
Tungku mengeluarkan beberapa bola cahaya emas yang mendarat di depan masing-masing orang.
"Waktunya kita kembali ke Wu melaporkan hasil yang kita dapatkan, " ucap pemimpin mereka.
"Apakah anda tidak singgah di cabang? "
"Tak perlu, saat ini keadaan akan aman di ibukota karena istana Zhang tengah ramau master-master dari berbagai sekte" jawab pemimpin.
"Baik"
"Kita akan berangkat besok, " ucap pemimpin.
Ayam berkokok. Para nelayan berangkat ataupun pulang dari laut menjual hasil tangkapan mereka. Xia Cheng mendobrak pintu Chen Lie hingga sang empu terkejut.
"Kau ingin aku cepat mati! " teriak Chen Lie marah.
"Ya, kau bisa menemui Raja Yama secepat mungkin, " balas Xia Cheng kesal.
Pagi dengan matahari yang hampir dipuncaknya membuatnya kesal dengan Chen Lie yang masih tertidur pulas.
"Cepat atau kita harus menunggu satu bulan lagi untuk sampai! " ucap Xia Cheng.
Chen Lie yang teringat buru-buru bersiap setelah mendengae nada amarah Xia Cheng.
"Ayo! " ucap Chen Lie.
Mereka turun dari tangga membawa perbekalan bersiap menuju pelabuhan. Mereka berdesakan dengan orang-orang yang ingin naik kapal. Xia Cheng dan Chen Lie mendapatkan gilirannya namun seseorang menabrak Xia Cheng.
"Aduhh.. " ucapnya.
Xia Cheng melihat seorang wanita menabrak dirinya yang tengah merasakan kesakitan. Xia Cheng mengamati wanita tersebut dengan seksama hingga ia sendiri melamun. Chen Lie melihat seorang wanita terjatuh segera mengulurkan tangannya membantu.
"Kau tidak apa-apa nona? " tanya Chen Lie.
"Terimakasih Tuan, " ucap wanita tersebut.
Xia Cheng menggelengkan kepalanya menyadarkan dirinya sendiri.
"Maaf, " ucap wanita tersebut.
"Mata itu? " batin Xia Cheng.
__ADS_1
Chen Lie menyenggol-nyenggol lengan Xia Cheng membisikkam sesuatu.
"Apakah kau terpesona? Aku akan merelakannya untukmu. Setidaknya aku tahu kau normal, " ucap Chen Lie.
Xia Cheng memukul kepala Chen Lie meninggalkannya sendirian. Chen Lie mengejar Xia Cheng yang telah masuk ke dalam kapal. Jangkar ditarik. Kapal pun mulai berlayar. Mereka mencari ruang kosong yang tak banyak orang. Kapal membelah laut dengan sesekali bergoyang ketika menabrak ombak.
Xia Cheng duduk menatap lautan yang luas dengan pikiran yang kacau. Misi yang dia laksanakan bersama dengan Chen Lie adalah misi rahasia membantu Permaisuri. Pasukan yang akan membangun kekuatan di ibukota Wu akan datang setelah mereka membuka jalur aman menuju ibukota.
Kapal berlayar dengan tenang berhari-hari. Semua orang mulai khawatir ketika tahu bahwa bulan ke enam akan habis esok hari.
"Apa kalian menyiapkan apa yang aku katakan? " ucap kapten kapal.
Awak kapal menganggukkan kepalanya telah menyiapkan apa yang dikatakan kapten kapal. Malam hari kapal berlayar dengan tenang, namun tiba-tiba awan hitam menutupi langit hingga cahaya bulan tertutupi. Kapal berguncang. Xia Cheng dan Chen Lie terbangun terkejut ketika merasakan kapal ditabrak oleh sesuatu.
Teriakan terdengar nyaring di dalam kapal. Awak kapal berlari menuju gudang kapal sesegera mungkin. Seseorang terikat pada tiang kayu dengan mulut tersumpal kain. Awak kapal membuka ikatan tali tersebut dengan salah satu dari mereka menahan pergerakan gadis tersebut.
Awak kapal membuka pintu kayu kecil yang langsung mengarah ke laut. Hujan deras membuat pandangan kabur ditambah kabut putih tipis yang tiba-tiba muncul. Gadis tersebut berusaha melepaskan diri dari cengkraman awak kapal.
Xia Cheng dan Chen Lie berdiri menyipitkan matanya melihat ke arah laut di tengah hujan deras. Wanita yang menabrak Xia Cheng ada di sana di pojok tengah membawa tali seperti ingin melakukan sesuatu.
"Apa yang ingin kau lakukan? " tanya Xia Cheng berucap agak keras akibat hujan yang deras.
"Kau lihat! " jawabnya menunjuk ke arah pintu kayu kecil yang tengah terbuka dengan gadis yang dipaksa terjun ke laut.
"Pinjamkan talimu, " ucap Xia Cheng.
Xia Cheng mengikat tali ke tiang kapal terkuat berayun menuju ke arah gadis tersebut. Chen Lie menggunakan kekuatan anginnya menggerakkan kabut menutupi pandangan kapten kapal hingga membuat kapal berhenti di tengah laut.
Xia Cheng menendang tepat pada awak kapal yang menahan gadis tersebut. Xia Cheng bertarung dengan mereka hingga mereka terkapar. Xia Cheng mendekati gadis tersebut melepaskan kain yang menyumpal dirinya. Tangisan pecah ketika melihat ada yang menyelamatkannya.
Xia Cheng memeluk gadis tersebut mengikat tubuhnya menggunakan tali. Xia Cheng berlari dari dalam berayun kembali menuju atas kapal. Gadis tersebut kedinginan namun ketika wanita yang sebelumnya melihat dirinya akan mati memegang pundaknya seketika tubuhnya terasa hangat.
"Kau seorang kultivator? " tanya Xia Cheng.
"Ya. Kultivator jalan musik, " jawabnya.
"Namamu? " tanya Chen Lie.
"Lu Jia, " jawabnya yang membuat Chen Lie terpesona.
Lu Jia berniat membawa gadis tersebut ke dalam kapal namun goncangan besar terjadi yang hampir membalikkan kapal. Kapten kapal panik keluar dari tempatnya terkejut dan marah ketika tumbal yang telah dia siapkan selamat.
__ADS_1
"Apa yang kalian lakukan! " marah Kapten kapal.
Kapten kapal berusaha merebut gadis yang ada di belakang Lu Jia secara paksa namun ditahan oleh Xia Cheng.
"Kualifikasi apa yang kau miliki hingga berani menyuruh seorang gadis untuk terjun ke laut, "ucap Xia Cheng.
" Kau tak tahu? Seorang kapten kapal besar akan membawa seorang gadis untuk diceburkan ke laut ketika awan hitam dan kabut putih melanda kapal. Rahasia ini hanya diketahui oleh kapten-kapten kapak sepertiku. Demi keselamatan bersama, gadis ini harus terjun ke lauut, "ucap kapten kapal menarik gadis dibelakang Lu Jia.
Lu Jia memukul keras pipi kapten kapal hingga menbuatnya tersungkur.
" Apa kau gila! "teriak Lu Jia.
Kapal berguncang ditabrak oleh sesuatu. Chen Lie dan Xia Cheng berpikiran sama bahwa makhluk yang menabrak kapal kemungkinan adalah makhluk yang sama.
Kapten kapal ingin bangkit namun jatuh pingsan ketika jarum tipis menancap dilehernya.
"Merepotkan, "ucap Lu Jia.
"Hilangkan kabut ini secepatnya, " ucap Xia Cheng.
Telapak tangan Chen Lie muncul angin ****** beliung kecil yang kemudian ia lemparkan ke arah laut. ****** beliung melayang di atas air menghisap seluruh kabut putih tersebut. Awan hitam dengan badai ombak besar siap menerjang.
Xia Cheng menghentakkan kakinya membuat gerakan bersiap untuk menghadapi ombak besar di depannya. Ombak besar bersiap menggulung kapal namun tembakan kekuatan elemen air menabrak ombak yang datang hinga perlahan membuat celah potongan raksasa.
Air laut yang bergelombang mengguncang kapal layaknya jiwa hidup yang tengah dikendalikan. Chen Lie menyalurkan kekuatannya melalui punggung Xia Cheng menyelimuti kekuatan elemen air bersama dengan elemen angin membelah ombak yang berbentuk dinding air.
"Teknik angin pembelah bumi! " ucap Chen Lie.
Angin berhembus kencang menabrak dinding air teresebut. Perlahan-lahan muncul dinding air yang berniat menghimpit badan kapal. Kekuatan badai angin Chen Lie kembali memantul. Xia Cheng menggunakan air laut di sekitar kapal membuat pilar penahan agar dinding ombak tak bergerak menghimpit kapal sembari berusaha membuka celah untuk keluar.
Lu Jia menggeluarkan guqin miliknya. Buku yang ada pada lautan jiwanya terbuka hingga pada halaman tertentu.
"Lembaran ke 24: Teknik musik penghancur hambatan, " ucap Lu Jia.
Petikan guqin Lu Jia membuat aura jiwa menyebar membentuk bilah jiwa tajam menghantam dinding air menyebabkan riak secara terus-menerus.
Salinan kitab lagu Dewi Bulan yang ada pada lautan jiwa Lu Jia mengeluarkan bait-bait lagu yang melingkari jiwanya sendiri hingga menyalur pada petikan senar guqin.
"Blamm"
"Blamm"
__ADS_1
Suara air yang terkena benturan energi jiwa mulai merasakan dampaknya dengan air yang mulai surut dan aura dari luar yang mulai masuk ke dalam. Guaiwu yang marah akibat kapal yang tak menceburkan gadis prawan membuat bencana pada kapal yang ditumpangi Xia Cheng dan yang lain.
Guaiwu menyuruh ikan tanduk tulang besi menyerang kapal dan membuat badai awan hitam sebagai peringatan.