Immortality Flower

Immortality Flower
Pedang Darah


__ADS_3

Lou Shi akhirnya sampai diujung lorong hanya menemukan pintu batu menjulang. Pintu batu memiliki ukiran menyambung membentuk naga melingkari harta berharga. Sekuat tenaga Lou Shi membukanya namun pintu tersebut tak bergerak sedikitpun.


"Segel? " ucap Lou Shi.


Lou Shi menyentuh pintu batu tersebut merasakan aliran energi yang ada di dalamnya. Aliran berbeda namun berjalan tetap beriringan mengisi kekosongan satu sama lain. Aliran energi tersebut mengalir dari satu sisi ke sisi lainnya yang pada detik waktu tertentu berkumpul secara bersamaan pada satu titik.


"Ternyata ketepatan waktu adalah kuncinya, " ucap Lou Shi seakan bangga akan persepsinya.


Cairan mengalir keluar dari balik pintu batu menyentuh kaki Lou Shi. Bau amis menyerbak mendera indra penciumannya.


"Darah! " teriak Lou Shi.


Darah terus mengalir keluar tanpa henti membuat Lou Shi kebingungan akan dirinya yang terjebak ilusi atau benar-benar nyata. Jarinya mulai melukis diudara menyelesaikan aksara kuno yang tampak sempurna. Aksara kuno melesat menabrak pintu batu disaat aliran energi berkumpul pada satu titik.


"Boommm.... "


Segel hancur disertai pintu batu yang terbuka perlahan. Asap yang mengepul menghalangi penglihatan Lou Shi. Lambaian tangan menghilangkan kepulan asap tersebut. Betapa terkejutnya Lou Shi melihat apa yang ada di dalamnya. Setumpuk kepala yang sudah menjadi tengkorak menggunung diatas meja batu persegi bertingkat.


Lou Shi melangkahkan kakinya melewati genangan darah yang sebelumnya keluar dari balik pintu. Ruangan yang tak cukup besar berbentuk persegi hanya ada meja batu berundak ditengahnya yang terdapat setumpuk tengkorak kepala manusia.


"Apa maksud dari semua ini? " tanya Lou Shi.


Matanya tak sengaja menatap meja batu tersebut yang memiliki celah sedikit. Kedua tangan Lou Shi mengalir kekuatan jiwa yang memperkuat fisik. Mendorong meja batu tersebut sekuat tenaga yang ternyata bergeser sedikit demi sedikit. Meja batu berundak tersebut hanyalah lapisan batu menutupi sesuatu yang ada di dalamnya.


Bau busuk menyengat membuat Lou Shi tak tahan hingga menutupi hidungnya. Bau Anyir yang tak biasa tercium kuat seakan telah difermentasikan. Dibalik batu tersebut ternyata adalah kolam darah yang telah puluhan tahun tertutup hingga menimbulkan aroma aneh serta perubahan warna darah.


"Begitu kejam, apakah pemujaaan kepada iblis?" ucap Lou Shi.


Kolam darah berbuih dengan kemunculan jasad wanita utuh. Lou Shi mengangkat jasad tersebut dan meletakkannya di tanah. Jasad wanita muda dengan tubuh lengkap telanjang tergeletak di tanah tampak seperti peri tidur.


"Jika dugaanku tak salah, seharusnya wanita ini berumur sama seperti tengkorak-tengkorak itu, namun tubuhnya masih utuh membuatku ragu akan analisisku sendiri, " ucap Lou Shi.


Jasad wanita muda yang tak mengalami pembusukan membuat Lou Shi kagum dan memaki seseorang yang melakukannya. Lou Shi menghadap lurus ke pintu dengan pandangan kosong menatap gelapnya lorong. Bayangan kejadian hingga suara terdengar di telinganya.


"Pergilah, aku akan menahannya sebentar! "


"Tidak! Kita hadapi bersama! "


Sekelompok orang menghadang pasangan tersebut untuk pergi.


"Guan Ping, sang pemilik pedang bayang malam ternyata memiliki seorang kekasih"


"Xiong Dan! Apa yang ingin kau lakukan! " ucap Guan Ping.


"Tentu saja membunuhmu dan mencicipi tubuh kekasihmu, " jawab Xiong Dan tertawa keras mengejek Guan Ping.

__ADS_1


"Bajingan! Akan aku bunuh kau! " ucap Guan Ping melancarkan serangan pertamanya.


Pedang bayang malam terlihat mengkilat di kegelapan yang tampak mendominasi dibandingkan pedang milik Xiong Dan. Pertarungan terjadi dengan sengit, tangan Guan Ping bergetae ketika merasakan aura pedang menindas dari Xiong Dan.


"Kau tak akan pernah menang dariku, akan aku hancurkan tubuhmu menggunakan pedang darah milikku, " ucap Xiong Dan.


"Coba saja kalau bisa, " jawab Guan Ping menyeret pedangnya serta salto mengincar kepala Xiog Dan.


Tendangan Guan Ping berhasil ditangkis namun pedang bayang malam bergerak sendiri mengincar titik buta Xiong Dan.


"Trang!!! " suara pedang bayang malam yang ditangkis seseorang.


"Xia Cheng! " ucap Guan Ping.


"Ya ini aku. Menyerahlah, perlawanmu tidak berguna. Lihatlah kekasihmu Cui Mei. Sungguh tubuh yang indah, " ucap Xia Cheng.


Guan Ping melihat Cui Mei tengah dikepung dan ditahan oleh anak buah Xiong Dan. Cui Mei hanyalah pendekar wanita biasa yang dicintai oleh Guan Ping.


Dengan marahnya Guan Ping mengangkat pedangnya melesat ke arah Cui Mei namun dihadap oleh Xia Cheng.


"Lawanmu bukanlah mereka, namun aku, " ucap Xia Cheng mengeluarkan pisau kembar miliknya.


"Jleb... "


Xia Cheng melihat kebawah terkejut akan pedang yang menancap di perutnya.


Huang Ruqi memukul setiap pria bajingan yang ingin melecehkan Cui Mei hingga mati kemudian mengambik pedangnya dari tubuh Xia Cheng. Salah satu kelebihan pedang angin adalah tidak menimbulkan suara ketika di gunakan.


"Bajingan kau Huang Ruqi! " marah Xiong Dan.


"Kau sebut aku bajingan? Lantas panggilan apa yang pantas aku sematkan padamu! " marah Huang Ruqi.


"Kubunuh kau! " ucap Xiong Dan.


Huang Ruqi bertarung dengan Xiong Dan dengan kekuatan seimbang tanpa celah. Pedang milik Huang Ruqi lebih tipis namun kecepatan yang dimilikinya lebih tinggi daripada Xiong Dan.


"Teknik angin milikmu hanyalah bualan bagiku, " ucap Xiong Dan meremehkan Huang Ruqi.


"Apakah kau lupa julukanku? " tanya Huang Ruqi.


"Feng Jian Shi? Sungguh konyol! " balas Xiong Dan.


"Aku Xiong Dan akan aku bunuh kau menggunakan pedang darah milikku, " ucap Xiong Dan tertawa keras.


Angin berputar membentuk tornado diujung pedang angin Huang Ruqi dengan darah dari anak buah Xiong Dan terhisap ke dalam pedang darah. Perubahan terjadi pada pedang darah dengan kekuatan pedang meningkat drastis dari sebelumnya.

__ADS_1


"Pemujaanku tak akan pernah mengkhianatiku, " ucap Xiong Dan melemparkan pedang darah miliknya kepada Huang Ruqi.


Huang Ruqi mengangkat pedang angin memutarkan membuat jangkauan daya hisap angin semakin luas.


"Bajingan iblis sepertimu harus dimusnahkan! " teriak Huang Ruqi melemparkan pedang angin.


Kedua pedang bertabrakan menyebabkan angin dahsyat menghempaskan segala yang ada. Guan Ping memeluk tubuh Cui Mei dengan erat melindunginya dari terpaan angin yang datang.


"Apakah ini kekuatan pedang darah yang dimaksud guru? " batin Huang Ruqi.


"Pedang darah memiliki kekuatan serpihan jiwa iblis. Kekuatannya luar biasa hebatnya, kau harus berhati-hati bila melawannya"


"Apakah ada cara untuk mengalahkannya guru? " tanya Huang Ruqi.


Guru Huang Ruqi memberikan sebuah buku tipis yang memiliki kekuatan suci penyegelan.


"Kitab sajak abadi dapat mematahkan kekuatannya, namun untuk menyegelnya tergantung kekuatanmu sendiri"


"Terimakasih guru, " ucap Huang Ruqi.


"Selalu berhati-hati. Ingatlah gurumu Ling Jie yang merupakan pendekar gunung Baiyun hampir mati ketika melawannya"


"Murid akan mengingat nasihat guru, " balas Huang Ruqi.


Bentrokan kekuatan semakin hebat ketika Xiong Dan mengeluarkan kekuatan penuh dari pedang darah. Pedang angin milik Huang Ruqi bergetar tak kuasa menahan tekanan kuat dari pedang iblis.


"Laut tenang, sungai mengalir. Awan hitam mengurai, cahayapun turun menyinari. Surga tak akan pernah ternodai, bahkan setitik dosa tak dapat direstui. Iblis akan musnah, dunia akan aman. Hatiku akan selalu benar, aku mengorbankan untuk penyegelan"


Huang Ruqi mengucapkan mantra penyegelan iblis yang ada di dalam buku sajak abadi. Aksara kuno keluar dari mulut Huang Ruqi mengelilingi pedang darah menyegelnya secara mutlak. Xiong Dan memuntahkan seteguk darah ketika jiwanya terputus dengan pedang darah.


"Apa yang kau lakukan! " marah Xiong Dan.


Huang Ruqi menghampiri Xiong Dan mengangkat pedangnya untuk menebas kepala Xiong Dan. Namun bukan kepala yang menggelinding melainkan perut yang tertusuk.


"Apa yang kau lakukan! " ucap Huang Ruqi melihat pedang bayang malam menembus perutnya.


Guan Ping mencabut pedangnya dari perut Huang Ruqi membuatnya terjatuh. Guan Ping kemudian menebas kepala Xiong Dan melumuri pedang bayang malam dengan darah.


Cui Mei merasa ketakutan akan sikap Guan Ping. Pedang angin melesat menghadang Guan Ping untuk menyakiti Cui Mei.


"Tubuhmu terlalu kotor. Aku jijik denganmu yang disentuh banyak pria, " ucap Guan Ping sesaat mencekik leher Cui Mei hingga mati.


Guan Ping menelanjangi Cui Mei dan menghilangkan bekas cekikakan menggunakan kekuatannya kemudian meletakkan di peti batu yang tak jauh darinya. Guan Ping mengisi peti tersebut menggunakan darah anak buah Xiong Dan hingga menutupi tubuh Cui Mei sebelum menutup peti batu tersebut.


Guan Ping melakukan hal keji dengan menebas kepala anak buah Xiong Dan menaruhnya diatas peti Cui Mei dengan kepala Xia Cheng dan Xiong Dan berada di atas sendiri. Guan Ping menemukan pintu keluar lain membiarkan tubuh Huang Ruqi tergeletat begitu saja. Huang Ruqi yang sebelumnya menududuki peringkat ke 4 menggunakan pedang angin digantikan oleh Guan Pin pemilik pedang bayang malam.

__ADS_1


Lou Shi seketika merasakan sakit dikepalanya setelah melihat kilasan kejadian dimasa lalu melalui jejak jiwa Huang Ruqi yang tertinggal.


"Tidak masuk akal, pasti ada yang salah, " ucap Lou Shi.


__ADS_2