
Sore harinya, Gagah dan Meta sudah pulang setelah menghadiri jamuan dengan banyak petinggi di pemerintahan. Pria itu langsung melepas jas dan dasi untuk segera berganti pakaian.
“Mau ke mana kamu? Kenapa terburu-buru?” tanya Meta memperhatikan Gagah yang sedang melepas pakaian.
“Bukan urusanmu aku mau apa dan ke mana,” jawab Gagah dengan nada ketus.
Meta tak percaya jika Gagah akan bersikap kasar, sedangkan tadi mereka baru saja menunjukkan hubungan yang sangat baik di depan banyak orang.
Gagah menoleh Meta, menatap istrinya itu dengan wajah tak senang.
“Meski tadi aku bersikap baik kepadamu, jangan pikir jika aku akan selamanya seperti itu. Aku akan tetap pada pendirianku, keputusanku untuk menceraikanmu tak bisa diganggu gugat,” ujar Gagah memperingatkan.
Meta terkejut mendengar ucapan Gagah, hingga tersenyum miring dan kembali menjelekkan Ariel.
“Apa kamu tetap mempertahankan wanita itu? Wanita yang hanya memanfaatkanmu saja?”
“Bukankah kamu juga sama? Kamu juga hanya memanfaatkanku, Ariel beda tidak seperti dirimu!” hardik Gagah, kemudian memilih meninggalkan Meta.
__ADS_1
Meta terkejut, dia tak bisa menjawab dan hanya nampak mulutnya saja yang menganga, dia tak habis pikir kenapa Gagah masih saja membela Ariel meski tahu kalau gadis itu hanya memanfaatkannya sebagai alat balas dendam.
***
Roni pergi ke rumah kakaknya setelah menemani Ariel di rumah sakit, hal ini Roni lakukan karena sang keponakan berpikir untuk pergi. Dia geram dan menyalahkan semuanya ke Ardi dan Puti, Roni ingin melabrak karena merasa dua orang itu akar masalah yang terjadi.
“Kalian ini benar-benar keterlaluan dan keji, bisa-bisanya memakan hak anak yatim. Sekarang aku ingin kalian mengembalikan uang yang diberikan Bu Meta!” bentak Roni begitu bertemu kakak dan iparnya.
“Enak saja, uang sudah diberi kok diminta,” balas Puti. Wanita itu tentu saja tidak akan mau mengembalikan uang.
Ardi dan Puti begitu terkejut mendengar ancaman Roni, tapi keduanya juga bersikap tak takut agar Roni tak macam-macam.
“Tuntut saja! Kami tidak takut!” tantang Ardi.
Roni menunjuk wajah sang kakak geram, sebelum kemudian memilih meninggalkan keduanya.
***
__ADS_1
Sementara itu, Ariel diam-diam pergi dari rumah sakit setelah Roni pergi. Dia mendatangi panti asuhan untuk menemui Abil, kebetulan Niken tidak berada di panti.
“Kenapa Kakak mengemasi barangku?” tanya Abil bingung.
“Kakak akan mengajakmu pergi jauh,” jawab Ariel sambil terus memasukkan barang Abil ke dalam koper.
“Kenapa?” tanya Abil lagi karena tak tahu apa-apa.
Ariel berhenti mengemas, kemudian memandang sang adik yang kebingungan. Disentuhnya kedua pipi Abil, lantas tersenyum hangat ke bocah itu.
“Tidak kenapa-kenapa, Kakak hanya ingin memberikan kehidupan yang jauh lebih baik dari sekarang. Kita akan hidup bersama, tak ada yang bisa memisahkan kita. Kakak akan selalu menjagamu dan memberikan kehidupan yang layak untukmu. Kamu percaya Kakak, ‘kan?” Ariel bicara dengan suara lembut, tatapannya begitu teduh meski sedang memendam pilu.
Abil mengangguk-angguk paham, baginya bersama Ariel adalah yang utama apa pun alasannya mereka pergi. Akhirnya Abil pun membantu mengemas barang, lantas pergi bersama Ariel dari panti tanpa berpamitan ke Niken.
“Ini adalah jalan terbaik yang harus aku ambil. Maaf Mas, karena aku tidak bisa bertahan karena rasa bersalah telah menyakiti hatimu. Semoga setelah ini kamu bisa hidup dengan bahagia bersama keluargamu. Maaf telah menjadi orang ketiga di rumah tanggamu.”
Ariel bicara dalam hati, memejamkan mata untuk membuang jauh perasaannya terhadap Gagah, perasaan yang seharusnya tidak tumbuh di hatinya.
__ADS_1