Immortality Flower

Immortality Flower
Disampingku Adalah Permaisuriku, Dihadapanku adalah Cintaku


__ADS_3

Hiasan memenuhi istana. Para pelayan sibuk mengerjakan tugasnya masing-masing. Kepala pelayan mengkoordinasi sehingga pekerjaan bisa berjalan dengan lancar. Jalanan dihiasi dengan apik. Lampion bergantungan di setiap rumah. Ibukota meriah dengan pernikahan Kaisar Wu Jing Ren dengan Wen Xi Meng.


Pernikahan mereka tak berjalan mulus karena Kaisar Wu Jing Ren akan mengambil Permaisuri dari kalangan dunia persilatan. Pertentangan bukanlah tanpa sebab. Para pejabat tak ingin pemerintahan bercampur dengan dunia persilatan, namun perguruan lembah racun menjamin bahwa mereka tak akan ikut campur pemerintahan dan akan melepas Wen Xi Meng kepada Kaisar Wu Jing Ren. Pejabat setuju akan pernyataan ketua perguruan lembah racun.


Iring-iringan kereta kuda pengantin mulai memasuki halaman istana. Penghuni istana bersiap menyambutnya. Kaisar Wu Jing Ren berdiri melihat Wen Xi Meng memakai tudung kepala berjalan ke arahnya. Upacara pernikahan dilaksanakan dengan penuh hikmat. Saling mengucap janji sehidup semati. Pesta dilaksanakan tujuh hari tujuh malam dengan puncak acara akam di gelar di alun-alun ibukota.


Perjamuan besar dilaksanakan dan dihadiri oleh semua undangan dari berbagai kalangan. Kaisar Wu Jing Ren bersama dengan Wen Xi Meng yang telah dinobatkan sebagai Permaisuri duduk bersanding menjamu para tamu. Keluarga Lou telah datang diwaktu yang hampir bersamaan dengan Raja Jin. Lou Di Hen ataupun mentri Lou bersama dengan istrinya Jin Yu Mei datang menghadiri acara perjamuan.


Jin Yu Mei tak bersama dengan ayahnya Raja Jin ketika datang. Mentri Lou menghaturkan hormat kepada Kaisar dan Permaisuri atas keterlambatannya. Kecantikan Jin Yu Mei yang alami menarik perhatian Wen Xi Meng. Tangannya mengepal iri akan kecantikan Jin Yu Mei. Raja Jin menoleh sesaat ke arah Wen Xi Meng yang menangkap ekspresi kesal kepada putrinya.


"Sudah aku duga, "ucap Raja Jin.


Mentri Lou dan Jin Yu Mei duduk menikmati perjamuan berbasa-basi dengan bangsawan lainnya.


" Mei'er. Kau harus berhati-hati dengan Permaisuri, "ucap Raja Jin melalui pikiran.


Jin Yu Mei mendengae suara ayahnya di dalam pikirannya lantas menoleh menganggukkan kepalanya.


" Raja Jin. Bagaimana keadaan di perbatasan negara Zhang? "tanya Kaisar Wu Jing Ren.


" Menjawab. Keadaan di perbatasan kondusif,"jawab Raja Jin.


Kaisar Wu Jing Ren puas akan jawaban Raja Jin. Kenaikan takhtanya yang terlalu mendesak akibat meninggalnya mendiang Kaisar terdahulu yang mendadak. Kekuatan istana Raja Jin tak perlu diragukan lagi. Raja beda marga yang memiliki kekuasaan layaknya Kaisar di luar tembok istana Wu.


Acara berlanjut hingga tengah malam. Wen Xi Meng telah berada di kamar menunggu Kaisar Wu Jing Ren datang. Pintu terbuka, seseorang berjalan sempoyongan membuka tirai yang tak lain adalah Kaisar Wu Jing Ren.


"Xi'er, ayo layani suamimu dengan baik, " ucap Kaisar Wu Jing Ren.


Penutup kepala Wen Xi Meng dibuka oleh Kaisar Jing Ren yang kemudian kecupan manis diterima oleh Wen Xi Meng. Malam penuh gairah di tengah rembulan bersinar terang.


Jin Yu Mei berada di pinggiran kolam melihat bayangan wajahnya di permukaan air. Tubuhnya seakan bersinar ketika sinar rembulan mengenainya. Kaisar Wu Jing Ren berdiri menatap ke arah luar yang tak sengaja melihat Jin Yu Mei.


Persetubuhan panas yang dia lakukan membuat Wen Xi Meng kelelahan hingga tertidur. Kaisar Wu Jing Ren dengan tubuh atletisnya memandang Jin Yu Mei dengan tatapan yang tak bisa di artikan.


Jin Yu Mei melihat bulan yang tampak indah sembari mengingat kejadian dimana ia melihat perwujudan wajah Dewi Bulan.


"Apakah hidupku akan bersinar terang layaknya cahaya rembulan? " ucap Jin Yu Mei.

__ADS_1


"Wajahmu dapat menerangi seluruh dunia, " ucap Kaisar Wu Jing Ren.


Jin Yu Mei berbalik ketika mendengar suara terhormat tersebut.


"Yang Mulia. Hamba memberi hormat, " ucap Jin Yu Mei.


Kaisar Wu Jing Ren berdiri di depan Jin Yu Mei yang tengah menundukkan kepalanya.


"Berdirilah, " ucap Kaisar Wu Jing Ren.


Jin Yu Mei menuruti perintah Kaisar Wu Jing Ren untuk berdiri. Keduanya saling memandang dibawah sinar rembulan. Mata tajam mengawasi dari kejauhan yang merupakan Wen Xi Meng.


"Hamba undur diri, " ucap Jin Yu Mei.


Jin Yu Mei meninggalkan Kaisar Wu Jing Ren ketika merasa keadaan canggung yang membuatnya tak nyaman. Mempercepat langkah menuju kemarnya namun dikejutkan oleh seseorang.


"Ayah! " ucap Jin Yu Mei terkejut.


"Kau harus bisa menahan diri atau bencana akan terjadi, " ucap Raja Jin.


"Putri ini mengerti nasihat ayah, " jawab Jin Yu Mei.


"Akan aku bunuh kau demi wajah cantik abadiku," ucap Wen Xi Meng.


Matahari belum menunjukkan wujudnya, namun pelayan istana telah sibuk dengan segala persiapan sarapan keluarga istana dan tamu-tamu penting yang hadir. Masing-masing pelayan berdiri di pintu kamar tamu menunggu arahan perintah dari pelayan pribadinya. Kamar Jin Yu Mei telah terbuka dengan Mentri Lou yang telah bersiap.


"Nyonya, pelayan istana akan membantu anda, " ucap pelayan pribadi Jin Yu Mei.


"Hmmm" balas Jin Yu Mei.


Pelayan istana datang menyiapkan pakaian terbaik yang khusus disiapkan. Jin Yu Mei mengerinyatkan dahinya sebab pakaian disiapkan oleh pelayan istana.


"Mengapa mereka yang menyiapkan pakaianku? " tanya Jin Yu Mei.


Pelayan pribadinya membisikkan sesuatu di telinganya.


"Yang Mulia Kaisar yang menyiapkan khusus untuk anda yang diatur oleh kepala pelayan atas perintah dari kepala kasim, " ucap lirih pelayan pribadi Jin Yu Mei.

__ADS_1


"Kaisar? " tanya Jin Yu Mei.


Jin Yu Mei di dandani oleh pelayan senior istana yang mengatur segala keperluan pelayan. Pakaian mewah dikenakan oleh Jin Yu Mei yang merupakan pemberian dari Kaisar Wu.


"Nyonya, pelayanan telah selesai. Apakah ada sesuatu yang ingin anda inginkan? " tanya pelayan senior.


"Tidak ada. Kau bisa pergi, " ucap Jin Yu Mei.


"Mengerti, " balas pelayan senior.


Mentri Lou menghilang semenjak pagi bercengkrama dengan para pria mencari relasi yang akan memudahkannya dalam hal pekerjaan di masa depan. Seluruh kamar tamu terbuka lebar. Cahaya mentari menyinari istana. Nyonya bangsawan keluar dari dalam kamar dengan pakaian terbaiknya. Mentri Lou telah kembali menggandeng Jin Yu Mei berjalan menuju ruang makan.


Pelayan menyiapkan berbagau hidangan mewah yang telah terjadi di atas meja panjang. Para bangsawan duduk di kursinya menunggu Kaisar dan Permaisuri hadir. Suara kasim menggema, semua orang berdiri.


"Salam hormat kepada Yang Mulia. Langit memberkahi umur panjang dan kemakmuran dinasti Wu, " ucap mereka serempak.


Para bangsawan duduk kembali setelah Kaisar dan Permaisuri duduk di tempatnya. Acara sarapan berlangsung hikmat dengan mengedepankan etika makan. Alat makan Kaisar telah diletakkan di samping meja yang menandakan semua orang untuk berhenti.


"Acara puncak akan dilaksanakan di alun-alun ibukota. Harap semua untuk hadir, " ucap Kaisar Wu Jing Ren.


"Mengerti Yang Mulia, " jawab mereka serempak.


Jin Yu Mei mendapat perhatian dari Kaisar tanpa dirinya sadari. Pakaiannya yang mencolok diantara yang lain bahkan menyaingi Permaisuri.


"Mentri Lou sangat memanjakan Nyonya Lou, " ucap Wen Xi Meng.


Mentri Lou tertawa canggung menanggapi perkataan Wen Xi Meng.


"Putriku harus dimanjakan. Bila dia tidak bisa melakukannya, ceraikan saja," ucap Raja Jin.


Mentri Lou melihat ke arah mertuanya tersenyum menanggapi.


"Apa yang dikatakan oleh Raja Jin benar adanya. Mungkin nyawaku akan menghilang bila membuat kecewa putri satu-satunya, " balas Mentri Lou.


Permaisuri tertawa mendengar balasan menusuk dari Raja Jin.


"Raja Jin terlalu jujur. Lebih baik memiliki sedikit kebohongan untuk menutupinya, " ucap Wen Xi Meng.

__ADS_1


Jin Yu Mei terbawa oleh suasana hingga senyumnya mengembang. Kaisar Wu bersumpah di dalam hatinya bahwa senyum dari orang yang tak jauh di hadapannya adalah senyuman yang paling indah yang pernai ia lihat seumur hidupnya.


__ADS_2