
“Apa mungkin orang suruhan Meta atau papanya?”
Gagah seketika cemas saat Roni mengabari bahwa Ariel kemarin didatangi seorang pria ke apartemen. Ia bahkan hendak langsung mendatangi istri belianya itu kalau saja Roni tidak mengingatkan bahwa situasi tidak aman untuknya saat ini.
“Sebelum kita tahu siapa pria itu, sebaiknya jangan dulu datang ke apartemen Pak,” ucap Roni. “Ariel juga sepertinya meminta temannya menginap di apartemen," imbuhnya.
“Dia belum meminta izin ke aku,” jawab Gagah. “Tidak biasanya Ariel seperti ini."
“Mungkin dia tidak ingin membuat pikiran Anda terbebani, jika saya tidak mengatakan ini dia juga paling tidak akan bercerita,” ujar Roni. Diliriknya Gagah dari kaca spion tengah. Bosnya itu memijat kening, Roni tahu bahwa Gagah pasti sangat lelah, selain menghadapi tekanan pekerjaan, pencalonan juga harus pusing dengan urusan pribadi.
“Apa kamu belum mendapatkan rumah untuk Ariel tinggali? carikan dulu rumah lain sambil mencoba negosiasi dengan pembeli rumah orangtuanya!” titah Gagah.
__ADS_1
Roni mengangguk mengiyakan, entah kenapa melihat Gagah yang sangat tulus mencintai Ariel dia merasa bersalah. Roni sampai berpikir mungkin jika sampai tahu dibohongi olehnya dan sang keponakan, Gagah pasti akan sangat murka.
Sementara itu, Claudia dibuat melongo karena Ariel mengajaknya menginap di apartemen. Gadis culun itu sampai mengusap perabotan yang ada secara bergantian karena kagum. Ia tak percaya bahwa Ariel tinggal di sebuah apartemen mewah seperti ini.
“Apa kamu tidak punya foto pernikahan?” tanya Claudia mendapati tidak ada potret Ariel dan sosok suaminya di sana.
Ariel menggeleng, pertanyaan Claudia cukup menyentak perasaannya. Bagaimana mungkin memiliki foto pernikahan jika hubungan mereka saja disembunyikan.
“Ariel, apa aku boleh menyalakan televisi?” tanya Claudia, dia tertawa lalu menekan tombol power remote untuk menyalakan TV setelah Ariel menjawab 'iya’.
Claudia duduk di sofa dan mencoba mengganti saluran yang ada, hingga sebuah acara gosip sukses membuat jemarinya berhenti. Ia menyimak dengan seksama saat pewarta acara itu membawakan berita perihal calon wali kota mereka yang tak lain adalah Gagah.
__ADS_1
“Aku sudah pasti akan memilih dia,” celoteh Claudia, wajahnya penuh kekaguman menatap layar kaca sampai tak sadar Ariel sudah datang dengan dua gelas jus di atas nampan.
Melihat apa yang ditonton Claudia, Ariel tidak bereaksi berlebihan. Ia duduk sambil menatap televisi sama seperi sahabatnya, hingga tiba-tiba informasi yang awalnya bagus mengenai Gagah berubah menjadi informasi yang sedikit menyudutkan. Di keterangannya tertulis bahwa hubungan Gagah dengan istrinya tidak harmonis, terbukti akhir-akhir ini Gagah melakukan kampanye sendiri tanpa ditemani Meta.
“Ah … dasar acara gosip, istrinya pasti sibuk merawat anaknya di rumah,” amuk Claudia seolah tidak terima dengan pemberitaan yang buruk ke Gagah dan Meta.
“Mereka itu pasangan serasi, tak sabar rasanya punya ibu wali kota yang cantik seperti Meta Pradana.”
Ucapan Claudia membuat dada Ariel ngilu. Ia sadar bahwa Claudia tidak mungkin sengaja berkata seperti itu, karena orang luar jelas tidak tahu bagaimana hubungan Meta dan Gagah. Namun, jika Claudia saja menganggap Meta sempurna dan bahkan dijadikan junjungan, bagaimana dengan emak-emak di luaran sana?
“Mereka pasti akan membenciku dan mungkin juga akan membenci mas Gagah jika tahu kami memiliki hubungan spesial.”
__ADS_1