun keluar lagi untuk mengecek. Ia masih mendengar bunyi bel dan kembali mengintip. “Astaga siapa pria ini, kenapa dia kekeh sekali dan tak mau pergi?”
Ariel galau sendiri, dia memilih duduk di sofa sambil terus menatap ke arah pintu hingga suasana kembali sunyi. Dia yakin orang itu pasti sudah pergi dari sana.
“Apa Anda yakin kalau ada orang yang tinggal di apartemen itu?” tanya pria yang mengetuk pintu unit Ariel tadi.
__ADS_1
“Aku yakin, hari itu orang suruhanku membuntuti Meta Pradana ke sana. Wanita itu keluar dengan amarah di wajah, aku yakin Gagah Wiryawan pasti punya simpanan.”