Immortality Flower

Immortality Flower
Cermin Pengetahuan Ilahi Terlarang


__ADS_3

Istana Raja Jin yang sebagian besar hancur hanya aula utama yang tersisa. Asap mengepul menghalangi ke sepuluh penjaga elite yang membuat mereka panik.


"Yang Mulia! " panggil mereka.


"Wushhh"


Angin berhembus menghilangkan kepulan asap debu tersebut. Raja Jin berdiri yang tak lama kemudian memuntahkan seteguk darah segar dan hal yang sama dialami oleh Lei He.


"Yang Mulia! " ucap mereka.


Raja Jin mengalami luka cukup berat akibat energi jiwa yang terkuras habis serta serangan balik dari cermin ilahi. Ke sepuluh prajurit elite yang sama-sama mengalami luka berdiri mengelilingi Raja Jin.


"Tak perlu khawatir, aku baik-baik saja, " ucap Raja Jin.


"Dia pasti terluka parah, " batin Raja Jin.


"Seberapa persen kalian dapat mengeluarkan kekuatan jiwa? " tanya Raja Jin.


"Kelompok pedang jiwa murni 30% Yang Mulia"


"Kami 40% Yang Mulia"


"Baik, cukup untuk membantu memulihkan tenaga, " ucap Raja Jin.


Kelompok pedang jiwa murni diselimuti aura jiwa diseluruh tubuhnya layaknya api. Penjaga gerbang lainnya menggunakan kekuatan mereka menembakkan ke arah langit istana. Raja Jin berada di tengah-tengahnya memulihkan kekuatan jiwanya yang sebagian besar terkuras habis. Tangannya terangkat ke atas membuka telapak tangannya menyerap energi langit dan bumi merubahnya menjadi susunan formasi pengumpul qi.


"Gunakan jiwaku sebagai tungku, padatkan energi langit dan bumi sebagai api dan seraplah energi jiwa sebagai imbalanmu, " ucap Raja Jin.


Susunan formasi besar muncul di udara mengumpulkan energi langit dan bumi memadatkannya penyusunan dari energi langit dan bumi yang tidak beraturan.


Kelompok pedang jiwa murni melepaskan pedang yang terbentuk dari jiwa mereka menambah kapasitas dari formasi pengumpulan qi. Semua orang menyembuhkan diri di bawah naungan formasi pengumpul qi.


Xia Cheng dan Chen Lie berhasil menerobos ke istana Permaisuri saat kekacauan terjadi. Mereka mencari kediaman Permaisuri namun tidak pernah menemukan jalan dan hanya berputar di titik yang sama.


"Berhenti! " ucap Xia Cheng.


"Kita hanya berjalan di satu tempat, tidak pernah melangkah lebih jauh. Pasti ada formasi tersembunyi, " ucap Xia Cheng.


Xia Cheng memejamkan matanya menajamkan indra pendengarannya menyelidiki suara terdekat dari luar istana Permaisuri.


"Wwwuuungggg..."

__ADS_1


Xia Cheng mendengar suara Permaisuri berbicara dengan orang lain namun terdapat penghalang yang membingungkan dari mana asal usul suara Permaisuri tersebut.


"Aku tahu! Formasi ganda bertumpuk, "ucap Xia Cheng.


" Apa itu? "tanya Chen Lie.


" Dua formasi yang bertumpuk dan bergantung satu sama lain. Kita berada di dalam formasi yang cukup merepotkan, "balas Xia Cheng.


Xia Cheng menggambar menggunakan energi jiwa sebagai tintanya melukiskan formasi pembalik. Formasi telah selesai dibuat, Xia Cheng menghempaskannya hingga membuat dua kekuatan formasi terhisap dan hancur seketika.


Permaisuri mendengar suara benda pecah yang tak lama kemudian dua orang jatuh dari udara.


" Bukkk!!"


"Siapa kalian! "ucap Permaisuri.


Xia Cheng dan Chen Lie buru-buru hormat kepada Permaisuri sembari menunjukkan plakat marga Wen.


" Kalian orang-orang Wen yang dikirim ayahku? "tanya Permaisuri.


" Benar Yang Mulia, "balas mereka.


" Melapor Yang Mulia, "ucap Ping Yin.


" Ada apa? "tanya Ping Yin.


" Bawahan Tuan besar kemungkinan tidak memiliki tempat tinggal, hamba harap Yang Mulia berbelas kasih, "ucap Pinh Yin


Permaisuri membalas ucapan Ping Yin dengan tatapan tajam memperingatkan kesalahannya. Melihat Lei He yang tidak memperdulikan laporan Ping Yin.


" Kau adalah orangku saat ini, jika informasi tersebar maka nyawamu taruhannya, "ucap Permaisuri.


" Bawahan mengerti, "balas Lei He.


" Dan kau, apakah kedua orang ini yang kau maksud? "tanya Permaisuri.


Ping Yin melihat Xia Cheng dan Chen Lie terkejut tidak menyangka bahwa mereka telah sampai di istana Permaisuri dengan selamat.


" Benar Yang Mulia, "jawab Ping Yin.


"Kau, apa yang ingin kau katakan? " tanya Permaisuri.

__ADS_1


"Setelah kejadian besar di wilayah Wu, Yang Mulia Kaisar memerintahkan orang-orang penting untuk hadir di aula utama membahas rencana kedepannya termasuk anda diminta untuk hadir, " ucap Lei He.


"Aku mengerti, kau boleh pergi, " balas Permaisuri.


Lei He meninggalkan Permaisuri setelah selesai melaporkan hal yang ingin dia sampaikan.


"Tugas kalian adalah mencari gadis-gadis ikat mereka di suatu tempat, " ucap Permaisuri.


"Laksanakan sesuai perintah, " balas mereka.


"Kalian akan menjadi bagian istana Permaisuri, tak perlu sembunyi-sembunyi untuk melapor kepadaku, " ucap Permaisuri.


"Mengerti, " balas mereka melesat menghilang melakukan perintah.


"Rapat genting akbar digelar hari ini, sepertinya Kaisar mendesak kekuatan utama untuk bergerak, " batin Permaisuri


Permaisuri masuk ke dalam kediamannya yang tak lama kemudian keluar mengenakan jubah kebesaran seorang Permaisuri dengan sutra terbaik serta benar emas membentuk phoenix agung melebarkan sayapnya berjalan menuju istana utama tempat dimana aula rapat dilaksanakan.


Raja Jin telah memulihkan kembali tenaganya. Cermin ilahi ia pegang memikirkan nama yang cocok buatnya.


"Cermin pengetahuan ilahi terlarang, " ucap Raja Jin.


Istana telah kembali dibangun sendiri ketika Raja Jin telah kembali ke dalam kekuatan sempurnanya. Bangunan yang rusak tampak kembali normal.


"Aku menentang alam surga demi hal di masa depan, " ucap Raja Jin.


"Semesta melahirkan Yin-Yang. Lima elemen bersatu saling melengkapi dunia. Ketiga alam memiliki rahasia dan larangan. Aku Jin Dan Yi meminta kepada cermin ilahi menunjukkan masa depan dunia, " ucap Raja Jin.


Raja Jin meneteskan darahnya pada cermin ilahi mengkombinasikan dengan jiwanya sendiri hingga kesadarannya terhisap oleh cermin ilahi. Kejadian dimasa depan terlihat oleh mata. Sosok wanita berwujud iblis berdiri di atas istana kerajaan Wu. Kaum iblis ada di mana-mana membunuh manusia yang mereka temui. Kejadian selanjunya ialah dimana ketika sepuluh pedang dipegang oleh orang-orang suci dengan sosok agung berdiri di tengahnya dengan tangan kanan memegang pedang serta tangan kirinya memegang sebuah stempel giok. Pemandangan berubah dengan latar belakang sebuah tempat hitam dan putih serta bunga teratai raksasa yang dikelilingi oleh sembilan teratai emas mekar sempurna. Kuncup dari bunga teratai raksasa tersebut belum mekar sedikitpun.


Kilatan petir menghancurkan pemandangan tersebut hingga Raja Jin memuntahkan darah segar dari mulutnya terluka akibat memaksa mengetahui takdir kedepannya.


"Memaksa mengetahui takdir kedepannya bahkan mengorbankan 100 tahun umurku serta membuatku terluka hingga cukup parah. Aku memang menentang kehendak alam semesta, " ucap Raja Jin.


Aula istana utama dengan kursi-kursi penghormatan telah terpenuhi oleh undangan yang hadir. Kasim mengumumkan Kaisar dan Permaisuri memasuki aula. Semua orang berdiri melakukan penghormatan.


"Semoga Yang Mulia diberika berkah panjang umur serta kemuliaan oleh langit, " ucap mereka serempak.


"Tidak perlu mengulur waktu, aku mengumpulkan kalian hari ini adalah membahas rencana kedepannya ketika menghadapi bahaya. Kalian mengetahui bahwa telah terjadi fenomena dahsyat di wilayah Wu dimana seseoramg berhasil menyempurnakan senjata ilahi. Berbagai kekuatan di luar wilayah Wu akan mencari keberadaan orang tersebut. Wilayah Wu akan terancam, lebih baik ketika kita bisa menarik orang tersebut di sisi kita hingga tidak perlu takut dengan orang-orang itu, "ucap Kaisar.


"Kami mengerti kegelisahan hati Yang Mulia"

__ADS_1


__ADS_2