
Gagah menatap Ariel yang baru saja melakukan prosedur kuretase pengambilan janin di kandungannya. Istrinya itu masih dalam pengaruh obat bius sehingga tak sadarkan diri.
Saat sedang melihat televisi, Gagah menyaksikan salah satu stasiun televisi yang menayangkan berita tentangnya dan Ariel. Di dalam berita itu disebutkan kalau Gagah sedang menemani seorang wanita di rumah sakit. Proses perceraiannya dengan Meta pun mulai terkuak.
“Apa mereka tidak bisa menyiarkan berita yang lebih bermutu?”
Gagah memilih mematikan televisi, menganggap jika berita tentang dirinya terlalu dibesar-besarkan. Gagah sendiri tidak mau ambil pusing, sejak mengakui jika Ariel adalah istrinya di depan dokter dan perawat, sejak itu pula dia bertekad tidak akan menyembunyikan hubungannya dan Ariel lagi.
Gagah ingin menunjukkan ke semua orang jika Ariel adalah istri yang begitu didamba serta dipertahankan untuk menemaninya.
Tepat setelah Gagah mematikan televisi, Ariel menggerakkan tangan, bertanda obat bius yang ada di tubuhnya mulai berangsur menghilang.
Hal pertama yang dilakukan Ariel saat sadar adalah menyentuh bagian perut.
“Mas Gagah,” lirih Ariel karena bibirnya masih terasa kelu.
“Aku di sini.” Gagah dengan penuh perhatian menggenggam telapak tangan Ariel, bahkan memberikan kecupan di kepalan tangan mereka yang menyatu.
__ADS_1
Ariel membuka kelopak mata lebar, hingga sadar jika janin yang ada di rahimnya sekarang sudah tidak ada lagi.
“Bayi kita mana, Mas?” tanya Ariel, masih tidak terima jika mengalami keguguran.
“Dia sudah pergi dengan tenang ke surga, kamu yang ikhlas, ya.” Gagah begitu bersedih saat melihat gurat kekecewaan di wajah sang istri.
Ariel kembali menangis, meski sudah diberitahu jika bayinya akan diambil dari rahim tapi tetap saja tak sanggup menerima jika akhirnya harus kehilangan.
“Apa ini hukuman untukku?” Tangis Ariel semakin pecah. "Karena sudah menghancurkan rumah tangga Mas Gagah.”
“Kamu jangan bilang seperti itu, sebelum kamu masuk dalam hidupku, rumah tanggaku dengan Meta sudah hancur.” Gagah mencoba melegakan hati Ariel, tidak ingin membuat wanitanya semakin terpukul karena kehilangan.
“Aku juga salah, andai aku lebih bisa menjagamu dengan baik, pasti semua ini takkan terjadi,” ucap Gagah masih dengan mendekap erat tubuh Ariel.
Keduanya saling berpelukan, Ariel masih menangis karena begitu terpukul karena kehilangan. Sedangkan Gagah menyesal karena tak bisa melindungi Ariel dan calon anak mereka.
***
__ADS_1
Hari itu, Roni dan Mika datang menjenguk Ariel, mereka terlihat lega saat melihat kondisi Ariel yang sudah membaik.
“Tidak apa-apa, besok kamu masih bisa hamil dan punya anak lagi,” ucap Mika mencoba memberi dukungan ke Ariel.
Ariel hanya mengangguk lemah. Ia berterima kasih karena Mika memberinya perhatian.
“Pak, apa Anda tahu bagaimana hebohnya di luar sana tentang berita yang tersebar?” tanya Roni ke Gagah.
“Berita apa?” tanya Ariel yang tidak tahu.
“Berita tentang Pak Gagah yang menemanimu di rumah sakit, bahkan informasi yang beredar menurutku terlalu dibesar-besarkan dan tidak sesuai fakta,” jawab Mika.
“Apa Anda tidak ingin melakukan sesuatu?” tanya Roni ke Gagah setelah Mika selesai menjelaskan ke Ariel.
Gagah terlihat berpikir, kemudian menatap Ariel yang cemas. Hingga dia pun menatap ke Roni, satu-satunya orang yang sangat dipercayai.
“Kamu temui pengacara ‘ku, katakan jika aku ingin menuntut Meta karena telah melakukan kekerasan ke Ariel hingga membuat calon anak kami meninggal.”
__ADS_1