Immortality Flower

Immortality Flower
Kemunculan Leluhur


__ADS_3

Kedua belah pihak maju bertabrakan hingga ledakan kekuatan terjadi secara hebat. Tanah bergetar hingga sebagian lagi retak. Pedang Guntur Surgawi milik Qi Dao mengeluarkan petir yang menyambar Zheng He yang membuatnya harus mundur.


Pedang Guntur Surgawi membelah diri membentuk hexagonal yang saling terhubung dengan garis petir. Mengejar kemanapun Zheng He pergi meskipun dengan kecepatan tinggi.


Zheng He akhirnya terperangkap oleh formasi pedang hexagonal tersebut. Petir menyerang tubuhnya menembus zirah pelindung yang ia kenakan hingga jiwanya terpengaruh.


"Pedang Guntur Surgawi milikku memiliki kekuatan petir yang sama hebatnya dengan milik Dewa Guntur, " ucap Qi Dao


Guntur yang masuk ke dalam lautan kesadaran Zheng He menyebabkan fluktuasi fenomena aneh yang terjadi. Jiwa yang sebelumnya terbelenggu oleh rantai ghaib perlahan-lahan pecah dengan jiwa yang menyerap aura surga beserta guntur dengan ganasnya.


Jiwa Zheng He telah dipromosikan lebih lanjut setelah terlepas dari belenggu rantai ghaib. Jiwa yang terbungkus guntur surga membuat perubahan yang cukup signifikan. Kekuatan Zheng He meningkat pesat hingga perubahan terjadi pada tubuh fisiknya.


Rambutnya berubah menjadi perak hingga kekuatan Pedang Cahaya Buddha meningkat seperti saat pertarungan dahulu dengan partnernya.


"Kau membunuh Li Yi dengan Pedang Guntur Surgawi milikmu, maka aku akan membunuhmu sebagai gantinya, " ucap Zheng He.


Kekuatan melonjak. Cahaya buddha bersinar terang dengan bayangan Buddha dibelakang Zheng He. Mengangkat pedang ke langit menebas ke arah Qi Dao. Angin berhembus kencang disertai suara gemuruh yang mengglegar.


Berbagai bangunan di puncak hancur setelah dilewati oleh pedang Cahaya Buddha. Qi Dao melemparkan pedang Guntur Surgawi ke langit membentuk kubah pelindung menghadang serangan Zheng He.


"BOOMMM..."


"BLARRRR.. "


"DUARRR... "


Langit berguncang dengan tanah yang retak. Para murid elite yang berada di tempatnya memasang formasi perlindungan terguncang oleh tabarakan kekuatan tersebut. Pemimpin Young menghempasan ledakan energi tersebut meminimalisir dampak yang diterima para murid.


"Kau membunuhku sama halnya menentang Kaisar Naga!" ucap Qi Dao.


Langit terbelah, petir menyambar dengan ganasnya. Aura surga turun melapisi pedang Guntur Surgawi. Petir ungu melesat turun mengenai pedang Guntur Surgawi hingga memicu momentum ukiran kuno yang ada pada pedang tersebut.

__ADS_1


Petir mengalir memicu kekuatan ukiran kuno tersebut hingga awan hitam berkumpul tepat di atas pedang Guntur Surgawi.


"Mantra kuno Paoxiao Dewa Petir akan membunuh keangkuhanmu dan membuktikan kepada dunia bahwa menentang alam surga adalah dosa besar! " ucap Qi Dao.


Awan bergemuruh. Pedang Guntur Surgawi mengeluarkan kekuatan sejatinya. Pedang Cahaya Buddha milik Zheng He terpengaruh oleh kekuatan ilahi dari mantra Paoxiao. Pedang Guntur Surgawi melesat menembus langit berubah menjadi pedang raksasa dengan kekuatan Dewa.


Pemimpin Young menyadari bahwa bahaya besae mengancam perguruannya segera bertindak memerintahkan sebagian murid elite untuk pergi ke puncak tertinggi membunyikan lonceng emas sebanyak 9 kali.


Suara dentangan lonceng terdengar disegala penjuru puncak Ilahi Duniawi hingga halaman luar yang merupakan tempat sekte mulia berada.


"Apa yang terjadi? " tanya salah satu tetua setelah mendengar suara dentangan lonceng sebanyak 9 kali hingga langit di atas sekte mulia tampak berwarna abu gelap.


Ketua Xin mendongak ke atas melihat fenomena tersebut juga heran dan bertanya-tanya apa yang terjadi. Benda pusaka di berbagai puncak di sekte mulia bergetar hingga mengeluarkan kekuatannya melesat menembus langit.


Awan berkumpul membentuk pusaran yang seakan-akan awan tersebut akan jatuh ke bumi. Kekuatan dari berbagai benda pusaka di setiap puncak bergabung menjadi satu membunyikan lonceng emas ke 10.


Suara dari lonceng yang dipukul menggunakan gabungan kekuatan dari benda pusaka berbagai puncak membuat getaran hebat hingga telingan semua orang berdenging. Dibawah lonceng emas jauh di dalam sumur, terdapat batu yang menyerupai manusia tengah bermeditasi yang dialiri oleh berbagai kekuatan dari benda pusaka tersebut.


Zheng He menyadari kesenjangan kekuatan yang jauh hatinya mulai khawatir. Ia menatap pedang Cahaya Buddha dengan pandangan khawatir hingga ia sendiri merasakan seseorang menyentuh bahunya.


Bayangan seorang perempuan tersenyum kepadanya hingga menyentuh tangannya yang tengah memegang pedang Cahaya Buddha.


"Tegakkan kebajikan layaknya cahaya yang selalu ada, " ucapnya samar-samar yang di dengar oleh Zheng He.


Pedang Cahaya Buddha diselimuti aura emas hingga cahaya melonjak ke langit. Pedang Cahaya Buddha membelah dirinya berjumlah 9 yang masing-masing di pegang oleh jiwa pendahulu yang menggunakan pedang Cahaya Buddha untuk menegakkan keadilan.


Zheng He mengangkat pedang tersebut ke langit yang diikuti oleh mereka. Kekuatan dari masing-masing pedang Cahaya Buddha membangkitkan sesuatu yang mengerikan. Tanah mulai bergetar hebat hingga muncul pedang raksasa yang keluar dari dalam tanah.


Zheng He merasakan pikirannya terhubung dengan para pendahulunya hingga mengucapkan kalimat yang tak ia sadari.


"Kebajikan tak akan pernah hilang, cahaya tak akan pernah padam. Orang baik akan ada hingga hari akhir, dan para pendosa akan diadili suatu saat nanti, " ucap Zheng He.

__ADS_1


Kedua senjata yang memiliki kekuatan ilahi bertabrakan hingga Sekte Mulia terkena dampaknya. Awan hitam membentuk dua orang yang tengah bertarung membuat semua orang yang ada di sana mengira bahwa leluhur tengah bertarung dengan musuh untuk melindungi mereka.


Zheng He mengerahkan kekuatan penuhnya hingga membuat Qi Dao terkejut.


"Bahkan mantara Paoxiao milik Dewa Petir dapat ia tandingi, " ucap Zheng He.


Zheng He yang memiliki dendam dengan Qi Dao yang telah membunuh Li Yi mengambil kesempatan mengerahkan seluruh tenaganya menghancurkan pedang raksasa tersebut.


"Hari ini nyawamu akan mati ditanganku!! " teriak Zheng He.


Zheng He mengangkat pedangnya dengan gaya menebas hingga kekuatan penuh dari Pedang Cahaya Buddha keluar. Qi Dao melapisi tubuhnya menggunakan aura surga dan kekuatan dari Pedang Guntur Surgawi.


Batu yang ada di dalam sumur retak secara perlahan hingga menampilkan seorang pria bermeditasi. Tak lama kemudian ia membuka matanya yang kemudian melesat ke langit.


"Kaisar Naga akan membunuhmu dengan tangannya sendiri!!! " teriak Qi Dao yang tak kuasa menahan kekuatan dari pedang Cahaya Buddha milik Zheng He.


Perlindungan yang ia buat perlahan-lahan retak yang tak lama kemudian tebasan Pedang Cahaya Buddha menabrak tubuhnya secara langsung. Asap mengepul menutupi tempat kejadian hingga semua orang tidak tahu apakah Qi Dao kalah termasuk Zheng He sendiri.


Kepulan Asap perlahan-lahan menghilang menampilkan Qi Dao yang nafasnya terengah-engah disertai tangan yang terluka dan penampilannya yang lebih buruk dari Zheng He.


Zheng He terkejut melihat Qi Dao yang masih hidup dan pedang yang melayang di depannya bukan pedang Guntur Surgawi. Pemimpin Young melihat pedang yang ia kenal segera menghela nafas lega.


"Leluhur menghentikan bencana, " ucap Pemimpin Young.


Pedang misterius tersebut kembali ke pemiliknya yang berdiri di atas lonceng emas menatap Zheng He dan Qi Dao. Zheng He tidak mengenali orang tersebut yang mampu menangkis serangan terkuatnya.


Qi Dao menatap pedang tersebut dengan seksama kemudian teringat siapa pemilik dari pedang tersebut.


"Yong Shen! " ucap Qi Dao.


Zheng He terkejut, orang yang berhasil menangkis serangan terkuatnya adalah leluhur Yong Shen yang merupakan pemilik pedang Jiwa Murni.

__ADS_1


"Lama tak melihatmu Dao, " ucap Yong Shen.


__ADS_2