
"Guru aku datang, " ucap Jendral An Ning.
"Sudah lama kau tak datang kemari" ucap Guru Liu Ni.
"Murid terlalu banyak pekerjaan yang harus diurus, " jawab Jendral An Ning.
Guru Liu Ni yang merupakan mantan Penasihat Agung Kaisar terdahulu merupakan guru dari Jendral An Ning. Guru Liu Ni yang menepi dari pemerintahan setelah meninggalnya Kaisar Wu terdahulu.
"Sepertinya kau menemukan masalah, " ucap Guru Liu Ni.
"Guru aku ingin bertanya mengenai Kaisar Terdahulu, " ucap Jendral An Ning.
"Mengenai? " tanya Guru Liu Ni.
"Dekrit rahasia Kaisar Wu Jing Ren, " jawab Jendral An Ning.
Guru Liu Ni menghentikan aktivitas bermain caturnya ketika mendengar Jendral An Ning mengucapkan mengenai dekrit rahasia.
"Dahulu, Kaisar Wu Jing Ren menuliskan perintah untuk menjaga dekrit tersebut yang berjumlah lima buah. Masing-masing dekrit diberikan oleh penguasa wilayah tersebut yang kebanyakan adalah kepala desa ataupun penguasa kota, " ucap Guru Liu Ni.
"Apakah Permaisurinya tahu? " tanya Jendral An Ning.
"Permaisuri Wen Bing tidak mengetahuinya, hanya aku dan Kaisar. Orang yang mengantarkan keempat surat tersebut telah dipenggal sendiri oleh Kaisar, "ucap Guru Liu Ni.
"Siapa yang mengantarkan surat terakhir? " tanya Jendral An Ning.
"Kaisar sendiri yang mengantarkannya," jawab Guru Liu Ni.
Ditengah hujan yang lebat, Kaisar duduk di kereta kuda yang di kendarai oleh Guru Liu Ni sendiri. Menerobos derasnya hujan tanpa perduli, longsor terjadi akibat derasnya hujan tak menyurutkan Kaisar mendatangi tempat yang dituju.
"Yang Mulia, kita telah sampai, " ucap Penasihat Agung Liu Ni.
Kaisar Wu Jing Ren turun dari kereta kuda dengan Penasihat Li membawa payung untuk Yang Mulia Kaisar. Kaisar mengetuk pintu yang tak lama kemudian seorang wanita membukakan pintu.
"Yang Mulia, " ucapnya pelan.
__ADS_1
"Qing'er, siapa yang datang bertamu malam-malam, " ucap seseorang dari dalam.
Kaisar Wu Jing Ren segera menarik wanita tersebut pergi. Seorang laki-laki keluar dari dalam kamar mencari istrinya namun tidak menemukan apa-apa. Seseorang membunuhnya yang tak lain adalah Penasihat Agung Liu Ni.
Kaisar menarik wanita tersebut hingga kebelakang rumah kemudian melambaikan tangannya membuat wanita tersebut berubah wajah menjadi suaminya sendiri.
"Apa yang anda lakukan Yang Mulia, " ucap wanita tersebut yang bernama Jiang Qing.
"Jaga Dekrit ini berikut keturunanmu atau meskipun aku mati, aku akan keluar dari alam baka menghukum keturunanmu bila tidak menjaganya dengan benar, " ucap Kaisar Wu Jiang Ren.
"Apa isinya Yang Mulia, " tanya Jiang Qing.
"Isinya adalah untuk keturunanku! " tegas Kaisar Wu Jiang Ren.
"Tapi, Zhuo Shan adalah putra anda, " jawab Jiang Qing.
"Plakkk!! "
"Bedebah dengan Zhuo Shan, aku tidak peduli! "ucap Kaisar meninggalkan Jiang Qing sendirian.
Zhuo Shan yang masih berumur 5 tahun melihat ayahnya berbicara dengan seseorang yang tak lain adalah ibunya sendiri. Semuanya adalah rencana Kaisar Wu Jiang Ren. Wajah Jiang Qing kembali seperti semula sedangkan ayahnya telah digantikan oleh seorang pelayan pria yang telah dirubah wajahnya oleh Penasihat Agung Liu Ni.
"Jalan! "perintah Kaisar.
Penasihat Agung Liu Ni menggendarai kereta kuda meninggalkan desa Shiluo. Zhuo Shan bertanya kepada ibunya.
"Ada apa dengan ibu?"tanya Zhuo Shan.
"Tidak apa-apa, " jawab Jiang Qing.
Jiang Qing menyuruh Zhuo Shan untuk tidur kembali. Dekrit yang Kaisar berikan kepadanya ia buka kemudian matanya menatap tajam mengepalkan tangannya. Tengah hari Jiang Qing berdiri di atas gunung Yaojia menuliskan beberapa junlah surat yang kemudian ia ikatkan pada burung pengantar pesan.
Burung-burung pengantar pesan terbang ke segala arah pergi ke tempat tujuan masing-masing. Perguruan Lembah Racun, Sekte Teratai Putih, Aliansi Jianling, Pulau Bei Dao, Puncak Bunga Persik, Akademi Langit Selatan, Istana Dong Xue, Sekte Mulia dan Perguruan Gunung Jiashen. Sembilan kekuasaan dunia persilatan menerima surat misterius yang menyatakan bahwa desa Shiluo menyimpan harta karun berharga yang diselimuti aura naga suci. Masing-masing perguruan ataupun sekte mengerahkan beberapa murid dalam hingga elite untuk datang ke desa Shiluo.
Arus dunia persilatan kacau hingga menyebabkan gelombang besar yang mengejutkan. Dunia persilatan yang dulunya ditenangkan oleh Kong Wei seketika berubah, suasana berkecamuk.
__ADS_1
Jiang Qing memberitahu Zhuo Shan bahwa ia harus menjaga desa Shiluo dan menjaga harta leluhur hingga diteruskan dari generasi ke generasi.
"Apa kau mengerti? " tanya Jiang Qing.
"Mengerti, " balas Zhuo Shan.
"Jaga adikmu baik-baik dan jangan pernah keluar sebelum aku datang, " ucap Jiang Qing.
Zhuo Shan menganggukkan kepalanya. Pintu rumah di dobrak. Suami dari Jiang Qing berusaha menghadang namun malah terbunuh oleh mereka.
"Dimana harta itu! " teriak murid dari Akademi Langit Selatan.
"Di dalam gunung Yaojia dengan akses jalan di puncak gunung, " jawab Jiang Qing gemetar.
Murid Akademi Selatan berlari ke arah Gunung Yaojia dengan semangat mendapatkan harta karun. Berbagai arah gunung di serbu oleh murid-murid dari berbagai sekte ataupun perguruan. Beberapa orang telah sampai di puncak gunung Yaojia.
Ketua Murid dalam Perguruan Lembah Racun, Liang Wei. Ketua Divisi Perburuan Harta Sekte Teratai Putih, Zhong Ru Ahn. Pimpinan murid elite Aliansi Jianling, Bao Lu. Ketua Murid tertutup Pulau Bei Dao, Xiang Zhi. Ketua Pasukan musim semi, dan gugur Puncak Bunga persik, Qun Fei. Ketua murid dalam Akademi Selatan, You Fu. Ketua murid dalam Istana Dong Xue, Qing Fei. Pimpinan divisi Quanli Sekte Mulia, Xin Yuan Ming dan Pimpinan murid elite Perguruan Gunung Jiashen, Wang Li Sun.
Semuanya telah berkumpul di puncak Gunung Yaojia membuat suasana menjadi tegang. Beberapa pendekar yang bukan termasuk dari delapan kekuatan besar dunia persilatan mendarat di lereng Gunung Yaojia. Guang Ping, Huang Ruqi hingga Hui Lan. Orang-orang tersebut ikut hadir meramaikan suasana perebutan harta.
Pedang melesat menembus awan hingga angin pun terbelah. Sebilah pedang tertancap di tengah-tengah mereka dengan ukiran yang ada di pedang tersebut bertulisan Putih Pembelah Langit. Seseorang turun dari langit dan berdiri di atas pedang tersebut yang tak lain adalah De Yuan.
Kaisar Wu Jing Ren menerima kabar bahwa arus dunia persilatan kacau. Sembilan kekuatan besar dunia persilatan bergerak secara bersamaan.
"Apa yang terjadi! " ucap Kaisar Wu Jing Ren.
"Melapor Yang Mulia, kabar akan adanya harta karun yang diselimuti aura naga suci telah tersebar ke segala penjuru dunia persilatan. Sembilan kekuatan besar dunia persilatan menginginkan harta tersebut termasuk para pendekar di luar naungan kekuatan besar tersebut, "ucap pimpinan pasukan elit Kekaisaran.
"Pergi! Kirim pasukan untuk menghentikan kekacuan," perintah Kaisar Wu Jing Ren.
"Siap melaksanakan perintah"
Kaisar Wu Jing Ren teringat akan kunjungannya ke desa Shiluo malam itu. Dirinya tak menyangka bahwa Jiang Qing berani melakukan tindakan besar tersebut.
"Wanita gila! " umpat Kaisar Jing Ren.
__ADS_1
Meskipun Kaisar Jing Ren adalah yang berkuasa di wilayah Wu, dunia persilatan sangatlah berbeda dengan pemerintahan. Dirinya sendiri tak berani terlalu banyak ikut campur tangan dengan sembilan kekuatan besar dunia persilatan.
"Kau layak untuk mati!! " teriak Kaisar Wu Jing Ren murka.