Godaan Pelakor Belia

Godaan Pelakor Belia
Bab 42 : Mata-Mata


__ADS_3

Sementara Ariel dan Gagah masih sibuk bercumbu, pria yang mematai-matai apartemen Ariel masih terus memantau dari kejauhan. Terkadang sesekali menyamar menjadi tukang jasa antar makanan atau barang, agar bisa masuk ke bangunan itu untuk mendapatkan informasi tentang Gagah.


Pria itu berada di mobil dan masih terus memantau, ternyata dia adalah orang suruhan dari saingan Gagah dalam pemilihan wali kota, tentu saja tujuannya satu; mencari dan mendapatkan keburukan Gagah agar bisa mereka ekspos ke media. Waktu pemilihan sudah dekat. Alangkah baiknya kalau masyarakat menilai buruk perilaku Gagah.


Namun, tanpa disadari. Meta mengetahui tentang hal yang sedang dilakukan pria mata-mata itu. Meta diam-diam meminta orang mengawasi Gagah. Hingga mendapat info bahwa suaminya sedang diintai oleh seseorang.


Meta nampak turun dari mobil, kemudian berjalan dengan santai lantas berdiri di samping tepat di pintu bagian kemudi dan mengetuk kaca.


Pria mata-mata itu terkejut melihat Meta di sana, dia tidak bisa menghindar dan pada akhirnya memilih menurunkan kaca jendela mobil.


Meta sedikit membungkukkan badan, kemudian meletakkan kedua lengan di jendela pintu yang terbuka. Memandang pria yang tampak kebingungan itu.


“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Meta.

__ADS_1


“Ini parkir umum, saya bebas berada di sini,” jawab pria itu mengelak dari pertanyaan Meta.


Tentu saja Meta bukan wanita bodoh, dia punya mata-mata juga - yang memberinya info tentang pria yang kini sedang membuntuti suaminya.


“Kamu pikir aku bodoh? Apa tampangku ini seperti wanita bodoh?” Meta menunjukkan wajah garang, membuat pria yang di dalam mobil menelan ludah.


“Aku tahu kamu sedang memata-matai suamiku, tapi sayangnya kamu telah berurusan dengan orang yang salah. Jika kamu masih sayang nyawamu, juga masih sayang keluargamu, maka hentikan memata-matai suamiku, atau aku akan membuat hidupmu dan keluargamu menjadi sangat buruk. Jika kamu masih memata-matainya setelah ini, aku tidak akan segan membuatmu merasa seperti di neraka, hingga kamu akan memilih untuk mati daripada hidup dalam penderitaan!” ancam Meta tidak main-main.


Pria itu menelan ludah, tidak bisa berkata-kata menghadapi wanita garang ini.


“Ingat ucapanku, aku sudah menyelidiki semua tentangmu. Satu saja rahasia dari suamiku bocor, maka ….” Meta sengaja menghentikan ucapannya, kemudian membuat gerakan melintang di leher dengan jari telunjuk kanannya.


***

__ADS_1


Hari berikutnya Meta mendatangi kantor Gagah. Begitu sampai di ruangan suaminya, dia langsung melempar beberapa lembar foto ke meja.


Gagah tentu terkejut dengan apa yang dilakukan Meta, hingga memandang foto-foto yang ada di meja, sebelum kemudian memandang istrinya yang berdiri dengan bersedekap dada.


“Apa ini?” tanya Gagah bingung memandang foto pria berkacamata di mobil dan beberapa foto lainnya.


“Orang itu memata-mataimu,” jawab Meta. Dia duduk di sofa yang terdapat di ruangan Gagah, lantas dengan angkuh menyilangkan satu kaki dengan tatapan tertuju ke sang suami.


Gagah mengambil foto yang dilempar Meta, hingga mengamati satu persatu foto itu.


“Seharusnya kamu bersyukur, jika aku tidak mengetahui ada yang memata-mataimu, entah bagaimana nasib karirmu,” sindir Meta dengan seringai di wajah.


Gagah hanya melirik Meta sekilas, sebelum kemudian kembali memilih memandang dan mengamati foto di tangannya.

__ADS_1


“Aku sudah menyelesaikan masalah orang-orang yang akan membuatmu dalam kesulitan, bahkan semua masalah yang mengancam karirmu, aku yang menuntaskannya. Tapi apa yang kamu lakukan? Masih saja berselingkuh dan terang-terangan pergi ke apartemen bahkan tak ingat waktu. Kalau kamu sampai ketahuan berselingkuh bagaimana?” Meta memandang rendah Gagah karena tidak waspada, serta memuji dirinya yang sudah berbuat banyak untuk pria itu.


"Aku akan memecat Roni, pria itu tak berguna!" imbuhnya.


__ADS_2