Godaan Pelakor Belia

Godaan Pelakor Belia
Bab 86 : Tawaran


__ADS_3

Ariel terdiam mendengar semua pernyataan Rehan, padahal dirinya sudah menerima semua hujatan yang terlontar dari para ibu-ibu itu karena sadar perbuatannya menjadi Pelakor memang salah.


“Oalah, ternyata begitu.” Suara lantang salah satu tetangga Anisa membuat yang lain saling tatap dan bisik.


“Kalau begitu maaf ya, Nis. Kami pikir dia itu benar pelakor,” kata yang lain karena tak enak hati.


“I-iya, Bu. Tidak apa-apa,” balas Anisa yang sebenarnya canggung karena jelas Rehan telah berbohong. Namun, Anisa bersyukur sebab pria itu mau membantu meredakan amarah ibu-ibu.


Akhirnya para ibu-ibu itu membubarkan diri, Ariel, Rehan, dan Anisa pun memilih masuk. Ketiganya duduk bersama di gazebo, kini Rehan pun tahu semua kebenaran, meski sebenarnya sudah curiga kalau Ariel tengah mengandung. Rehan terdiam cukup lama, sampai gagal pulang hari itu, karena sudah ketinggalan pesawat.


Ternyata saat huru-hara pagi tadi terjadi, Gagah berada di mobil yang tak jauh dari homestay. Dia ingin keluar untuk menemui Ariel, tapi dicegah Roni demi kebaikan pria itu juga keponakannya. Roni langsung mengunci pintu mobil, sehingga Gagah urung keluar.


Roni mencegah karena berpikir ini bukan hanya masalah masa depan Gagah saja, tapi juga Ariel dan bayi dikandungan keponakannya itu. Akhirnya Gagah hanya bisa pasrah, menunda keinginan untuk bertemu Ariel. Roni kemudian memilih membawa Gagah pergi, karena tak ingin jika sampai ada yang menyadari keberadaan wali kota yang baru saja menjabat itu di sana.


***

__ADS_1


Saat malam hari. Ariel tidak bisa tidur dan memilih berjalan-jalan di halaman, siapa sangka dia bertemu dengan Rehan yang ternyata belum tidur sama sepertinya. Ariel merasa sangat bersalah, karena membantunya Rehan sampai tak jadi pulang.


“Tidak bisa tidur?” tanya Rehan.


Ariel hanya mengangguk, kemudian duduk di samping Rehan di kursi kayu sebelah gazebo. Mereka hanya diam sambil memandangi bintang, dan merasakan angin malam yang menerpa kulit. Hingga tiba-tiba saja Rehan buka suara.


“Riel, aku ingin menawarkan sesuatu yang mungkin akan menguntungkanmu juga."


Ariel pun mengerutkan dahi menatap pria itu. “Tawaran apa?” tanyanya.


Ariel terperangah mendengar tawaran Rehan, ada angin apa? dan kenapa pria itu ingin dirinya berpura-pura.


“Aku punya kekasih, tapi aku ingin dia membenciku,” ucap Rehan lagi.


Ariel semakin mengerutkan dahi, kenapa pria itu ingin sang kekasih membenci jika memang saling mencintai.

__ADS_1


“Kenapa kamu ingin dia membencimu?” tanya Ariel sambil memandang Rehan.


Rehan tersenyum masam, kemudian menoleh Ariel yang duduk di sampingnya.


“Aku memiliki penyakit yang tidak bisa disembuhkan, sebab itu aku ingin dia membenciku,” jawab Rehan.


“Aku tidak mengerti, jika kamu sakit bukankah hal terindah adalah dilalui bersama orang yang kamu cintai, meski pada akhirnya itu takkan merubah apa pun akan kondisimu, tapi setidaknya itu akan membuatmu merasa tenang karena bisa bersama orang yang kamu cintai,” ucap Ariel mengeluarkan pendapat.


Rehan menggelengkan kepala, ternyata pemikirannya dengan Ariel sangat jauh berbeda.


“Kalau aku meninggalkannya dalam keadaan membenci, dia akan lebih mudah melupakanku. Namun, jika dia kutinggalkan dalam keadaan sangat mencintaiku, maka seumur hidup aku akan membuatnya menderita. Apa kamu paham?” Rehan memandang Ariel, berharap gadis itu paham dengan apa yang dirasakannya.


Ariel akhirnya paham dengan apa yang diinginkan Rehan, hingga tiba-tiba teringat akan Gagah yang sangat dia cintai.


“Mas Gagah, apakah Mas dalam keadaan membenci atau mencintaiku saat aku pergi?”

__ADS_1


__ADS_2