
Lin Huang keluar dari kamarnya hendak menutup pintu namun ia dikejutkan dengan pria yang sedikit lebih tua dibandingkan dengan dirinya berdiri menyenderkan tubuhnya pada dinding.
"Lama tak bertemu, " ucapnya menyapa Lin Huang.
Lin Huang mengerutkan kening merasa tak pernah bertemu dengan orang tersebut.
"Siapa? " tanya Bai Yangan.
"Bai Cheng, sepupumu"
Lin Huang seketika terdiam dan ingatan mengenai Bai Cheng terlintas di dalam benaknya. Pria yang dikenal tertutup dan namanya tak kalah terkenal dengan dirinya. Berdiam diri di goa pedang berpuluh-puluh tahun demi mencapai tahap kesempurnaan pedang.
"Ada apa kau menemuiku? " tanya Bai Yanglan.
"Sebelumnya aku yang akan berpartisipasi, namun kau ada di sini lebih baik kau ikut bersamaku. Aku tahu orang-orang yang mengusikmu ikut dalam acara ini, " ucap Bai Cheng.
"Sebenarnya hadiah apa yang mereka idam-idamkan hingga para jenius kemari," tanya Bai Yanglan.
Bai Cheng mengajak Lin Huang duduk dan menceritakan sesuatu hal. Konon mereka yang beruntung akan mendapatkan warisan dari kesadaran dewa yang tertinggal di dalamnya. Hal ini dipercaya oleh semua orang.
"Kapan dimulainya? " tanya Bai Yanglan.
"Sebentar lagi, " jawab Bai Cheng.
Suara gong berbunyi kenceng. Para peserta yang ingin mencoba peruntungannya berjalan menuju ke arena. Bai Cheng mengajak Lin Huang untuk datang ke sana bersama dengan lainnya. Tiga kursi agung telah disiapkan dengan para pemimpin sekte yang hadir. Bai Yifeng, ketua sekte pedang surgawi hadir dan duduk di kursi agung.
"Lama tak bertemu, tak menyangka kau telau mencapai tahap ini, " ucap Hu Lishang ketua sekte putih.
"Kau pun sama, apakah kekutan kabutmu meningkat ke tingkatan ekstrim? " ucap Bai Yifeng.
Gelak tawa terdengar dari mulut Hu Lishang ketika Bai Yifeng melontarkan kalimatnya.
"Ternyata kau tak melupakannya, " ucap Hu Lishang menahan tawanya.
Sosok wanita muncul dan duduk di kursi agung disebelah Hu Lishang.
"Tawamu tak pernah berubah," ucap Yu Chan ketua sekte angin suci.
__ADS_1
"Yu Chan, aku dengar kau mendapatkan kembali pusaka pedang angin sucimu? " ucap Hu Lishang.
"Ya, empat pedang angin telah kembali beserta pedang pusaka. Anakmu yang membantuku, " balas Yu Chan.
"Yanglan? " tanya Bai Yifeng.
"Ya, dia mengembalikan pusaka pedang sekteku. Aku berutang padamu," jawab Yu Chan.
"Berapa lama kau bertapa dan kenapa kau menyembunyikan dirimu hingga orang-orang lupa bahwa sekte angin suci memiliki ketua tidak hanya empat master agung, " tanya Hu Lishang.
"Semenjak kejadian itu, aku menutup diri dan tak menyangka Bai Yanglan membawa pusaka pedang sekte kembali. Tenang saja, aku akan membantu membereskan musuh-musuh anakmu ataupun klan pemberontak sektemu, " balas Yu Chan.
"Aku tak akan ikut campur urusan Yanglan, aku hanya akan membersihkan rintangannya sebelum aku mangkat," ucap Bai Yifeng.
Pembawa acara memberitahu bahwa tahun ini seluruh orang dapat memasuki tanpa adanya persyaratan kualifikasi. Leluhur Fang Bingyu datang bersama dengan Fang Ge dan anaknya. Kedatangannya membuyarkan kerumunan. Bai Yifeng memperhatikan keluarga Fang tersebut dari atas. Merasa terintimidasi, Fang Ge berniat membuat perlindungan aura.
"Tidak perlu khawatir, jika dia bertindak aku akan mati demi kalian, " ucap Fang Bingyu.
Keluarga Fang hadir sebagai keluarga bangsawan yang sebelumnya keluarga bangsawan dari alam manusia. Memiliki beberapa kekuasaan termasuk aula seni bunga. Mei Fei datang bersama dengan seorang wanita yang membawa dua buah pedang pendek di belakang tubuhnya.
"Anak-anak itu yang menganggu putramu? " tanya Yu Chan.
"Seberapa yakin kau menghapuskan mereka? " tanya Yu Chan.
"100%" jawab Bai Yifeng.
"Hahahaha. Apakah sepuluh pedang pembunuh kembali menari lagi? " ucap Hu Lishang menimpali.
"Pengumuman!! Kompetisi kali ini seluruh hadiah kalian yang akan menerimanya sebab menara langitlah yang menyeleksi bukan kami. Mohon semuanya mengerti, " ucap pembawa acara.
Bai Cheng dan Lin Huang berdiri di kerumunan ketika pembawa acara mengumumkan pengumuman penting. Lin Huang melihat ayahnya tengah duduk bersama sengan pemimpim sekte lainnya.
Panitia dalam acara tersebut merupakan gabungan dari tiga sekte dan tetua menggabungkan kekuatannya membuka segel pintu menara langit.
"Waktu kalian 48 jam! "
Seluruh peserta berbondong-bondong memasuki menara langit. Bai Cheng dan Lin Huang mengikuti mereka. Lantai pertama hanyalah sebuah anak tangga kosong yang menjulang. Mereka berlari menaiki tangga secepat mungkin.
__ADS_1
"Mereka bodoh, " ucap Bai Yanglan membuat formasi pembalik ilusi dan keadaan lantai pertama sungguh berbeda dengan sebelumnya. Tangga yang mereka naiki malah membuatnya turun ke bawah.
Bai Cheng dan Lin Huang melesat dengan kecepatan tinggi naik ke lantai selanjutnya.
"Kita berpisah disini, karena darah leluhur sekte pedang surgawi mengalir dalam diri kita maka bila salah satu diantara kita dalam bahaya maka seseorang tersebut dapat merasakannya, " ucap Bai Cheng.
"Sepakat! " balas Bai Yanglan.
Lin Huang berlari memisahkan diri, ia berlari menaiki ribuan tangga menjulang ke atas. Lantai 20.000 telah ia lewati namun tak menemukan apapun di sepanjang jalan. Pikirannya mulai meragukan rumor yang beredar.
"Apakah harta di menara langit hanyalah bualan? " ucap Bai Yanglan.
Lin Huang dengan segala kepercayaannya terus melangkah menaiki tangga. Beribu-ribu anak tangga ia lewati dan hatinya mulai goyah. Seketika ia berhenti. Berada di atas dengan bayangan gelap di bawahnya membuat siapapun bergidik ngeri melihatnya. Lin Huang berinisiatif mengeluarkan kompas Xunbao. Putaran jarum tak beraturan dari kompas Xunbao membuat Lin Huang mengrenyinkan dahinya.
"800 lantai lagi aku telah sampai di puncak menari langit lapisan pertama, sepanjang jalan aku tak menemukan saudara Bai Cheng. Sebenarnya dimana aku? " ucap Bai Yanglan kebingungan.
Kompas Xunbao tiba-tiba melayang berada di udara mengambang dengan jarum berputar tak beraturan yang seketika membuka dimensi waktu. Tungku ilahi keluar dari dalam kompas Xunbao mengeluarkan kekuatan emasnya menyebar ke segala penjuri menerangi ruangan gelap. Lin Huang mendongak ke atas samar-samar melihat pintu batu.
Lin Huang berlari menaiki 800 lantai yang tersisa diikuti oleh tungku ilahi. Pintu batu yang dilihat Lin Huang ternyata hanyalah ornamen. Namun dirinya tak putus asa ketika melihat sesuatu di dalam ornamen tersebut. Relief beberap orang tengah berdiri di lahan kosong dan membuat pola garis di tanah serta cermin raksasa.
Lin Huang mempunyai intuisi kuat tanpa sadar menengok ke bawah dimana kegelapan menusuk hatinya.
"Aku tahu kau ingin menunjukkan sesuatu dan tak biasanya kau keluar. Sebenarnya apa menara langit itu? " ucap Bai Yanglan bertanya kepada tungku ilahi.
Lin Huang merasakan tubuhnya seperti di dorong hingga ia jatuh. Tungku ilahi menyusut dan kembali ke dalam kompas Xunbao yang kemudian kembali ke tubuh Lin Huang.
"Sialan!! " maki Bai Yanglan.
Sepuluh pedang pembunuh keluar dari dalam tubuhnya membentuk sayap guna menghindari cidera fatal. Sayap pedang tak ingin melebar seakan di tekan oleh gaya gravitasi kuat. Lin Huang jatuh ke dalam kegelapan panjang di dasar menara langit lapisan pertama.
"Brukkk!!! "
Lin Huang terjatuh merasakan sakit diseluruh tubuhnya yang perlahan ia regangkan.
"Terlalu gelap, aku tak bisa melihat apa-apa, " ucap Bai Yanglan.
Sebuah bulu merak memiliki nyala terang terbang melewatinya yang kemudian mendarat di telapak tangannya. Mengetahui Shenglu membantunya, ia berterima kasih.
__ADS_1
"Apa ini!! " ucap Bai Yanglan terkejut