Immortality Flower

Immortality Flower
Melewati Hutan Alami


__ADS_3

Beberapa hari berlayar hingga pelabuhan terdekat yang termasuk ke dalam wilayah Wu terlihat. Pelabuhan Wushui yang tak kalah megah dengan pelabuhan Shuishang negara Zhang. Pelabuhan tempat dimana seluruh aktivitas perairan berhenti untuk beristirahat ataupun yang lainnya.


"Semoga kalian selamat, " ucap Xing Jiao Lao menepuk pundak Xia Cheng.


Xing Jiao Lao turun terlebih dahulu meninggalkan mereka. Xia Cheng tampak keheranan dengan ucapan Xing Jiao Lao.


"Apa maksud tuan Xiang? " tanya Xia Cheng.


"Negara Wu memiliki konflik internal yang cukup membuat seluruh kekuatan di dalamnya goyah, "jawab Lu Jia.


" Maksudmu? "ucap Xua Cheng.


" Ikuti aku, "balas Lu Jia.


Kereta kuda telah menunggu kedatangan Lu Jia. Xia Cheng dan Chen Lie diberikan kuda atas perintah Lu Jia sendiri. Kereta berjalan pelan di tengah keramaian suasana pelabuhan.


" Bukankah tebakanku benar bahwa dia orang penting? "ucap lirih Chen Lie.


" Kita bisa memanfaatkan paviliun Changge untuk langkah awal membangun kekuatan, "ucap Chen Lie mengungkapkan rencana awalnya.


"Kita lihat nanti, " balas Xia Cheng.


Perjalanan dari pelabuhan menuju ibukota Wu memakan waktu berhari-hari. Lu Jia menginstruksikan untuk beristirahat ketika ada pondok kecil yang memiliki bendera bulan sabit.


"Seperti direncanakan oleh seseorang.Tempat peristirahatan kita selalu terdapat bendera biru itu, " ucap Chen Lie.


Xia Cheng dan Chen Lie menjauh dari tempat duduk Lu Jia. Semenjak meninggalkan pelabuhan, Lu Jia mengenakan cadar yang menutupi sebagian wajahnya.


"Perjalanan kita telah direncanakan. Segala rintangan disingkirkan tanpa kita ketahui, " balas Xia Cheng.


Lu Jia berdiri yang diikuti oleh pengawal di sampingnya. Xia Cheng dan Chen Lie mengikuti Lu Jia yanh sama-sama berdiri untuk melanjutkan perjalanan. Salah satu pengawal Lu Jia tinggal di sana setelah meraka pergi menjauh dari pondok kecil tersebut.


"Laksanakan sesuai perintah"


"Baik"


Obor ditangan ia lemparkan ke arah pondok hingga api membesar membakar seluruh pondok. Asap hitam mengepul dari kejauhan yang menarik perhatian Xia Cheng maupun Chen Lie.

__ADS_1


"Apa itu! " ucap Chen Lie terkejut.


Lu Jia membuka selambu kereta menjawab pertanyaan dari Chen Lie.


"Abaikan saja, anggap angin lalu" ucap Lu Jia.


Mereka sampai di depan hutan yang merupakan wilayah kekuasaan Raja Jin.


"Di depan adalah hutan alami yang termasuk wilayah kekuasaan Raja Jin. Jangan bertindak yang tidak-tidak. Apa kalian mengerti? " ucap Lu Jia.


"Mengerti, " balas mereka bersamaan.


Kereta kuda melaju di tengah hutan alami. Jalan khusus yang dibuat oleh Raja Jin untuk memudahkan masyarakat dalam melintasi hutan alami. Hewan buas telah dibersihkan. Hanya tersisa hewan-hewan yang tak berbahaya bagi manusia. Tumbuhan langka berserakan yang sangat diidamkan bagi seorang alkemis.


"Nona, apakah Raja Jin hutannya dijarah? " tanya Chen Lie yang penasaran melihat tumbuhan obat yang tumbuh subur di hutan alami.


"Aku sama halnya terkejut. Di wilayah sembilan kekuatan, kebun obat sangat dijaga dan dibudidayakan oleh alkemis-alkemis hebat. Bahkan hutan yang memiliki tanaman obat akan dilepaskan hewan-hewan buas untuk menjaga obat di dalamnya. Hutan alami malah sebaliknya. Hewan-hewan buas dibersihkan, " batin Xia Cheng.


"Raja Jin memperbolehkan penduduk di sekitar memetiknya digunakan untuk obat yang bahkan Raja Jin sendiri mengutus salah satu alkemis terbaik istananya membantu penduduk membuat pil bila dibutuhkan dan semuanya adalah gratis tanpa dipungut biata sepeserpun, " jawab Lu Jia.


"Raja Jin murah hati kepada sesama manusia, " balas Chen Lie.


"Nona Lu. Apakah Raja Jin sangat disanjung di sini? " tanya Xia Cheng.


"Raja Jin sangat disanjung disini. Oleh karena itu penduduk di sekitar menjadi pengikut Raja Jin hidup ataupun mati. Generasi tua ataupun sekarang akan tetap sama yaitu menganggap Raja Jin adalah Dewa mereka, " jawab Lu Jia.


"Pantas bila Nona kesulitan membangun kekuatan. Pengaruh Raja Jin terlalu mengerikan. Apakah Kaisar tidak tahut Raja Jin melengeserkan takhtanya, " batin Xia Cheng keheranan.


"Tuan tidak perlu berpikiran buruk mengenai Raja Jin. Perjanjian darah dengan Kaisar pertama menjelaskan semuanya. Raja Jin tak akan berani memberontak sebab bila berani melakukannya maka Yang Mulia Naga Agung akan membinasakannya. Begitupun sebaliknya, Raja Jin tak akan pernah bisa dihukum oleh Kaisar yang menjabat apapun yang terjadi kecuali rakyat yang meminta, " ucap Lu Jia.


"Nona Lu memang hebat bisa membaca pikiranku, " balas Xia Cheng tersenyum


Lu Jia kembali menutup selambu kereta. Chen Lie memberikan kode kepada Xia Cheng untuk menjauh sedikit dari kereta kuda.


"Raja Jin tidak boleh diremehkan. Pantas nona kesulitan membangun kekuatan, " bisik Chen Lie.


"Aku paham. Misi kita tak akan mudah, " balas Xia Cheng.

__ADS_1


Seseorang di samping kereta kuda mengetuk kereta memberikan tanda kepada Lu Jia.


"Ada apa! " tanya Lu Jia.


"Mereka terlalu mencurigakan. Apakah ketua tidak akaj bertindak? "


"Tidak perlu. Aku turun bersama dengan Tuan Xing Jiao Lao. Aku tidak peduli dengan mereka dan bukan urusanku, " balas Lu Jia.


"Apa! Tuan Xing Jiao Lao kemari? " balasnya terkejut.


"Sepertinya Tuan Xing Jiao Lao ingin berkunjung saja tidak lebih"


"Aku harap begitu"


Angin berhembus pelan menyejukkan suasana. Chen Lie merasakan tubuhnya ringan seakan melayang di udara.


"Disini komposisi lima elemen dan energi langit dan bumi selaras tanpa adanya gangguan. Sungguh tempat yang langka. Jika paviliun lima elemen tahu, maka mereka pasti memikirkan cara untuk merebut tempat ini, " ucap Chen Lie.


"Tak akan ada yang berani bila termasuk kekuasaan Raja Jin, " balas Xia Cheng.


Kereta kuda berjalan pelan menghindari kuda mengalami kelelahan. Gerbang besar terlihat kokoh menjulang dengan patung bangau putih mengepakkan sayapnya. Tidak ada satupun penjaga yang menjaga gerbang tersebut.


"Gerbang? Apakah kita telah sampai di ibukota? " tanya Chen Lie.


"Belum, itu adalah salah satu gerbang samping dari wilayah istana Raja Jin, " jawab Lu Jia.


"Apa! Gerbang istana? " ucap Chen Lie terkejut.


Salah satu gerbang samping yang dimaksud Lu Jia adalah gerbang bangau putih yang langsung berhadapan dengan hutan alami penuh obat-obatan. Filosofi dari gerbang bangau putih adalah keabadian. Hutan alami tempat dimana obat-obatan yang merupakan surga bagi para alkemis. Para alkemis hebat membuat pil keabadian untun Tuan mereka. Hutan alami diibaratkan sebagai pil keabadian sedangkan bangau putih adalah lambang keabadian.


"Jika salah satu gerbang samping ada di sini, berarti halaman istana sangatlah luas" ucap Chen Lie.


"Betul. Halaman istana Raja Jin sangatlah luas, " balas Lu Jia.


Perjalanan dilanjutkan hingga melewati hutan alami. Pengawal Lu Jia seperti memberikan instruksi dengan melepaskan merpati pengirim surat.


"Kita akan tiba di ibukota. Aku membawa kalian yang berarti mempertaruhkan namaku sendiri. Aku harap kalian mengerti, " ucap Lu Jia.

__ADS_1


"Kami mengerti, " ucap Xia Cheng.


__ADS_2