Immortality Flower

Immortality Flower
Pelabuhan Shuishang


__ADS_3

Pelabuhan Shuishang nampak ramai dengan aktivitas perdagangan laut. Banyak orang melakukan tukar-menukar barang ataupun hanya sekedar datang berwisata. Pelabuhan Shuishang salah satu pelabuhan tersibuk dan termegah yang di perhatikan Kaisar.


"Aku pesan makanan terbaik, " ucap Chen Lie.


"Baik, Tuan muda" jawab pelayan.


Restoran besar yang ada di pelabuhan merupakan gabungan dari berbagai pihak yang mendirikannya. Kaisar menginstruksikan bahwa pelabuhan Shuishang hanya akan memiliki satu restoran dan masyarakat dapat memberikan modal kepada pengelola restoran yang dapat memberikan keuntungan bagi mereka yang menanam modal.


"Kaisar Zhang cukup fleksibel dalam pemerintahannya," ucap Xia Cheng.


Makanan pesanan telah datang. Chen Lie buru-buru mengambil sumpit memakan makanan tersebut.


"Sungguh makanan yang lezat, " puji Chen Lie.


Xia Cheng mengambil sumpitnya kemudian melahap makanan pesanannya. Suasana tampak hikmat menikmati makanan sendiri-sendiri. Suara petikan guqin mengalihkan pandangan mereka.


"Siapa dia? " tanya Chen Lie melihat seorang wanita bercadar yang tengah bermain guqin menunjukkan penampilannya.


Xia Cheng menyipitkan matanya melihat wanita tersebut. Selambu kain melayang-layang di udara mengitari wanita tersebut menambah kesan misterius. Xia Cheng melihat air yang ada di meja yang tak lama kemudian memejamkan matanya. Di dalam pikiran Xia Cheng tervisualisasi keadaan sekitar dimana aura langit dan bumi terserap ke dalam guqin yang kemudian terhempas kembali dengan kekuatan penekanan.


"Kultivasi musik miliknya telah mencapai ranah pendalaman energi jiwa, " ucap Xia Cheng.


"Kau tahu? " tanya Chen Lie.


"Aura langit dan bumi terserap ke dalam alat musik yang kemudian jiwa dari pengguna menstimulasi aura langit dan bumi ke luar dari tubuh dan menghempaskannya dalam bentuk energi jiwa. Jarang ada praktisi yang dapat memahami ranah ini, " jawab Xia Cheng.


"Praktisi hebat ada di sini? Bukankah mencurigakan? " tanya Chen Lie.


Xia Cheng menggelengkan kepalanya tanda tidak setuju pertanyaan Chen Lie.


"Kemungkinan restoran ini mengundang praktisi jalan kultivasi musik untuk menarik banyak pelanggan, " ucap Xia Cheng.


Petikan senar guqin terdengar mendayu-dayu, helaian kain seakan menari tersapu angin. Aura spiritual menguar di udara. Alunan lagu bergema indah. Semua orang terpesona akan pembawaan wanita tersebut. Tepukan terdengar memuji penampilannya.


"Nona! Kau berasal dari mana! " teriak Chen Lie dari lantai dua yang menarik perhatian semua orang.

__ADS_1


Wanita tersebut tertawa merdu sembari menggerakkan jari lentiknya menjawab pertanyaan dari Chen Lie.


"Paviliun Changge. Tuan dapat mencari saya disana, " jawab wanita tersebut tersenyum yang dapat dilihat samar oleh Chen Lie.


Chen Lie terpesona akan senyuman tersebut hingga matanya berkedip beberapa kali.


"Aku akan datang menikahimu! " ucap Chen Lie.


Wanita tersebut tertawa pelan mendengar balasan Chen Lie.


"Jika tuan berani, " jawabnya.


"Aku suka wanita misterius, " ucap Chen Lie.


Wanita tersebut berdiri membawa guqin nya menuruni panggung. Chen Lie mendapatkan ikan segarnya segera duduk kembali.


"Jika raja Mo Zui datang, aku yakin aku tak akan dapat membedakannya ketika kau disampingnya," ucap Xia Cheng.


"Kau menyamakan aku dengan Raja Mo Zui? Sungguh biadab sekali kau sebagai teman, " ucap Chen Lie.


Raja Mo Zui salah satu dari Raja Neraka yang mewakili dosa hawa nafsu.


Xia Cheng tak memerdulikan Chen Lie yang tengah mengejeknya.


"Manusia memiliki birahi, jika tidak memilikinya berarti ia bukan manusia, " ucap Chen Lie.


"Aku tahu, " balas Xia Cheng.


Mereka mendengar bahwa kapal selanjutnya terjebak badai yang membuat kapal tak dapat datang tepat waktu ke pelabuhan.


"Apakah ulah mosnter yang sama? " ucap Chen Lie berpikir.


"Mungkin salah satu koloninya, " jawab Xia Cheng.


Restoran tempat mereka makan tak menyediakan penginapana namun cabang dari restoran menyediakan penginapan untuk pengunjung tamu.

__ADS_1


"Tuan dapat menunjukkan plakat ini kepada pelayan penginapan. Plakat ini sebagai bukti bahwa tuan telah membayar biaya sewa penginapan di restoran kami, " ucap resepsionis.


Xia Cheng menerima plakat tersebut kemudian pergi bersama dengan Chen Lie menuju penginapan. Nelayan menurunkan hasil tangkapan mereka ataupun membersihkan kapal. Patung yang ada di setiap kapal menarik perhatian Chen Lie.


"Dewa apa yang mereka sembah? " tanya Chen Lie.


"Kebanyakan penduduk pesisir ataupun orang-orang yang bekerja di laut menyembah Dewi Laut sebagai pelindung mereka saat melaut, " jawab Xia Cheng.


"Aku baru tahu, " ucap Chen Lie.


Mereka telah sampai di depan bangunan bertingkat yang merupakan penginapan terbesar di pelabuhan yang dikelola berbagai pihak sama seperti restoran sebelumnya. Xia Cheng memberikan plakat tersebut kepada resepsionis dan menadapatkan dua kunci kamar.


Kamar mereka bersebelahan. Lelah akan perjalanan panjang, mereka beristirahat dengan damai. Xia Cheng membuka matanya saat tengah malam. Rambutnya tergerai indah dengan pakaian tipis yang dikenakan.


"Bulan purnama, " gumamnya melihat ke arah jendela.


Xia Cheng berada di atap penginapan melihat ke arah laut dimana bulan bersinar terang di atasnya. Rambut panjangnya sesekali berkibar terkena angin laut. Pakaian putih bersihnya melambai-lambai.


"Aku tak punya pilihan selain mengikuti Tuan muda, " ucap Xia Cheng.


Seorang remaja laki-laki yang tengah meringkuk kelaparan di tengah hujan deras menarik perhatian pria muda yang tak sengaja melewatinya. Pria muda tersebut mengulurkan tangannya memberikan sepotong kue yang langsung direbut oleh remaja laki-laki tersebut.


"Ikutlah denganku, kau tak akan pernah kelaparan, " ucapnya mengulurkan tangan yang ragu-ragu dibalas remaja laki-laki tersebut.


Xia Cheng merenung mengingat masa lalu yang kelam saat merasakan kelaparan hingga penghinaan.


"Budi harus aku balas, namun aku tak mau bila hidupku hanya seperti ini, " ucap Xia Cheng galau akan keputusan yang akan dia ambil.


Xia Cheng salah satu bawahan berbakat milik Tuan muda pertama. Terkenal berpakain putih bersih serta hati yang tak mengenal cinta. Semua orang yang mengenalnya sebagai pemuda mati rasa. Hanya satu orang yang mengerti dirinya yaitu Chen Lie yang berbanding terbalik dengan sifat Xia Cheng.


"Tugas adalah tugas dan bawahan adalah bawahan. Aku tak boleh berkhianat seumur hidupku, "ucap Xia Cheng.


Cahaya bulan bersinar terang hingga memantul dipermukaan air laut. Formasi aneh tiba-tiba muncul di permukaan air laut. Xia Cheng yang melihatnya seketika berdiri terkejut. Xia Cheng menggosok kedua matanya ketika melihat seorang wanita berjalan menuju tengah laut. Cahaya terang menyilaukan tiba-tiba muncul membuat Xia Cheng menutup matanya.


"Apakah yang aku lihat adalah ilusi? " tanyanya heran ketika melihat bahwa tak ada tanda formasi di permukaan air laut.

__ADS_1


Xia Cheng merasa bahwa dirinya telah berhalusinasi akibat kelelahan memutuskan untuk kembali ke kamar. Xia Cheng tak menyadari bahwa seorang wanita berdiri di atas atap di belakangnya tersenyum sembari memegang sebuah guqin.


"Budi harus dibalas apapun yang terjadi," ucapnya sebelum menghilang.


__ADS_2