
Ariel masih berdiri terdiam memandang siapa yang duduk satu meja dengan Niken dan Abil, dia bukan tidak tahu siapa orang itu, jelas Ariel tahu dan sangat mengenalnya.
Pradana memandang Ariel yang terpaku di tempatnya berdiri. Ya, orang yang dilihat Ariel adalah Pradana, pria itu sengaja mendatangi panti asuhan kemudian mengajak Niken dan Abil pergi ke restoran dengan alasan ingin menemui Ariel.
Niken dan Abil awalnya juga merasa bingung, mereka tak tahu menahu dengan hal yang terjadi. Apalagi akan bertemu Pradana - salah satu pengusaha tersohor di negara ini. Jelas tak terbayangkan.
“Kenapa kamu hanya berdiri di sana? Kemarilah!” pinta Pradana dengan seulas senyum di wajah.
Ariel merasa bingung, hingga pikiran negatif muncul di kepala, apalagi Pradana membawa Abil dan Niken juga. Namun, Ariel tahu tidak boleh bertindak gegabah, dia kemudian memilih mendekat dan duduk di samping Niken.
Pradana menyambut Ariel dengan baik, pria itu bahkan meminta pelayan menyajikan menu untuk Ariel.
“Maaf, kenapa Anda membawa saya ke sini? kenapa juga ada adik saya dan Bu Niken?” tanya Ariel bersikap formal, meski di dalam hati dia tengah menduga-duga, apa mungkin yang dilakukan Pradana sekarang karena pria itu sudah mengetahui tentang hubungannya dan Gagah.
Pradana mengulas senyum, pria itu tampak santai dan tidak menunjukkan kemarahan atau kebencian ke Ariel.
__ADS_1
“Sebenarnya aku mendengar jika panti asuhan Bu Niken sedang membutuhkan banyak dana. Aku berpikir untuk menyumbangkan uang bantuan. Mungkin sekitar satu miliar. Apa itu cukup untuk biaya operasional panti?” tanya Pradana dengan tatapan tertuju ke Niken.
Tentu saja Niken terkejut mendengar ucapan Pradana, benarkah pria itu ingin menyumbang uang ke panti asuhan yang dikelolanya sebesar itu.
Ariel sendiri tak kalah kaget, tapi dirinya masih curiga. Dia yakin Pradana tidak begitu saja menyumbang panti, pasti ada niat terselubung. Dan benar saja, beberapa saat kemudian Pradana mengucapkan sesuatu yang membuat Ariel dan Niken sangat terkejut.
“Selain menyumbang, sebenarnya aku ingin mengangkat Ariel dan Abil sebagai anak, mengingat mereka sudah tidak memiliki orangtua. Apakah kalian bersedia?” tanya Pradana memandang Ariel dan Abil secara bergantian.
Ariel semakin syok hingga gelagapan, apa sebenarnya yang sedang dilakukan Pradana, kenapa pria itu membuat keputusan yang baginya begitu mencurigakan.
“Kenapa kalian begitu terkejut? Apa keputusanku ini aneh?” tanya Pradana memandang Niken dan Ariel bergantian.
“Tidak, Pak. Hanya saja memang ini mengejutkan,” jawab Ariel sekenanya.
Pradana memandang Ariel dengan tatapan aneh dan berbeda, membuat gadis itu tampak kikuk dan salah tingkah.
__ADS_1
“Bu Niken, aku mau pipis,” bisik Abil karena merasa takut, baru pertama kali bocah itu datang ke restoran semewah ini.
Niken pun menoleh Ariel, kemudian pamit mengantar Abil ke toilet. Kini di ruangan itu hanya ada Pradana dan Ariel.
Ariel sendiri masih mencoba bersikap tenang menghadapi Pradana, karena dia tak tahu apakah pria itu sebenarnya sudah mengetahui hubungan spesialnya dengan Gagah atau belum.
Pradana memandang ke arah pintu di mana punggung Niken dan Abil sudah menghilang, hingga kemudian menatap Ariel yang tampak canggung hanya duduk berdua bersamanya.
Pradana menghela napas kasar, kemudian berkata, “Daripada kamu bersama Gagah, bagaimana jika menjadi sugar baby ‘ku saja?”
Perkataan Pradana barusan membuat Ariel langsung menatap pria itu, dia tak menyangka jika Pradana sampai berkata demikian.
Hingga Ariel baru menyadari, jika ayah Meta itu menemuinya pasti karena telah mengetahui hubungannya dengan Gagah, mungkinkah Pradana sebenarnya ingin memisahkannya dari sang suami?
"Apa maksud Anda saya sama sekali tidak mengerti?" jawab Ariel
__ADS_1