
Lin Huang menatap kompas Xunbao pemberian Xie Lunyi ia mengamatinya kemudian tanpa sengaja mengaktifkan mekanisme. Putaran kompas tertuju pada sebuah arah yaknik barat dan tulisan aksara muncul.
"Harta misterius dari hewan? " ucap Bai Yanglan terheran membaca kalimat tersebut. Ia mengingat pernah bertanya kepada Liao Ying bahwa kompas Xunbao merupakan harta berharga dan memiliki tingkatannya. Berguna untuk mencari harta karun berharga, semakin tinggu tingkatannya maka semakin akurat arah tersebut.
Lin Huang melesat ke arah yang dituju oleh kompas tersebut. Goa di atas tebing gunung merupakan arah yang dituju dari kompas Xunbao. Lin Huang menghancurkan penghalang kemudian memasuki goa.Kolam yang memiliki air jernih dengan monster yang menunggu di dalam kolam tersebut.
"Monster ikan tanduk es, apa yang dia jaga hingga kompas Xunbao mendeteksinya, " ucap Bai Yanglan bertanya-tanya.
Lin Huang melangkahkan kakinya mendekati kolam tersebut melihat dari dekat dimana ikan tanduk es tengah tertidur.
"Dia menjaga telur? " ucap Bai Yanglan melihat sebuah telur berada di dekapan ikan tanduk es.
Kerikil di pinggiran kolam terjatuh ke dalam air hingga menimbulkan suara. Ikan tanduk es membuka matanya kemudian keluar ketika mendeteksi keberadaan Lin Huang.
"Apa! " ucap Bai Yanglan menghindar.
Udara disekeliling goa membeku berikut dengan es yang mulai muncul. Ikan tanduk es menyemburkan air yang kemudian berubah menjadi es tajam ke arah Lin Huang. Tembakan demi tembakan di luncurkan. Pedang Lanjie muncul melesat menghancurkan es tersebut.
Pedang Lanjie mengkloning dirinya melesat secara acak ke berbagai arah kemudian menusuk tubuh ikan tanduk es. Lin Huang melompat mengambil kembali pedang Lanjie dan menebas kedua tanduk es tersebut.
Ikan tanduk es kehilangan kekuatannya yang tak lama kemudian mati. Tanduk es dipungut oleh Lin Huang yang kemudian disimpan olehnya. Lin Huang menceburkan dirinya ke dalam kolam mengambil telur misterius. Telur yang memiliki corak serta kulit keras membuat Lin Huang terheran.
"Apakah ini telurnya? ucap Bai Yanglan bermonolog.
Kompas Xunbao melayang di udara menyerap jiwa dari ikan tanduk es. Lin Huang merasakan bahwa dirinya memiliki kekuatan yang sama dengan ikan tanduk es tersebut.
" Benar-benar harta karun, "puji Bai Yanglan.
Visual jam raksasa muncul dari dalam kompas Xunbao menyerap Lin Huang ke dalamnya. Kompas Xunbao memiliki dimensi tersendiri di dalamnya dengan perbedaan waktu 10 hari di luar sama dengan 1 jam di dalamnya. Jiwa ikan tanduk besi dilebur oleh sebuah tungku misterius. Lin Huang menerima kekuatan jiwa yang luar biasa dengan memiliki kekuatan dari pemilik jiwa tersebut.
"Tungku jiwa ilahi! Harta langit surga! " ucap Bai Yanglan terkejut.
Lin Huang mulai berpikir rencana Xie Lunyi yang bertarung dengannya dan memberikannya kompas Xunbao. Dari dalam tungku keluar sebuah buku.
"Buku jiwa ilahi, " ucap Bai Yanglan membaca judul dari buku tersebut.
Buku yang berisi perubahan jiwa fana menjadi jiwa abadi dan teknik-tekniknya yang berasal dari istana jiwa abadi.
"Aku belum bisa mempraktikkannya untuk saat ini, " ucap Bai Yanglan.
__ADS_1
Telur misterius melayang mendekati tungku kemudian aura jiwa berkumpul pada tungku jiwa ilahi. Telur misterius menyerap kekuatan jiwa dari tungku ilahi.
"Apakah tungku ilahi berniat menetaskannya? " ucap Bai Yanglan.
Retakan pada permukaan telur terlihat hingga suara pecah terdengar keras. Salah satu hewan suci terlahir kembali yang merupakan seekor merak. Ia mengeluarkan suara nyaring. Bulu-bulunya mekar dengan sempurna. Terbang mendekati Lin Huang.
"Merak suci langit, kau terlahir kembali. Aku berikan nama Shenglu untukmu" ucap Bai Yanglan mengelus-egelus kepala merak tersebut.
Tungku jiwa ilahi mengeluarkan sesuatu kembali yang merupakan sebuah buku tipis berlapis emas.
"Pencerahan Agung, " ucap Bai Yanglan.
Dalam sekejap isi di dalam buku tersebut masuk ke dalam pikirannya membuka segala hambatan dalam pemahaman.
"Benar-benar harta! " ucap Bai Yanglan senang.
Lin Huang keluar dari ruang dimensi kompas Xunbao. Ia mendengar suara pertempuran di luar dan mengeceknya. Laba-laba raksaaa mengamuk ketika diserang oleh sekelompok orang.
"Siapa mereka hingga berani membunuh laba-laba racun korosi? " ucap Bai Yanglan heran sembari mengamati pertarungan.
Orang yang mungkin sebagai pemimpin kelompok melancarkan serangan dengan kekuatan penuh dan berhasil membunuh laba-laba tersebut. Lin Huang pergi melihatnya.
"Apa yang kalian cari? " tanya Bai Yanglan.
"Kami hanya berlatih meningkatkan serangan, " jawab Hu Jifeng.
"Oohh..., " balas Bai Yanglan.
Lin Huang pergi meninggalkan mereka, Hu Jifeng mengambil tindakan membawa laba-laba raksasa tersebut pergi bersama dengan kelompoknya.
Lin Huang mengikuti mereka dari belakang ketika mereka terlihat mencurigakan. Sebuah tebing mereka lalui dan sungai bawah tanah mereka lewati hingga sampai ke tempat dimana goa besar berbentuk setengah lingkaran.
Lin Huang mengintip dari kejauhan, mereka seperti menuangkan darah monster pada wadah yang telah disiapkan dan melaksanakan ritual. Hu Jifeng membacakan mantra pada lembaran kertas yang dia keluarkan.
"Apa yang mereka sembah? " tanya Bai Yanglan pada dirinya sendiri.
Kepulan asap muncul ketika darah di dalam wadah tumpah ke tanah. Sebuah asap hitam pekat dengan aura iblis kuat terasa. Seakan memberikan kekuatan pada orang-orang yang memanggilnya, asap tersebut kemudian menghilang.
"Iblis! Bukankah Kaisar Iblis telah musnah? Pikirkan nanti orang-orang itu harus segera di bunuh, " ucap Bai Yanglan mengeluarkan pedang Lanjie.
__ADS_1
Lin Huang keluar dari persembunyiannya mengejutkan semua orang. Pedang Lanjie membelah dirinya menyerang kelompok Hu Jifeng. Kekuatan mereka meningkat pesat dan Hu Jifeng membuka kedok aslinya.
"Tuan Muda Bai, lebih baik tidak usah ikut campur, " ucap Hu Jifeng disela-sela pertarungannya.
"Bagaimana mungkin aku mengabaikanmu begitu saja, pedangku begitu ingin membunuhmu, " balas Bai Yanglan.
Pedang Lanjie terangkat ke atas. Lin Huang mengayunkannya membuat gerakan ilusi. Hu Jifeng menggunakan aura iblis menyerang Lin Huang dengan ganas. Suara nyaring tiba-tiba terdengar. Shenglu keluar dari dimensi kompas Xunbao menghisap hawa iblis yang ada di tubuh Hu Jifeng dan lainnya. Bulu-bulu meraknya berkilauan kemudian ia berteriak sekali lagi menghancurkan jiwa mereka hingga mati.
"Kau bisa menyerap hawa iblis mengubahnya menjadi kekuatanmu untuk berevolusi! " ucap Bai Yanglan terkejut.
Shenglu mengeluarkan suaranya seakan mengiyakan pertanyaan Lin Huang.
"Bagus, kau memang hewan suci, " puji Bai Yanglan.
Lin Huang keluar dari dalam goa berniat kembali ke sekte mencari literasi mengenai iblis. Namun niatnya ia urungkan untuk sekarang dan memilih menjelajahi hutan belantara terlebih dahulu.
Lin Huang menelusuri hutan belantara berhari-hari hingga ia kemudian beristirahat bersandar pada sebuah batu. Suara ketukan terdengar di telinga Lin Huang yang membuatnya membuka mata. Kakek tua berjalan menggunakan tongkat melewati Lin Huang. Kakek tersebut buta yang membuat Lin Huang merasa kasihan dan bertanya.
"Kakek mau kemana? " tanya Bai Yanglan.
Kakek tersebut menghentikan ketukan tongkatnya ketika mendengar suara Lin Huang.
"Kuil di dekat sekte angin suci, " jawab kakek tersebut.
Lin Huang berdiri mendekati kakek tersebut memegang tangannya.
"Aku akan mengantarkan kakek, " ucap Bai Yanglan.
Kakek tersebut menyingkirkan tangan Lin Huang sembari tersenyum.
"Tidak pantas bagi Tuan Muda Bai membantu orang tua ini, " ucap kakek tersebut.
"Kakek tahu aku? " tanya Bai Yanglan.
"Tentu, kau selalu memiliki aura sejuk serta dingin yang menyelimutimu, " jawab kakek tersenyum berbalik berhadapan dengan Lin Huang.
"Ayo! Biarkan Tuan Muda ini mengantarkan kakek pergi ke kuil, " ucap Bai Yanglan.
Mereka berjalan menuju kuil dengan bimbingan Lin Huang sebagai penunjuk jalan.
__ADS_1