Godaan Pelakor Belia

Godaan Pelakor Belia
Bab 73 : Ingin Pergi


__ADS_3

Ariel termenung dengan tubuh lemah, sendirian tanpa ada yang menemani atau sekadar menghibur di saat hatinya kalut. Ariel memandang ponsel, pesan yang dikirimkan ke Gagah sudah dibaca, tapi pria itu tidak membalas.


Tiba-tiba air mata kembali luruh, rasanya begitu sesak saat mengetahui dirinya diabaikan. Namun, Ariel harus kuat, ada nyawa lain yang harus dipertahankan sekarang.


“Riel.” Roni pagi itu datang dan melihat Ariel yang duduk di ranjang.


Ariel mencoba tersenyum, buru-buru menyeka air mata yang membasahi pipi.


“Sudah sarapan?” tanya Roni sambil berjalan mendekat ke ranjang Ariel.


Roni membawa kantong berisi makanan, kemudian menaruh di atas meja kecil sebelah ranjang Ariel.


“Sudah,” jawab Ariel lirih.


Roni melihat sisa makanan milik Ariel, ternyata keponakannya itu hanya makan sedikit. Dia pun memandang Ariel dan melihat wajah keponakannya itu tampak suram.


“Riel, kamu sedang hamil, harusnya kamu menjaga kesehatanmu. Jangan sampai seperti kemarin,” kata Roni menasihati karena peduli dengan Ariel.

__ADS_1


Ariel hanya diam mendengarkan ucapan Roni, kemudian menoleh dan memandang pria itu.


“Om, bagaimana kabar Mas Gagah?” tanya Ariel. Daripada kesehatannya, dia lebih peduli akan kabar sang suami.


Roni duduk di kursi yang ada di samping ranjang, melihat jika Ariel pasti sedih karena sejak kemarin Gagah juga tidak datang menjenguk.


“Aku tidak tahu, sudah beberapa hari ini dia juga tidak menghubungiku untuk sekadar diantar-jemput. Sepertinya dia sangat sibuk,” jawab Roni.


Ariel terdiam mendengar jawaban Roni, terlihat guratan kekecewaan karena Roni juga tak tahu kabar Gagah.


Ariel masih di rumah sakit bersama Roni, hingga keduanya melihat siaran berita yang sedang menayangkan tentang Gagah yang datang bersama Meta, keduanya diberitakan sangat serasi dan cocok ketika datang memenuhi undangan dari presiden.


Ariel terdiam memandang Gagah yang berada di balik layar sedang bergandengan dengan Meta, keduanya benar-benar serasi apalagi Gagah terus memulas senyum di hadapan kamera.


Ariel merasa hancur, keyakinan tentang Gagah yang membuangnya pun semakin membelenggu hati yang sedang rapuh. Ingin sekali menangis, tapi sebisa mungkin masih ditahan.


Roni menoleh Ariel, melihat wajah keponakannya itu tampak merah. Dia yakin jika Ariel pasti sedih melihat Gagah dan Meta yang begitu serasi dan tampak harmonis seolah tak pernah terjadi masalah di antara keduanya.

__ADS_1


“Kamu baik-baik saja?” tanya Roni memandang Ariel.


Ariel menarik napas panjang kemudian menghela perlahan, lantas menoleh Roni.


“Aku baik-baik saja, Om.” Ariel mencoba bersikap tegar dan kuat, karena bagaimanapun dirinya hanya orang ketiga di antara hubungan Gagah dan Meta.


Roni tidak yakin jika Ariel baik-baik saja, tapi juga tidak bisa memaksa gadis itu untuk bercerita.


“Om, boleh aku minta sesuatu?” tanya Ariel memandang Roni dengan kelopak mata yang siap menumpahkan air mata yang tak tertahankan.


“Minta apa?” tanya Roni.


“Aku ingin pergi sejauh mungkin dari kehidupan Mas Gagah bersama Abil, aku tidak bisa lagi mengganggu kehidupannya,” jawab Ariel.


Roni sangat terkejut dengan permintaan sang keponakan hingga menggelengkan kepala dengan cepat.


“Kamu tidak boleh melakukan itu! jangan hanya karena melihat berita itu kamu lantas ingin pergi tanpa menunggu Pak Gagah menemuimu!”

__ADS_1


__ADS_2