
"Aku mengerti. Anda berusaha keras menenangkan para pejabat untuk menikahiku, " ucap Wen Xi Meng.
"Aku tak mempermasalahkanmu tak memiliki kekuatan dalam pemerintahan, namun aku memberitahumu agar kau tidak terkejut ketika suatu saat nanti. Selama aku berdiri disampingmu, maka aku tak akan mengkhianatimu, " ucap Kaisar.
"Yang Mulia memang baik hati, " ucap Wen Xi Meng.
Kaisar Wu Jing Ren mendekati Wen Xi Meng kemudian mengecup bibirnya. Wen Xi Meng membalas perlakuan tersebut dengan agresif. Gairah membara di tengah kesunyian melanda. Hawa nafsu menyelimuti mereka disertai kekuatan basis kultivasi Wen Xi Meng yang meningkat akibat iblis nafsu.
"Melapor! "
"Katakan"
"Seperti dugaan anda, Perguruan Lembah Racun bergerak"
"Siapkan beberapa pasukan cegah mereka masuk ke dalam ibukota dalam radius 3 kilometer. Misi kali ini adalah rahasia dan jangan sampai Kaisar tahu, " perintah Raja Jin.
"Laksanakan sesuai perintah"
Raja Jin merasakan hawa iblis sesat hingga mengganggu pikirannya.
"Apakah yang aku rasakan adalah salah? " ucap Raja Jin.
Raja Jin memejamkan matanya menggunakan jiwanya menelusuri seluruh kawasan ibukota hingga dirinya dikejutkan oleh sesuatu penghalang di istana.
"Persepsi jiwaku tak mampu menembus penghalang istana. Pelindung yang ditinggalkan Kaisar turun-temurun tak dapat aku tembus, " ucap Raja Jin.
Suara ringkikan kuda terdengar. Derap kaki kuda berlari menggema. Seseorang menunggangi kuda dengan gagah berani memimpin pasukan menembus hutan belantara. Kedatangannya ke ibukota adalah perintah dari kakaknya.
"Berhenti! " ucapnya memerintah bawahannya.
Puluhan orang berhenti ketika Tuan mereka memerintahkan untuk berhenti.
"Tuan Muda, apakah ada masalah? "
Seseorang yang dipanggil Tuan Muda tersebut mengambil pisau melemparkan ke arah yang telah dia targetkan.
"Trang!! "
Suara benturan benda tajam menyadarkan mereka semua bahwa telah dikepung.
"Bentuk formasi pertahanan! "
__ADS_1
Semua orang bergegas membentuk formasi pertahanan. Angin bertiup kencang. Kesunyian melanda hutan.
"Keluar jika kalian berani! "
Daun-daun berterbangan. Seseorang muncul di hadapan mereka.
"Salam kenal. Tuan Muda Wen"
Merasa dirinya dikenali oleh orang tersebut, dirinya lantas bertanya.
"Siapa kau? "
"Apakah anda mengenali tanda ini? "ucapnya sembari menunjukkan lengan.
Tuan Muda Wen terkejut bahwa seseorang yang tengah menghadangnya adalah bawahan dari orang kuat ditandai dengan simbol yang ditunjukkan oleh orang tersebut.
" Bulan Gelap! Bawahan Raja Jin! "ucap Tuan Muda Wen.
" Tuan Muda sungguh pintar. Perkenalkan namaku She Han, urutan ke 8 dari 10 bawahan langsung Yang Mulia Raja Jin"
"Apakah kedatanganku telah diketahui? Tapi tak mungkin. Surat yang dikirim oleh kakak adalah rahasia dan dikirim melalui jalur tersembunyi. Bagaimana mungkin Raja Jin mengetahuinya? " batin Tuan Muda Wen.
"Anda dipersilahkan kembali, " ucap She Han sopan.
"Oh. Ternyata kakak anda yang meminta anda untuk kemari? " tanya She Han meremehkan.
"Karena kau telah mengetahui siapa yang menyuruhku, lebih baik kau pergi dari hadapanku. Aku akan mengampuni nyawamu, " ucap Tuan Muda Wen.
"Jangan pernah lupa. Ibukota memang Kaisar yang berkuasa, namun diluarnya Yang Mulia Raja Jin lah yang berkuasa, " ucap She Han.
"Serang! " perintah She Han.
Sekelompok orang berpakaian hitam turun dari atas pohon mengepung kelompok dari Tuan Muda Wen.
"Julukanku adalah membunuh tanpa menyentuh," ucap She Han.
Angin berhembus. Pasukan yang dipimpin oleh She Han melakukan serangan secepat kilat menumbangkan satu per satu pasukan milik Tuan Muda Wen.
"Apakah kau kembali sekarang atau tidak! " ucap She Han.
Tuan Muda Wen mengangkat pedangnya meloncat menyerang She Han. Berdiri tanpa bergerak sedikitpun menunggu pedang menghantam dirinya. Pedang Tuan Muda Wen dipegang okeh She Han yang kemudian dibengkokkan hingga patah.
__ADS_1
Tuan Muda Wen mundur ke belakang setelah pedangnya dipatahkan. Aura racun keluar dari tubuhnya mematikan esensi kehidupan makhluk disekitarnya. Aura racun bergerak ke arah She Han dengan cepat. She Han menghilang dan muncul tepat disamping Tuan Muda Wen. Pukulan dilayangkan dengan keras membuat sang empunya terpental.
Pasukan yang dipimpin oleh She Han menghilang berpencar memasang formasi kedap aura. Tangan She Han berselimut aura racun berkobar layaknya api.
"Tubuhmu akan meleleh akibat racun milikku,"ucap Tuan Muda Wen sembari mengusap darah di sudut bibirnya.
Racun yang berbentuk seperti api berputar layaknya tornado kecil di tangan She Han.
"Sayangnya dugaanmu salah, "balas She Han.
She Han melemparkan racun tersebut ke arah Tuan Muda Wen hingga mengenai tubuhnya menyebar ke seluruh tubuh layaknya api.
"Tubuhku... Apa yang kau lakukan! " marah Tuan Muda Wen.
Pembalikan racun dari She Han lebih kuat dari pemilik aslinya. Adapun bagaimana racun tersebut tak bekerja padanya dikarenakan zirah air tingkat tinggi yang tak terlihat hingga mampu meleburkan racun tersebut. She Han menggunakan elemen angin miliknya menyerap energi langit dan bumi untuk mengontrol kekuatan dari racun korosif tersebut.
"Beruntungnya aku sudah mengantisipasi siapa yang akan datang, " batin She Han.
Tubuh Tuan Muda Wen terbakar oleh aura racun pembalik dari She Han hingga kulitnya melepuh beserta nanah yang ada di sekujur tubuhnya. Wajah rupawan yang dia banggakam hancur seketika. Merasakan kesakitan yang amat luar biasa membuatnya pingsan. She Han menyuruh pasukannya untuk membawa Tuan Muda Wen kembali ke istana Raja Jin.
She Han berada di tempatnya memasang formasi melalui sisa racun yang ada di tangannya membuat siapapun yang bermarga Wen tak akan bisa datang ke ibukota lagi. Mata She Han menyala terang. Mulutnya membacakan mantra kuno. Angin berhembus kencang di sekitar She Han ketika formasi di buat olehnya.
Formasi penghalang menyelimuti seluruh hutan yang akan memblokir dan mendeteksi siapa orang yang masuk ke ibukota melalui jalur Jingling.
"Jalur Jingling penghubung wilayah Yang Mulia Raja Jin dan Ibukota berada di bawah pengawasanku mulai sekarang, " ucap She Han.
She Han menghilang kembali ke istana Raja Jin untuk melapor.
"Melapor, " ucap She Han.
"Apa yang kau dapatkan beberapa hari ini?"tanya Raja Jin.
"Menjawab. Hamba berhasil mencegah Tuan Muda Wen untuk datang ke ibukota dan sekarang berada di ruang tahanan, " jawab She Han.
"Wen He Lei? Adik dari Wen Xi Meng? " tanya Raja Jin.
"Benar Yang Mulia, " jawab She Han.
"Aku akan mengurusnya setelah perjamuan puncak selesai, " ucap Raja Jin.
"Bawahan mengerti, " balas She Han mengundurkan diri dari hadapan Raja Jin.
__ADS_1
"Aku menunggu tindakanmu selanjutnya, Wen Xi Meng, "ucap Raja Jin.
Alun-alun ibukota tampak ramai dihiasi oleh lampion. Para warga tampak ramai berjualan di sekitarnya mencari pundi-pundi rupiah. Riang tawa anak-anak terdengar dimana-mana. Kereta kuda berbagai bangsawan besar ibukota datang. Prajurit bertugas mengamankan jalanan menghindari ketidaknyamanan para bangsawan.