
Lin Huang beristirahat di bawah pohon dekat kuil menyenderkan kepalanya pada batang pohon.
"Takdir buruk ya, kalau dipikir-pikir memang benar apa yang dikatakan kakek Tang, " gumam Bai Yanglan.
Lin Huang tanpa sadar memejamkan matanya menikmati udara segar di atas bukit. Lin Huang memasuki dimensi kompas Xunbao dan melihat Shenglu tengah tertidur di bawah tungku ilahi.
"Aku masih penasaran asal muasal kakek Tang, " ucap Bai Yanglan.
Seberkas gumpalan cahaya keluar dari tungku ilahi yang ternyata adalah sebuah buku.
"Apakah tungku ilahi sebenarnya adalah perpustakaan surga? Semua yang dia keluarkan adalah buku, " ucap Bai Yanglan.
Judul dari buku tersebut menarik perhatian Lin Huang yakni mengenai Buddhis.
"Aliran Buddhis? " ucap Bai Yanglan mulai melihat isi dalam buku tersebut.
Beberapa menit kemudian, ia menutup kembali buku tersebut.
"Aliran Buddhis yang melegenda membantu dalam pembasmian iblis yang berani keluar dari tanah terkutuk. Apakah kakek Tang Duan merupakan bagiannya?" ucap Bai Yanglan bermonolog.
Lin Huang membaca buku tersebut menemukan aliran Buddhis berperan penting dalam hal pembasmian iblis. Mereka murid-muridnya bekerjasama dalam hal membasmi kejahatan mengurung iblis di dalam wilayah tanah terkutuk. Memiliki pemimpin yang telah mencapai kebijaksaan dalam menyikapi semua hal membuat aliran Buddhis mencapai kejayaannya di langit.
Lin Huang menemukan sebuah robekan pada buku tersebut dan menyakini bahwa robekan tersebut mengandung informasi penting.
"Bocah... " panggil seseorang.
Lin Huang di tarik ke dalam kesadarannya terkejut melihat seseorang berada di dalam lautan kesadarannya.
"Kita bertemu lagi, " ucapnya tersenyum ramah.
"Kakek biksu, bagaimana kakek bisa ada di lautan kesadaranku? " tanya Bai Yanglan.
"Apakah kau ingat air pemberianku? " tanyanya.
__ADS_1
"Ingat, aku telah melakukan seperti apa yang anda katakan. Apa hubungannya dengan kakek biksu ada di sini? " ucap Bai Yanglan.
"Air pemberianku merupakan air yang memiliki khasiat luar biasa dalam pemeliharaan jiwa, jika Dewa Bai Sheng memberimu air suci sungai surga maka air pemberianku merupakan air murni penciptaan semesta. Aku hanya bisa membantumu untuk terlepas dari takdir burukmu beberapa saat, selanjutnya kau harus berusaha sendiri. Jangan mudah percaya karena mereka yang dianggap suci belum sepenuhnya benar, " ucap kakek biksu sebelum menghilang.
Lin Huang tersadar kembali dan berada di ruang dimensi kompas Xunbao. Lin Huang melihat kembali buku yang ada di tangannya. Intuisinya mengatakan bahwa buku tersebut memiliki rahasia tersembunyi. Lembaran yang sebelumnya robek ia buka dan menemukan lembaran yang hilang kembali utuh.
Lembaran yang berisi sejarah kuil besar aliran Buddhis dan pemimpinnya. Biksu besar Bu Xing yang memimpin aliran Buddhis melawan para iblis dengan teknik legendarisnya tapak sembilan surga. Kuil besar yang menjadi salah satu aliran terbesar pada lapisan ke delapan.
"Terlalu banyak informasi. Semakin aku memahami berbagai kekuatan di sini maka semakin kecilnya diriku,"ucap Bai Yanglan.
Lin Huang kembali menarik kesadarannya membuka matanya melihat kuil yang terawat serta kakek Tang Duan yang tengah duduk berdiam diri. Lin Huang menghampirinya duduk di samping kakek Tang Duan.
" Apa yang ingin kai tanyakan, "ucap Tang Duan.
" Bolehkan aku meminta nasehat anda kemana aku harus pergi, "jawab Bai Yanglan.
" Pergilah ke utara, di sana terdapat kota Qingye. Kau akan menemukan sesuatu, "balas Tang Duan.
" Terimakasih atas nasehat anda,"ucap Bai Yanglan beranjak pergi dari tempat duduknya.
"Kau harus berjalan hingga sampai di kota Qingye dan kau tak boleh membunuh makhluk apapun di dalam perjalananmu, " ucap Tang Duan.
"Baik, aku mengerti, " balas Bai Yanglan.
Lin Huang menuruni anak tangga memikirkan perkataan Tang Duan yang tampak seperti sebuah ujian. Lin Huang sampai di bawah gunung dan membulatkan tekad untuk memulai perjalanan ini.
Berhari-hari hingga bulanan Lin Huang berjalan menuju kota Qingye dengan berbagai rintangan yang dia lalui. Hewan-hewan buas mencoba membunuhnya namun lama kelamaan mereka tidak ada yan berani mendekati Lin Huang. Membantu sesama yang kesusahaan hingga sampai di gerbang kota Qingye.
"Akhirnya sampai... " ucap Bai Yanglan mendongak ke atas melihat gerbang kota.
Ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam kota Qingye. Berbagai kultivator berkeliaran dengan leluasa tanpa adanya perselisihan.
"Kakek Tang Duan tak memberitahuku mengapa aku harus ke kota Qingye. Aku tak tahu harus melakukan apa"gumam Bai Yanglan.
__ADS_1
Ia mencari tempat teduh di dekat persimpangan bangunan besar. Mengipas-ngipas dirinya menggunakan caping yang dia kenakan. Lin Huang merasakan lelah hingga ia memejamkan matanya tanpa sadar. Seorang anak kecil berlari dari kejauhan mendekati Lin Huang menyodorkan sebuah roti. Lin Huang membuka matanya melihat senyuman polos anak tersebut dan menerima roti yang dia bawa.
"Terimakasih, " ucap Bai Yanglan.
Anak kecil tersebut berlari meninggalkan Lin Huang. Seseorang dari lantai dua sebrang jalan melihat kejadian tersebut.
"Apakah Tuan tertarik dengannya? " tanya Gong Wei.
"Dia bukan orang biasa, aku merasakan kekuatan tak kasat mata melindunginya, " jawab Zi Feng.
"Anda pertama kali datang ke lapisan pertama, sebenarnya apa yang anda cari? " tanya Gong Wei.
"Sekte angin suci telah mendapatkan kembali pusakanya dan Bai Yifeng telah berhasil melangkah ke tingkatan lebih tinggi. Perubahan begitu besar terjadi di lapisan pertama, bagaimana bisa aku berdiam diri ketika hatiku tak tenang dibuatnya, " jawab Zi Feng.
"Apakah ini ada kaitannya dengan Kaisar Naga Zhang Jun yang telah kembali? " ucap Gong Wei.
"Mungkin, namun aku merasakan bahwa semakin banyak perubahan terjadi maka semakin dekat pula kejadian besar yang akan terjadi, " balas Zi Feng.
Lin Huang beranjak dari duduknya melanjutkan perjalananya melihat-lihat koya Qingye. Ia menemukan kuil dan beristirahat di sana membersihkan kuil tersebut. Patung Buddha yang cukup besar berada di tengah-tengah kuil.
"Aku tak tahu harus apa untuk sekarang, terlalu banyak hal yang harus aku cari hingga aku bingung memulainya, " ucap Bai Yanglan menghela nafas panjang.
Ia tiba-tiba merasakan kantuk yang amat sangat meskipun sebelumnya telah tertidur. Zi Feng dan orang kepercayaannya Gong Wei masuk ke dalam kuil melihat Lin Huang yang tergeletak di tanah. Zi Feng mengeceknya sesaat kemudian ia menoleh ke arah patung tersebut.
"Apa yang terjadi dengannya, Tuan, " tanya Gong Wei.
"Mungkin dia mendapatkan sesuatu, " jawab Zi Feng.
Lin Huang melihat cahaya emas di depannya yang kemudian berubah menjadi dua lembaran yang melayang ke arahnya.
"Langkah-langkah teknik tapak sembilan surga! Dua lembaran berada di tanganku, " ucap Bai Yanglan.
Kedua lembaran teknik tersebuk merasuk ke dalam pikiran Lin Huang. Ia merasakan telah memahami teknik tersebut namun seakan rumpang tetapi ia tahu bahwa terdapat lembaran lain yang harus ia temukan. Perlahan ia membuka matanya terkejut melihat Zi Feng dan Gong Wei.
__ADS_1
"Siapa kalian? " tanya Bai Yanglan.
"Aku Zi Feng dan dia Gong Wei"