
Berniat melakukan klarifikasi tapi ternyata Gagah kalah cepat. Meta ternyata sudah melakukan klarifikasi di depan awak media terlebih dahulu.
Gagah, Ariel, dan Wiryawan terkejut saat melihat siaran berita di televisi. Hampir semua saluran sedang menampilkan tayangan live klarifikasi dari Meta tentang perselingkuhan Gagah.
Meta memanggil awak media ke rumah, kemudian melakukan konferensi pers untuk menutupi rumor karena pemilihan wali kota tinggal tiga hari lagi.
“Apa Anda yakin jika itu hanya gosip?” tanya seorang awak media.
“Ya, karena aku tahu betul bagaimana suamiku,” jawab Meta dengan seulas senyum, tidak menunjukkan jika sedang syok atau sedih. Dia ingin memperlihatkan ke Gagah jika dirinya perhatian dan peduli kepada suaminya itu.
“Lalu, bagaimana dengan kabar perselingkuhan itu?” tanya wartawan lain.
Meta tersenyum kemudian menjawab, “Suamiku itu salah satu calon walikota. Pastinya ada yang suka dan tidak suka dengannya. Namun, aku tegaskan sekali lagi soal ini. Rumor yang beredar tidaklah benar, mereka yang menyebar rumor itu hanya ingin membuat nama baik mas Gagah menjadi buruk, agar orang-orang membenci lantas tidak memilihnya. Sudah jelas jika ini hanya sebuah permainan, serta menurutku ini sangat licik.”
Meta bicara dengan begitu tegas tanpa keraguan. Membuat awak media percaya dengan pengakuan wanita itu.
Gagah mengepalkan telapak tangan melihat siaran klarifikasi yang dilakukan Meta, mencoba mencari tahu apa sebenarnya yang diinginkan wanita itu. Dia sedang memikirkan bagaimana caranya mengklarifikasi masalah ini, tapi ternyata Meta malah sudah selesai melakukan wawancara.
Ariel menoleh Gagah, dia melihat jelas kekesalan di wajah suaminya itu.
__ADS_1
“Istrimu bergerak cepat menyangkal semuanya,” kata Wiryawan memandang sang putra.
Gagah tersenyum masam kemudian membalas, “Meski dia bersikap seperti itu, dan seolah-olah sedang membelaku, tapi aku tetap akan menceraikannya. Aku tidak mau seumur hidup menjadi kuda tunggangan untuk memenuhi ambisi orang-orang itu.”
“Maaf karena telah mendorongmu untuk menikah dengan Meta, seharusnya dulu aku tidak melakukan itu,” ucap Wiryawan penuh penyesalan karena tahu jika hidup Gagah tidak bahagia bersama Meta.
***
Setelah selesai berbicara dengan Wiryawan, Gagah pun mengajak Ariel pulang.
“Mas, lebih baik aku naik taksi saja,” kata Ariel saat keduanya baru saja keluar dari rumah Wiryawan.
“Untuk berjaga-jaga aja, Mas. Mbak Meta sudah klarifikasi seperti itu, kemungkinan awak media masih memburu berita tentang kita. Alangkah baiknya jika kita tidak terlihat bersama terlebih dahulu,” jawab Ariel menjelaskan.
Gagah tak setuju dengan ide Ariel, pria itu malah cemas jika sang istri belia pergi sendiri. Namun, Ariel terus meyakinkan jika ini demi kebaikannya dan Gagah, dia tidak ingin masalah ini semakin kisruh. Akhirnya Gagah pun mengizinkan meski dengan perasaan was-was.
Ariel naik taksi hanya sampai di depan gerbang pintu masuk apartemen, dia lantas berjalan menuju gedung. Hingga langkah kakinya terhenti saat banyak kerumunan awak media di depan lobi apartemen, mereka sepertinya sudah mendapatkan informasi tentang Ariel.
“Eh … bukankah itu gadis yang dimaksud?” Seorang wartawan melihat dan menunjuk ke arah Ariel.
__ADS_1
Ariel pun nampak panik saat ditunjuk, terlebih ketika semua awak media itu memandang ke arahnya.
“Benar, itu dia!”
Ariel semakin panik saat melihat awak media berlari ke arahnya, hingga dia tersentak saat ada yang menarik tangan dan mengajaknya berlari pergi.
“Kamu ini bodoh atau bagaimana? kenapa bengong dan malah tidak lari?” Mika mengumpat karena Ariel sejak tadi diam saat melihat wartawan.
Ariel terkejut melihat Mika menarik tangannya, gadis itu lantas mengajaknya berlari menjauh dari kejaran wartawan.
“Kenapa memakai high heel?lepas saja, kamu tidak akan berlari cepat dengan sepatu itu. Memangnya kamu mau tertangkap wartawan, hah!” Mika bicara sambil mengajak Ariel berlari.
“Tenang saja, aku tetap bisa berlari meski pakai high heels,” ujar Ariel menyombongkan diri.
Mika menoleh dengan senyum kecil. “Dasar sombong.”
Ariel malah tertawa mendengar cibiran Mika, keduanya berlari sekuat tenaga untuk menghindar dari kejaran wartawan.
"Bodoh, aku 'kan bawa mobil," ujar Mika sambil menjitak kepalanya sendiri.
__ADS_1