Godaan Pelakor Belia

Godaan Pelakor Belia
Bab 44 : Tentukan Pilihanmu


__ADS_3

Hari itu Meta pergi ke apartemen Ariel. Dia tahu gadis itu ada di sana dan Gagah berada di kantor, maka dari itu dia berani mendatangi secara langsung.


Ariel tampak terkejut saat melihat siapa yang datang mengetuk pintu, meski begitu dengan berani dia membukanya. Ariel melihat Meta yang berdiri memandang dirinya dari balik kacamata hitam yang dikenakan.


“Apa kamu tidak akan mengizinkanku masuk?” tanya Meta dengan nada suara datar.


Ariel tidak ingin ada keributan di depan apartemennya, apalagi jika sampai ada yang melihat dia dan wanita itu ribut. Akhirnya Ariel pun terpaksa mempersilakan Meta masuk.


Istri sah Gagah itu langsung masuk dan duduk di sofa yang terdapat di ruang tamu, bola mata yang tertutup kacamata itu tampak memindai seluruh ruangan.


“Mau apa kamu ke sini?” tanya Ariel dengan ekspresi wajah tak senang.


Meta melepas kacamata, hingga memandang Ariel yang berdiri di seberangnya.


“Apa kamu tidak bisa bicara sambil duduk,” sindir Meta.

__ADS_1


Ariel mendengkus kasar, kemudian duduk berseberangan dengan Meta.


“Apa kamu tahu kalau hubunganmu dengan Gagah bukanlah hal yang baik? Sedikit saja orang melihat atau mengetahui tentang keberadaanmu dalam kehidupan suamiku, maka hancur sudah karirnya karena hubungan terlarang kalian.” Meta bicara dengan penuh penekanan.


Ariel bingung akan maksud ucapan Meta, pasalnya Gagah belum bercerita tentang orang-orang yang memata-matai dirinya dan pria itu.


“Tapi aku dan Mas Gagah tidak menganggap jika hubungan kami terlarang,” sanggah Ariel tanpa rasa takut.


“Ck..., tapi tetap saja kamu selingkuhannya!” tegas Meta mengingatkan.


“Tinggalkan suamiku, kamu ini masih muda, kenapa jadi pelakor? Masa depanmu masih panjang, bahkan lebih cerah tanpa merusak hubungan rumah tangga orang lain. Apa kamu ingin dicap seperti itu, jika sampai ada yang tahu?” tanya Meta balik mengutarakan niat mendatangi Ariel.


Ariel mencengkram erat ujung rok yang dikenakan, sekuat tenaga mencoba menahan agar emosinya tidak meledak.


“Aku tidak peduli dengan pandangan orang, yang aku pedulikan hanyalah pandangan Mas Gagah kepadaku,” jawab Ariel menunjukkan jika dirinya takkan mundur.

__ADS_1


Meta mencebik, kenapa gadis muda di hadapannya ternyata sangat susah untuk dibujuk.


“Aku memperingatkanmu baik-baik, karena aku merasa kamu masih memiliki kesempatan untuk berubah. Asal kamu tahu, aku bisa membujukmu secara baik-baik seperti ini, tapi juga bisa membujukmu dengan cara kejam. Tinggal tentukan mana pilihanmu, kamu ingin cara yang mana?” Meta bicara seraya menekan intonasi bicaranya, tatapan wanita itu terasa tajam menusuk.


Ariel cukup terkejut mendengar ancaman Meta, tapi kemudian menyeringai karena jelas dia tidak akan takut dengan ancaman wanita itu.


“Kita lihat saja, siapa yang akan mundur dari hidup Mas Gagah. Jangan mengancamku, karena aku tidak takut sama sekali!” Ariel pun bicara tak kalah tegas, tentu dia tidak akan mundur begitu saja dari usaha yang sudah dilakukannya sejauh ini.


Meta menggertakkan gigi, merasa jika Ariel begitu keras kepala dan susah diajak bicara. Ia pub bangun secara tiba-tiba sambil memandang Ariel yang masih duduk.


Ariel sendiri menatap Meta dengan santai, tak tampak sedikitpun ketakutan atau kecemasan di mata gadis itu.


“Baiklah, tampaknya kamu sudah mengambil keputusan. Jadi, cukup aku memperingatkanmu hari ini.” Meta tersenyum kemudian memasang kacamata dengan santai.Wanita itu berjalan menuju pintu, kemudian pergi dari sana.


Ariel sendiri akhirnya bernapas lega, menghadapi Meta memang tidak boleh menunjukkan rasa takut atau dirinya akan ditindas lebih gila.

__ADS_1


Meta berjalan dikoridor dengan wajah kesal menahan amarah. Ia bergumam, “Kamu berani melawan dan memilih untuk bertahan. Maka jangan salahkan aku jika tiba-tiba kamu celaka.”


__ADS_2