Godaan Pelakor Belia

Godaan Pelakor Belia
Bab 92 : Sudah Gila


__ADS_3

Setelah pulang dari Jogja, Gagah langsung menghubungi orang kepercayaan Meta dan mengajaknya bertemu. Pria bernama Robi itu, meminta Gagah datang ke bangunan bekas pabrik yang sudah tidak terpakai.


Robi melihat mobil Gagah memasuki gerbang yang sudah usang dan rusak, kemudian melambai meminta agar mobil Gagah dibawa masuk ke bangunan agar tak ada yang melihat.


“Ini foto-foto yang saya punya,” kata Robi sambil memberikan amplop coklat ke Gagah. “Sisanya sudah dimiliki oleh Bu Meta,” imbuhnya kemudian.


Gagah pun mengambil amplop itu, lantas melihat foto-foto antara dirinya dan Ariel di sana. Gagah kemudian memberikannya ke Roni, hingga kemudian Roni langsung membakar foto-foto itu.


Robi memperhatikan amplop itu terbakar beserta isinya, sebelum kemudian memandang Gagah yang berdiri berhadapan dengannya.


“Apa tujuanmu memberitahuku tentang foto-foto itu dan rencana Meta?” tanya Gagah.


“Saya takut bermain-main dengan Anda karena kini sudah menjadi walikota. Saya tidak mau hidup sengsara dengan berurusan dengan Anda,” jawab Robi penuh keyakinan.


Gagah tersenyum getir mendengar jawaban Robi. “Apa kamu tahu kalau sebenarnya Meta dan ayahnya lebih berbahaya dariku,” ucapnya menakut-nakuti.


Robi terkejut mendengar ucapan Gagah, hingga menelan ludah susah payah karena takut.


“Tapi kamu tenang saja, pertemuan kita tidak ada yang mengetahuinya. Kamu bisa menjalani hari seperti biasanya, jika takut kamu bisa bersembunyi untuk sementara waktu,” ujar Gagah kemudian.

__ADS_1


Tetap saja Robi merasa takut, berpikir apakah jalan yang ditempuhnya benar dengan berpihak ke Gagah.


Namun, sayang sekali. Tanpa Gagah dan yang lainnya tahu, Meta ternyata membuntuti Robi dan tahu apa yang dilakukan orang suruhannya itu. Meta memang memarkirkan mobil jauh dari gedung, kemudian mengendap ke bangunan tua itu lantas melihat dan mendengar semua yang dibicarakan oleh Robi dan Gagah.


Meta begitu murka karena telah dikhianati, hingga kemudian pergi dari bangunan itu dengan kondisi penuh amarah. Begitu sampai di mobil, Meta langsung mengeluarkan ponsel dan menghubungi Pradana.


“Halo, Pa.” Tatapan Meta terlihat berapi-api.


“Ada apa?” tanya Pradana dari seberang panggilan.


“Pa, Robi sudah berkhianat. Dia berani menusukku dari belakang. Aku ingin Papa memberinya pelajaran,” geram Meta sambil mencengkram erat stir kemudi.


Panggilan itu berakhir, Meta melirik ke gedung sebelum kemudian meninggalkan area terbengkalai itu.


_


_


Hari berikutnya. Gagah sedang sarapan sebelum berangkat ke tempat kerja. Hingga Roni tiba-tiba datang dan membisikkan sesuatu, membuat Gagah membulatkan bola mata lebar menatap sopirnya itu.

__ADS_1


Roni mengambil remot kemudian menyalakan televisi dan menunjukkan sebuah berita di salah satu stasiun televisi.


Gagah syok melihat berita tentang seorang pria yang tak lain adalah Robi, ditemukan tewas karena dibegal.


“Apa menurut Anda ini ada hubungannya dengan Bu Meta?” tanya Roni menebak.


Gagah terlihat berpikir, tak bisa juga langsung menuduh tanpa bukti.


“Sebelum ke kantor, antar aku ke rumah Meta,” kata Gagah.


Roni terkejut mendengar perintah Gagah, kenapa pria itu ingin pergi ke rumah Meta. Meski begitu Roni pada akhirnya tetap mengantar Gagah ke rumah Meta, dia menunggu di mobil sampai Gagah selesai dengan urusannya.


Gagah bertemu Meta di ruang makan, wanita itu sedang duduk santai menikmati sarapan. Bahkan hanya tersenyum tipis saat melihat kedatangan pria yang masih berstatus suaminya di mata hukum itu.


“Orang suruhanmu yang bernama Robi ditemukan meninggal, apa ini ada hubungannya denganmu?” tanya Gagah menatap curiga ke Meta.


Meta masih terlihat santai, memasukkan suapan ke mulut dan mengunyah sambil memandang Gagah.


“Ya, aku menyuruh seseorang membungkam mulutnya untuk selamanya agar dia tidak banyak bicara lagi,” jawab Meta santai. “Dengan begini rahasiaku dan rahasiamu, terkubur bersama tubuhnya,” imbuh Meta kemudian memberikan tatapan tajam ke Gagah.

__ADS_1


Gagah sangat terkejut dengan yang didengar, di sini dia baru sadar jika Meta memang benar-benar sudah gila.


__ADS_2