Godaan Pelakor Belia

Godaan Pelakor Belia
Bab 59 : (Bukan) Anak Kandung


__ADS_3

Gagah terkejut mendengar keluh kesah Azka tentang ledekan teman sekolah putranya itu. Dia mengusap kepala Azka lembut, mencoba menenangkan agar anak itu tidak banyak berpikir.


“Pa, apa mungkin yang dikatakan teman-teman benar?” tanya Azka sambil menatap sendu ke ayahnya.


“Apa yang mereka katakan? Kalau kamu nggak mirip Papa? Bisa saja ‘kan mirip Mama atau kakekmu.” Gagah masih mencoba membuat Azka agar tidak berpikiran negatif.


“Bukan, Pa. Tapi teman-teman juga bilang kalau aku bukan anak Papa.”


Saat Azka bicara tentang penilaian temannya ke Gagah, tak disadari Meta datang menghampiri keduanya. Meta tampak tak senang mendengar Azka berkata jika dia bukan anak sang papa.


“Kenapa kamu bilang begitu, Azka? Kamu tidak boleh berkata jika bukan anak papamu!” Meta memarahi Azka, membuat putranya itu sampai takut.


Gagah keheranan melihat sikap reaksioner dari Meta, pria itu menganggap jika Meta terlalu berlebihan menanggapi cerita Azka, apalagi sampai membentak dan membuat putra mereka itu takut. Lagi pula omong kosong jika Azka dibilang bukan anaknya, hanya karena wajah mereka tidak mirip. Gagah yakin jika Meta masih perawan saat mereka menikah.

__ADS_1


“Kamu jangan membentak Azka seperti itu!” Gagah mencoba bicara dengan suara pelan.


“Dia harus diperingatkan! dia tidak boleh sampai berpikir kalau kamu bukan ayah kandungnya!"


Bukannya sadar akan situasi, Meta malah seolah semakin menjadi-jadi ingin mengajak Gagah bertengkar, padahal ada Azka di sana.


Tidak ingin pertengkarannya dilihat oleh sang putra, Gagah pun meminta Azka untuk masuk ke kamar. Anak itu langsung menuruti ucapan Gagah dan pergi meninggalkan Meta.


“Sampai kapan kamu akan bersikap seperti ini? Selalu terbawa emosi dan bertindak seolah kamu yang paling benar!” Gagah sejatinya lelah berdebat dengan Meta, tapi wanita itu terus saja memulai perselisihan.


Gagah lelah selalu dituduh, sedangkan semua masalah berawal dari sikap Meta yang berubah, setelah mengetahui siapa dia yang sebenarnya.


“Aku begini juga karenamu! Aku lelah kamu kekang dan atur untuk mengikuti semua keinginanmu. Aku suamimu, tapi kamu tidak pernah menghargaiku sebagai suami!” balas Gagah meluapkan emosi yang terpendam.

__ADS_1


Meta gelagapan mendengar balasan Gagah, apalagi pria itu bicara dengan amarah yang meluap-luap.


“Aku lelah menjalani hidup penuh tekanan, jadi jangan salahkan aku jika memilih jalanku sendiri.” Gagah pergi meninggalkan Meta setelah mengucapkan kalimat itu, dia tak ingin terus bertengkar dan menghabiskan tenaga.


Meta terkejut, mulutnya bahkan mengatup dan menganga berulang mendengar semua ucapan Gagah, hingga saat pria itu pergi pun dirinya tidak bisa berbuat banyak. Meta mengepalkan kedua telapak tangan yang ada di samping tubuh, begitu erat sampai kuku-kukunya memucat.


“Kenapa dia selalu membuat alasan kalau hidupnya penuh tekanan? Bukankah ini semua demi kebaikannya juga.” Meta begitu geram karena Gagah selalu meninggalkan dirinya setiap ingin diajak membahas hal yang serius. Padahal dia sebenarnya ingin membicarakan tentang perceraian yang diajukan pria itu.


Saat Meta sedang diliputi amarah, ponselnya berdering, ada nama orang kepercayaannya yang terpampang di sana. Meta pun segera menggeser tombol hijau untuk menjawab.


“Halo, apa ada informasi?”


“Iya Bu, saya mempunyai informasi yang sangat penting tentang gadis bernama Ariel itu.” Suara seorang pria terdengar dari seberang panggilan.

__ADS_1


Meta menyeringai mendengar orang suruhannya akhirnya mendapatkan informasi yang akan bermanfaat baginya.


“Katakan, apa informasi penting itu!” Meta pun mendengarkan pria di seberang panggilan bicara, hingga kedua bola matanya membulat sempurna.


__ADS_2