
Ariel gelagapan mendengar pertanyaan Mika, belum lagi baik gadis itu dan Claudia memandangnya penuh curiga. Kini bahkan keringat dingin mulai keluar dari pori-pori kulit, membuat wajah Ariel tampak semakin pucat.
“Kamu ini bilang apa? Jangan mengada-ada.” Ariel mencoba menepis pertanyaan Mika, tapi tidak berani berkata tidak hamil.
Mika dan Claudia saling tatap, tapi karena Ariel tidak mengakui, mereka pun tak bertanya lagi.
“Ya sudah, jika memang kamu sakit dan mau ke dokter atau yang lainnya, jangan sungkan menghubungi dan meminta bantuanku,” ucap Mika yang tentu saja mengandung arti sogokan agar Ariel semakin merestui hubungannya dengan Roni.
Ariel merasa aneh saat Mika semakin baik terhadapnya, tapi juga tak menolak dan hanya menganggukkan kepala.
Setelah Mika dan Claudia pulang, Ariel duduk termenung sendiri di sofa. Dia memandang ponsel di tangan, menanti pesan atau telepon dari Gagah tapi kenyataannya tidak ada satu pun yang masuk. Akhirnya Ariel pun berinisiatif menghubungi, tapi sayangnya tidak dijawab. Hingga kemudian mengirimkan pesan untuk menanyakan kabar suaminya itu.
[Mas Gagah sedang apa? Apa sedang sibuk?]
Ariel memandang pesan yang baru saja dikirim, berharap Gagah mau merespon pesannya itu. Namun, lama Ariel menunggu, pesan itu sama sekali tidak dibaca Gagah, membuat Ariel cemas dan takut jika apa yang dipikirkannya benar terjadi.
__ADS_1
Akhirnya Ariel lebih memilih pergi ke panti menemui Abil dari pada berdiam diri di apartemen. Dirinya bingung harus ke mana dan bagaimana.
“Kenapa wajah Kakak sangat pucat? Apa Kakak sakit?” tanya Abil cemas akan kondisi sang kakak.
Ariel menggelengkan kepala pelan, seulas senyum terbit di wajah pucatnya.
“Kakak tidak apa-apa, hanya kurang tidur,” jawab Ariel untuk melegakan hati Abil, tak ingin sang adik terlalu mencemaskan dirinya.
“Kakak tidak bohong?” tanya Abil memastikan.
Ariel mengangguk pelan, kemudian memeluk adik satu-satunya, meski bukan adik kandung tapi Abil adalah harta yang paling berharga peninggalan mendiang kedua orangtuanya.
“Kamu tampak pucat, apa kamu baik-baik saja?” tanya Niken cemas akan kondisi Ariel.
“Aku baik-baik saja,” jawab Ariel dengan seulas senyum di wajah.
__ADS_1
“Tapi kamu terlihat tak seperti biasa,” ucap Niken.
Bukannya Niken tak tahu tentang skandal yang beredar, hanya saja tak ingin membuat Ariel tertekan jika bertanya, meskipun sudah tahu bagaimana hubungan Ariel dan Gagah.
“Bu, sepertinya Mas Gagah sudah tahu niat awalku mendekatinya,” ucap Ariel sambil menundukkan kepala. Tanpa terasa buliran kristal bening luruh dari kelopak mata.
“Tahu bagaimana?” tanya Niken sambil memandang Ariel yang menangis.
Ariel mencoba bersikap kuat, hingga kemudian menceritakan semuanya. Saat ini dia merasa tertekan bukan karena masalah skandal, tapi rasa takut dan cemas sebab Gagah tak menghubungi dirinya.
“Riel, Ibu takut terjadi sesuatu kepadamu. Bagaimana jika ada yang berusaha mencelakaimu karena hubunganmu dengan Gagah?” tanya Niken yang cemas. Terlihat guratan halus di wajah wanita itu ketika menatap Ariel.
Niken sudah tahu tentang pernikahan Ariel dan Gagah, sekarang pria itu mungkin akan menjadi orang penting di kota itu. Wanita itu hanya takut jika Ariel kenapa-kenapa atau ada yang memanfaatkan Ariel untuk kepentingan pribadi.
Ariel hanya diam menunduk mendengar pertanyaan Niken, dirinya tak sampai berpikir ke arah sana, meski sering mendapatkan ancaman dari Meta.
__ADS_1
“Aku tidak sampai berpikir ke sana, Bu. Apalagi sekarang aku sedang hamil,” ucap Ariel jujur ke Niken tentang kehamilannya. Disentuhnya perut yang masih datar, lantas mengusapnya dengan lembut.
“Apa?” Niken begitu terkejut mendengar ucapan Ariel, memandang istri Gagah itu dengan rasa tak percaya.