Godaan Pelakor Belia

Godaan Pelakor Belia
Bab 91 : Periksa Kandungan


__ADS_3

Setelah menunda kepulangan karena masalah yang menimpa Ariel. Hari itu Rehan akhirnya hendak pulang ke kota asalnya, di mana kota itu sama dengan tempat Ariel dulu tinggal.


Namun, sebelum pergi Rehan menemui Ariel, hendak menanyakan tentang tawaran sebelumnya ke gadis itu.


“Apa kamu sudah memikirkannya dengan baik-baik?” tanya Rehan saat bertemu Ariel di halaman. “Aku benar-benar butuh bantuan, tawaranku ini jelas akan menguntungkanmu, apa kamu benar-benar tidak ingin menyetujuinya?”


Ariel terlihat bingung, dia bahkan menggenggam erat gagang sapu yang dipegang.


“Aku hanya akan menurut dengan apa yang dikatakan Mas Gagah, jika dia tidak setuju, maka aku juga tidak akan setuju,” jawab Ariel pada akhirnya.


Rehan tampak kecewa, tapi dia juga tidak bisa memaksa. Akhirnya pria itu pun berpamitan karena tak mau ketinggalan pesawat lagi.


***


Setelah selesai dengan pekerjaannya, Ariel pergi ke kamar untuk beristirahat. Saat sedang duduk meluruskan kaki di kasur, Abil datang dan langsung duduk di samping kaki sang kakak.

__ADS_1


“Kak, apa Kakak akan punya bayi? Kenapa perut Kakak semakin besar?” tanya Abil setelahnya melirik perut Ariel.


Ariel tersenyum menanggapi pertanyaan Abil, dirinya memang belum jujur akan kondisinya ke bocah itu.


“Iya, karena itu perut Kakak besar. Abil mau menjaga dia kalau sudah lahir, ‘kan?” tanya Ariel dengan senyum lebar penuh harap.


Abil mengangguk, tentu saja bocah itu akan menerima anak Ariel dan menyayanginya, karena tidak ada seoarangpun yang Abil miliki di dunia ini kecuali mereka. Bocah itu pun memeluk Ariel, bahkan mencium permukaan perut sang kakak.


“Aku pasti akan menjaganya dengan baik,” ucap Abil sambil mengelus perut Ariel.


Di saat yang bersamaan, kebetulan Anisa sedang melintas di depan kamar Ariel, dia melihat pintu kamar istri siri Gagah itu terbuka. Anisa pun mengetuk, sebelum kemudian membuka lebar.


Ariel memandang ke arah pintu saat mendengar suara Anisa, kemudian menggelengkan kepala untuk menjawab pertanyaan wanita itu lantas mempersilakan masuk.


“Abil main keluar dulu, ya. Ibu mau bicara sama kakakmu sebentar,” kata Anisa ke Abil.

__ADS_1


Abil mengangguk, lantas berlari keluar kamar meninggalkan Anisa dan Ariel berdua.


“Ada apa, Bu?” tanya Ariel, memilih mengangsurkan kaki ke lantai dan duduk di tepian ranjang.


“Aku ingin mengajakmu ke dokter kandungan, untuk memastikan kondisi kandunganmu,” kata Anisa. Ia tahu bahwa selama hamil trimester pertama gadis itu sudah bolak balik masuk rumah sakit.


Ariel pun mengangguk kemudian bersiap untuk pergi bersama Anisa. Mereka pergi ke dokter kandungan, di sana Ariel langsung dicek kondisi kandungannya, apalagi sebelumnya Ariel sempat berlarian dengan kondisi hamil saat kabur dari para preman.


“Apa kondisinya baik-baik saja?” tanya Anisa saat dokter selesai memeriksa Ariel.


“Secara keseluruhan semuanya bagus, hanya saja saya sarankan agar lebih menjaga kondisi. Apalagi Mbak Ariel sendiri hamil di usia muda, jadi sangat beresiko entah dari segi perkembangan janin atau kesehatannya. Jadi saya sarankan untuk mengonsumsi makanan sehat dengan teratur, serta jangan terlalu lelah dan kerja berat,” ujar dokter menjawab pertanyaan Anisa.


Ariel baru saja turun dari ranjang dibantu perawat, mendengarkan pesan dokter dengan seksama demi kesehatan janin yang ada di rahimnya.


“Saya akan meresepkan vitamin dan obat mual, kalau tidak mual tidak usah diminum tidak apa-apa,” kata dokter sambil menuliskan resep untuk Ariel.

__ADS_1


“Baik, Dok.”


Ariel mengangguk paham, dia berterima kasih kepada Anisa yang sudah sangat baik memperhatikan kondisi dirinya dan kehamilannya saat ini.


__ADS_2