
Atas perintah Ariel kemarin, Roni benar-benar mengambil foto saat Gagah ke apartemen. Setelah memastikan pria itu masuk, dia pulang dan melaporkannya kepada Meta sesuai dengan instruksi sang keponakan.
"Apa yang dia lakukan di sana?" tanya Meta dengan suara meninggi, setelah melihat foto punggung Gagah yang diberikan Roni.
"Saya tidak tahu, Nyonya. Hanya saja saya diminta mengantar lalu pergi setelahnya," jawab Roni yang tentu saja berbohong. "Saya hanya berpikir jika perlu menyampaikan ini kepada Anda, untuk itulah saya mengambil foto itu," imbuh Roni memanas-manasi.
Meta terlihat begitu geram, hingga meminta Roni untuk pergi meninggalkannya sendiri.
Roni mengangguk paham, dalam hati dia tertawa melihat Meta yang begitu murka. Wajahnya masam dengan mata yang mengobarkan amarah begitu besar.
Begitu Roni pergi, Meta langsung masuk ke kamar. Dia membanting vas, melempar apa pun yang bisa diraih tangannya, menghancurkan seisi kamar hingga kini tak lagi tampak seperti sebuah kamar yang nyaman.
"Gagah sialan! Kamu berani bermain api di belakangku, hah!"
Meta berteriak kencang, suaranya menggelegar hingga orang yang berada di luar kamarnya bisa mendengar. Meta terduduk lunglai di lantai, mengusap wajah dengan kasar, sebelum kembali menunjukkan tatapan penuh amarah.
"Apakah karena ini? Karena ini kamu menghindar dariku dan seolah tak mau menyentuhku?"
Meta tersenyum miris, apalagi ketika mengingat semalam Gagah seolah menghindar dan sengaja kembali ke kamar ketika malam sudah sangat larut, sedangkan dirinya sudah memberi kode jika ingin berduaan dengan pria itu. Kini kecurigaan Meta akan perselingkuhan sang suami pun kembali muncul, tentu saja berkat Ariel yang memang sengaja ingin membuat jurang perselisihan dan pertengkaran antara Gagah dan wanita itu, sehingga akan dengan mudah menghancurkan Meta.
***
Saat sore hari, Gagah pulang ke rumah seperti biasa. Roni tentu diam soal Meta yang siang tadi mengamuk, karena tentu ini bagian dari rencana.
Begitu membuka pintu kamar, Gagah terkejut melihat kamar yang seperti kapal pecah. Serpihan porselen dan kaca memenuhi lantai, bingkai foto dan lukisan kini sudah tak di tempatnya. Sampai dia melihat Meta yang duduk di tepian ranjang dan menatap dirinya yang baru datang.
"Ada apa ini?" tanya Gagah kebingungan.
"Kamu yang ada apa, hah?" Meta bicara dengan keras, membentak Gagah dengan amarah yang menggebu.
"Ada apalagi? Aku baru pulang dan kamu sudah menyuguhkan pemandangan tak menyenangkan seperti ini!" Gagah bicara sambil menunjuk ke lantai. Dia masih berada di depan pintu karena ingin masuk pun lantai dipenuhi kaca dan porselen yang pecah.
Meta tertawa mendengar Gagah bicara, lantas turun dari ranjang, berjalan menginjak serpihan kaca dan yang lainnya dengan sandal rumah hingga menciptakan suara yang terasa ngilu di telinga.
__ADS_1
"Kamu dari mana siang tadi, hah?" tanya Meta dengan nada suara membentak.
Gagah terkejut mendengar pertanyaan Meta, tapi tentunya tetap mencoba bersikap tenang.
"Memangnya aku ke mana lagi, kalau tidak bekerja dan menemui kolega," jawab Gagah malas. Dia sebenarnya sudah muak dengan Meta karena setiap pulang selalu disuguhi kemarahan, tidak ada sedetik pun ketenangan yang didapat saat kembali ke rumah itu.
Meta tertawa keras mendengar jawaban Gagah, seolah mengejek kebohongan sang suami yang sudah diketahuinya.
"Bohong!" Meta kembali membentak setelah menghentikan tawa. "Kamu bilang bekerja, sedangkan yang sebenarnya kamu menemui selingkuhanmu, 'kan!" tuduh Meta pada akhirnya.
Gagah membulatkan bola mata, menatap Meta yang terbakar amarah.
"Kamu mengaku sibuk, sedangkan kenyataannya kamu bermain api di belakangku! Sampai pada akhirnya kamu mengabaikan aku dan Azka!" teriakan Meta menjadi-jadi.
Gagah geram karena Meta terus membentak dirinya, kini malah membawa-bawa Azka dalam pertengkaran itu.
"Lalu bagaimana denganmu, hah? Apa kamu pikir sudah menjadi istri yang baik? Apa kamu pikir juga sudah menjadi ibu yang baik? Apa kamu pernah berkaca, jika kamu pun selama ini tidak pernah peduli kepada putra kita!" bentak Gagah membalas amukan Meta.
"Apa sebenarnya yang kamu lakukan di apartemen itu?" tanya Meta yang kembali ke pembahasan awal kecurigaannya.
Gagah terdiam, tentu saja dia tidak akan mengatakan yang sejujurnya.
"Kamu hanya mengada-ada untuk membuat masalah denganku. Jika aku pergi ke panti jompo sekalipun, kamu juga takkan percaya kalau aku menjelaskan jika hanya berkunjung!" Gagah mencoba memutar jawaban yang diinginkan Meta. Belum saatnya dia menceritakan soal Ariel.
Meta geram mendengar jawaban Gagah, kedua telapak tangan yang berada di samping tubuhnya mengepal erat, hingga membuat kuku-kuku jarinya memucat.
"Oke! Karena kamu tidak mau jujur, maka aku akan mencari tahu sendiri!" bentak Meta sebelum kemudian berjalan melewati Gagah, lantas keluar dari kamar.
Gagah menghela napas berat, sungguh menghadapi Meta harus dengan kesabaran penuh agar tak terpancing amarah yang akan membuatnya membongkar segalanya.
***
Sementara itu, Roni sedang bersantai di rumah karena telah selesai melakukan pekerjaannya, tapi tiba-tiba saja dia mendapatkan panggilan dari Meta, dan hal ini membuatnya kalang kabut.
__ADS_1
"Halo," ucap Roni saat panggilan itu tersambung.
"Ron! Beri aku alamat apartemen itu!"
Suara memerintah dari seberang panggilan menggelegar di telinga Roni. Pria itu sampai menjauhkan ponsel dari telinga, dia menelan ludah karena terkejut mendengar perintah dari Meta.
"Gawat, bagaimana ini?" Roni bergumam dalam hati karen bingung.
"Saya agak lupa nama apartemennya, Nyonya," jawab Roni asal, yang penting selamat dulu.
"Ingat-ingat dengan baik, kemudian segera beritahu aku jika sudah mengingatnya!" perintah Meta lagi dengan suara meledak sebelum mengakhiri panggilan.
Roni menggosok telinga, sungguh wanita itu memang angkuh dan sangat sombong. Dia lantas mencoba menghubungi Ariel, karena tidak mau melakukan tindakan sebelum meminta persetujuan gadis itu.
Tak butuh waktu lama, Ariel langsung menjawab panggilannya.
"Ada apa, Om?" tanya Ariel dari seberang panggilan.
"Riel, Meta meneleponku, karena foto yang aku perlihatkan padanya, dia ingin tahu alamat apartemen Pak Gagah pergi, apartemenmu," jawab Roni sedikit takut dan panik.
Terdengar hening dari seberang panggilan, hingga kemudian suara Ariel kembali terdengar.
"Berikan saja alamatnya!" titah gadis itu.
Terang saja Roni seketika membulatkan bola matanya lebar, apa keponakannya sudah gila sampai ingin memberikan alamat apartemennya.
"Kamu yakin?" tanya Roni memastikan.
"Ya, berikan saja apa yang dia mau," jawab Ariel. "Aku ingin tahu dan lihat, apa yang ingin dilakukannya."
Roni pun paham, lantas mengakhiri panggilan itu. Dia akhirnya mengirim pesan kepada Meta, berpura-pura ingat alamat apartemen tempat Gagah pergi siang tadi.
"Semoga Ariel bisa mengatasi ini," gumamnya setelah selesai mengirim pesan kepada Meta
__ADS_1