
Malam hari, Xia Cheng dan Chen Lie berpakain hitam-hitam terbang diantara pepohonan hutan alami hingga sampai pada gerbang bangau putih. Tembok tinggu menjulang ditengah hutan layaknya benteng pertahanan. Mereka terpental hingga terjatuh ke tanah saat ingin menginjakkan kaki di atas tembok.
"Formasi penghalang!" ucap Chen Lie.
Xia Cheng membuka mata jiwa miliinya melihat bahwa gerbang bangau putih terdapat penghalang formasi rumit yang tak ia ketahui.
"Formasi ini tak sederhana, aku bukan ahli formasi, " ucap Xia Cheng.
"Bahkan persepsi jiwa milikku tak dapat menembusnya, " balas Chen Lie.
"Yang Mulia, ada penyusup yang menabrak formasi penghalang"
"Ho,,, dari gerbang mana ia menyusup? " tanya Raja Jin.
"Gerbang bangau putih"
"Buka gerbangnya, tarik jiwanya. Biarkan ia melihat istanaku, " perintah Raja Jin.
"Bawahan mengerti"
Xia Cheng dan Chen Lie berniat pergi setelah mengetahui formasi penghalang kuat tersebut. Gerbang terbuka perlahan menarik perhatian mereka.
"Apakah ini ilusi? " tanya Chen Lie.
Kedua patung bangau menembakkan kekuatan bola roh kepada mereka hingga tubuhnya diselimuti cahaya.
"Apa ini! " teriak Chen Lie.
"Tunggu, kita telah dijebak.... " ucap Xia Cheng sebelum pingsan.
Pintu gerbang bangau putih tertutup kembali. Jiwa mereka berada dalam lingkun wilayah istana Raja Jin. Beratus kilometer dari tempat berdirinya mereka terdapat bangunan megah yang tertutup oleh kabut putih menjulang tinggi di langit di bawah formasi kuno berwarna biru. Kabut putih yang menutupi bangunan tersebut menghilang hingga muncul ribuan anak tangga menuju bangunan tersebut. Istana megah berlapis emas yang terletak di dataran tinggi yang memiliki istana samping yang tak kalah megah dengan istana utama.
Sosok melingkari gunung tempat dimana istana megah berada. Sisik emas dengan suara mendesis membuat mereka mendongak ke atas. Kepala ular raksasa berada di atas mereka. Mahkota emas yang memiliki lima buah batu permata merah delima menghiasi kepalanya.
Kedua burung bangau putih turun dari langit menjemput mereka berdua. Jiwa mereka naik di punggung bangau putih yang dibawa terbang ke langit menuju istana tersebut.
Ular raksasa tak mempermasalahkan bangau putih yang terbang melintas di samping kepalanya. Kepakan sayap bangau putih membelah angin disekitar. Istana megah kian dekat. Mereka sampai pada kawasan istana megah itu berada. Gerbang istana terbuka disertai angin spiritual yang keluar secara tiba-tiba yang hampir menerbangkan jiwa mereka keluar. Asap putih muncul dari dalam disertai sosok agung yang hanya terlihat bayangannya.
__ADS_1
"Anak muda, aku telah menunjukkan apa yang ingin kau lihat. Sebaiknya kau kembali dan tak akan pernah menyusup ke tempat orang lain tanpa izin"ucapnya menjentikkan jarinya hingga jiwa mereka berdua terbang menjauh dengan kecepatan tinggi. Gerbang bangau putih kembali terbuka dan jiwa mereka berdua keluar melalui gerbang putih.
Xia Cheng merasakan ia hampir mati bila tak dapat kembali ke dalam raganya. Chen Lie memuntahkan seluruh isi perutnya.
"Kita pergi sekarang! " ucap Xia Cheng membopong tubuh Chen Lie meninggalkan Hutan Alami.
Menyenderkan tubuh Chen Lie pada batu sedangkan ia memulihkan dirinya sendiri.
"Aku merasa kematian dekat denganku saat bola roh itu muncul menarik paksa jiwaku. Istana megah berlapis emas bahkan ular purba dari zaman kuno yang telah mencapai evolusi sempurna menjaganya. Roh bangau putih yang menurut legenda mengantarkan jiwa-jiwa manusia ke surga pun ada di sana bahkan mengantarkan jiwaku ke istana tersebut. Apakah istana Raja Jin berada di surga? Sungguh konyol bila aku mempercayainya. Teknik ilusi tingkat tinggi, pasti aku telah terkena ilusi yang dibuat olehnya, " batin Xia Cheng.
Xia Cheng bersemedi membuka lautan kesadarannya menyembuhkan jiwanya sendiri yang mengalami gangguan dengan raganya sendiri. Chen Lie yang tengah pingsan terbangun merasakan pusing di kepalanya. Melihat Xia Cheng memulihkan diri, ia pun melakukan hal yang sama dengan Xia Cheng. Semalaman memulihkan diri hingga akhirnya jiwa mereka kembali stabil.
"Kita berada di mana? " tanya Chen Lie.
"Perbukitan dekat gerbang bangau putih. Semalam kau pingsan tak kuat jiwamu menahan kekuatan jiwa dari orang itu, " jawab Xia Cheng.
"Apakah dia Raja Jin? Apakah Dewa membantu membangun istananya? " tanya Chen Lie bertubi-tubi yang menyangkal akan kemegahan dan kemewahan dari istana Raja Jin.
"Aku rasa bukan. Dia pasti hanyalah bawahan ataupun seorang kepala kasim kepercayaan Raja Jin, " ucap Xia Cheng.
"Sudahlah, misi kita dimulai hari ini" ucap Xia Cheng.
"Hmm.. "
Matahari terbit dengan sinar yang mengenai istana kerajaan. Bangunan tinggi menjulang yang dilihat dari kejauhan berwarna emas yang tampak indah. Paviliun Changge yang bertingkat sembilan mempunyai bayangan indah. Seluruh ibukota yang ada di dalam benteng terlihat dengan jelas serta indah bila dipandang.
Mereka turun dari bukit menuju ibukota kembali ke paviliun Changge. Aktivitas ibukota ramai seperti biasa.
"Tuan! Tuan! Ayo beli manisanku! "
"Kue bulan! Ayo beli! "
Pedagang menjajakan dagangannya pagi-pagi buta demi mencari uang untuk menghidupi keluarganya masing-masing. Mereka telah sampai di depan paviliun Changge. Penjaga gerbang mengizinkan mereka masuk. Salah satu orang dari paviliun memberitahu bahwa Lu Jia memanggil untuk menghadapnya.
"Aku akan ke sana, " ucap Xia Cheng.
Lu Jia tengah bermain guqin kesayangannya. Xia Cheng masuk yang disambut nada merdu Lu Jia.
__ADS_1
"Maaf, kami terlambat" ucap Xia Cheng mewakili.
"Semalam aku tidak merasakan kehadiran kalian, apakah kalian ke luar? " tanya Lu Jia.
"Ya benar, kami keluar semalam mencari Tuan kami" jawab Xia Cheng.
"Jangan main-main di negara Wu. Ibukota milik Kaisar, namun diluarnya adalah Raja Jin yang berkuasa. Aku akan membantu kalian menemukan Tuan mu, " ucap Lu Jia.
"Kami tidak berani bertindak kurang ajar. Aku dan Xia Cheng akan mencari Tuan tanpa melibatkan anda, " ucap Chen Lie.
"Dia bukan menolak bantuanmu, akan tetapi apa yang dikatakannua adalah benar. Kami akan mencari Tuan kami sendiri, " ucap Xia Cheng.
"Ohh,, kalau begitu aku tak akan sungkan, " balas Lu Jia.
Xia Cheng dan Chen Lie berdiri berpamitan kepada Lu Jia bahwa mereka akan pergi hari ini dan mengucapkan terimakasih karena selama ini dialah yang membantu dalam segala hal.
Xia Cheng dan Chen Lie melewati lantai pertama yang tengah mempersiapkan pertunjukan bakat seni musik. Mereka telah sampai di depan pintu paviliun Changge.
"Nona bisa kembali bertugas, kami akan pamit, " ucap Xia Cheng.
"Hati-hati, " balas Lu Jia.
Mereka berjalan meninggalkan paviliun Changge menuju jalan yang tak mereka ketahui. Berjalan dengan pelan sembari mengamati dan menghafalkan setiap jalan di ibukota.
"Tugas pertama adalah memikirkan cara untuk menghubungi nona, " ucap Xia Cheng.
"Ide bagus, " balas Chen Lie.
Pelayan berseragam istana menarik perhatian Xia Cheng.
"Kau lihat itu? " tanya Xia Cheng.
"Ya, aku lihat. Dia lumayan cantik sebagai pelayan, " jawab Chen Lie.
"Bodoh! Kita bisa memanfaatkannya, " ucap Xia Cheng.
"Aku setuju denganmu, " balas Chen Lie
__ADS_1