
Beberapa hari ini sebenarnya Gagah tidak menghubungi karena kesibukan pasca pemilihan. Bahkan pria itu kurang istirahat karena harus melakukan beberapa prosedur sebelum pengesahan hasil pemilihan suara.
Gagah mengeluarkan ponsel, melihat banyaknya pesan masuk di aplikasi berbalas chatnya, mulai dari Ariel hingga Meta, tapi belum ada satu pun yang dibaca maupun dibalas. Baru saja Gagah duduk untuk membuka pesan dari Ariel serta ingin menanyakan kabar istrinya itu, tapi salah satu staffnya mengetuk pintu dan memanggil.
“Anda ditunggu di luar, Pak.” Seorang staff tampak melongok di pintu.
“Oke.” Gagah kembali memasukkan ponsel ke saku, kemudian berjalan keluar untuk menemui timnya.
Gagah terpaksa mengabaikan semua masalah pribadi hanya demi kelancaran pemilihan walik kota, terlebih dirinya sudah digadang-gadang sebagai pemenang dalam pemilu itu.
Sementara itu, Roni dibantu security membawa Ariel ke mobil untuk segera dibawa ke rumah sakit agar mendapat penanganan. Roni begitu panik saat mendapati Ariel pingsan di kamar mandi dengan wajah yang begitu pucat.
__ADS_1
Sesampainya di rumah sakit, Ariel langsung mendapatkan penanganan. Roni ingin menghubungi Gagah, tapi tahu jika pria itu pasti sangat sibuk, membuatnya urung menghubungi Gagah dan memilih mengurus Ariel di rumah sakit sendiri.
Entah sudah berapa lama Ariel tak sadarkan diri, hingga akhirnya membuka mata dan merasakan kepalanya yang begitu pusing. Ariel memegangi kening, lantas melirik untuk melihat siapa yang ada di sampingnya.
“Aku kenapa?” tanya Ariel ketika menyadari jika berada di rumah sakit dan ada selang infus yang terpasang di tangan.
Seorang perawat yang sedang mengganti kantong infus tersenyum ke Ariel, setelah memastikan infus terpasang dengan benar dan menetes dengan lancar, perawat itu pun menjawab, “Anda dibawa ke sini karena dehidrasi. Untung saja suami Anda membawa ke sini tepat waktu, sekarang suami Anda sedang keluar.”
Dahi Ariel berkerut mendengar perawat itu menyebut kata suami. Awalnya berpikir jika itu mungkin Gagah, tapi kemudian menepis pemikiran itu karena tidak mungkin Gagah datang dan membawanya ke rumah sakit.
“Anda sedang hamil, jadi usahakan untuk memenuhi asupan gizi dengan baik. Perbanyak minum air putih juga agar tidak dehidrasi lagi, serta jangan stres dan perbanyak juga istirahat,” kata perawat menasihati.
__ADS_1
Ariel hanya mengangguk-angguk mengerti, kemudian perawat itu meninggalkannya di kamar perawatan sendirian.
Ternyata pria yang dimaksud perawat adalah Roni. Pria itu memang sedang keluar untuk mengurus beberapa berkas rawat inap Ariel.
“Mana mungkin Mas Gagah datang, bukankah dia sekarang membenciku?”
Buliran kristal bening kembali luruh jika mengingat akan kekecewaan yang tersirat dalam tatapan Gagah. Dia yakin jika pria itu benar-benar kecewa dan menyalahkan dirinya karena telah memanfaatkan.
Ariel hanya berpikir jika Gagah mungkin saja sedang menghindar darinya sehingga pesan dan panggilan telepon darinya diabaikan, semua ucapan Meta tampaknya benar, Gagah kini membencinya dan sebentar lagi pasti akan meninggalkan dirinya.
Memikirkan segala kemungkinan yang terjadi membuat hati Ariel terasa ngilu, rasanya bagai teriris-iris begitu sakit. Akankah dirinya dibuang bersama janin yang ada di rahimnya, Ariel tak sanggup membayangkan jika itu memang benar. Disentuhnya permukaan perut yang tertutup selimut, mencoba menguatkan diri sendiri jika ada janin di sana yang sedang bertumpu harapan kepadanya.
__ADS_1
“Maafkan aku, Mas. Aku memang jahat memanfaatkanmu demi dendamku, maafkan aku.” Ariel hanya bisa kembali meratap, menyalahkan diri sendiri karena keegoisan sesaat.