
Yi Liong menutup pintu meninggalkan Lou Shi sendirian. Gudang harta kota Cengyue sangat beragam isinya. Lou Shi duduk bersila menggunakan persepsi jiwanya untuk mendapatkan buku yang dia inginkan.
Buku yang berada di rak lemari kayu bergetar kemudian melayang mengelilingi Lou Shi. Merasakan bahwa buku-buku tersebut tidak cocok untuknya, Lou Shi mengembalikan buku tersebut kembali.
Mencari harta yang menurutnya menarik butuh waktu lama untuk mendapatkannya. Dua buah buku terbang mendekati Lou Shi. Aura yang tak biasa membuatnya menarik hingga matanya terbuka.
"Teknik pedang jiwa malam dan..." ucap Lou Shi menggantung.
Salah satu buku yang ada di hadapannya aneh. Tidak ada judul untuk buku tersebut. Lou Shi yang penasaran segera membuka buku tersebut hingga perlahan-lahan muncul judul. Aura naga yang dia dapatkan dari salah satu dekrit rahasia Kaisar Wu merangsang buku kuno tersebut.
"Apa hubungannya aura naga dengan buku ini? " tanya Lou Shi.
Buku yang berjudul Aura Naga Kekaisaran membuat Lou Shi tertarik untuk membacanya. Penjelasan inti dari buku tersebut adalah bahwa seseorang yang akan naik takhta menjadi Kaisar haruslah memiliki pengakuan dari Kaisar Naga agar mendapatkan aura suci naga kekaisaran untuk melindungi seluruh rakyatnya.
Barang siapa seorang Kaisar yang tak memiliki aura naga kekaisaran, maka takhtanya tak akan bisa utuh selamanya atau diteruskan oleh keturunannya. Seorang yang memiliki aura naga berhak menduduki takhta karena mendapatkan aura suci dari Kaisar Naga.
"Apakah Kaisar Wu Jiang Zhi memiliki aura naga?" ucap Lou Shi.
Lou Shi mengingat akan dirinya bersama dengan Lin Huang menyerap aura naga dari lembaran yang dia dapatkan di desa Shiluo.
"Jangan-jangan aura naga yang aku punya sama seperti aura naga yang dimiliki oleh para Kaisar, " ucap Lou Shi.
Lou Shi mulai berspekulasi mengenai aura naga yang dia dapatkan dilembaran yang dia temukan di desa Shiluo. Sesuai dengan buku yang dia baca, aura naga hanya dimiliki oleh garis keturunan Kekaisaran. Bilamana seorang pangeran ingin naik takhta, maka ia haruslah membangkitkan aura naga agar mendapatkan pengakuan dari Kaisar Naga. Seberapa persen seorang pangeran dapat membangkitkan aura naga, hanya Kaisar Naga yang menentukan pantas tidaknya pangeran tersebut naik takhta.
Spekulasi liar mengenai Kaisar Wu Jiang Zhi berputar dikepala Lou Shi.
"Meskipun aku cucu dari Raja Jin, tapi Raja Jin bukanlah seorang pangeran dari garis keturunan Kaisar. Mengapa aku bisa menyerap aura naga sama seperti Lin Huang, " ucap Lou Shi.
"Apakah Kaisar Wu Jiang Zhi tak dapat membangkitkan aura naga? Dan aura naga yang aku dapatkan adalah aura naga dari Kaisar Wu Jing Ren sehingga siapapun dapat menyerapnya. Tapi mengapa takhta Kaisar Wu Jiang Zhi bertahan hingga sekarang? " tanya Lou Shi.
Buru-buru pergi dari gudang harta membawa kedua buku tersebut. Peti mati emas beserta dengan pil Yuhe telah dikirimkan ke barak tempat tinggal Lou Shi.
Melaporkan apa yang di dapatkan kepada Shuan Yi kemudian bergegas kembali ke barak. Gong Wei telah menunggu Lou Shi kembali menanyakan apa yang dia dapatkan.
"Kau mendapatkan teknik pedang jiwa malam? Sungguh hal yang membahagiakan, " ucap Gong Wei.
__ADS_1
"Ya, aku senang mendapatkan hal yang ku inginkan, " balas Lou Shi.
Gong Wei pergi setelah berbasa basi dengan Lou Shi. Latihan di berhentikan karena komandan Fang Xin tengah rapat bersama dengan Tuan Kota.
Lou Shi menuliskan pesan mengenai meminta tolong kepada Jendral An Ning untuk menanyakan situasi pengadilan serta memberitahukan masalah aura naga kekaisaran dan buku yang dia dapatkan sebagau informasi. Lou Shi menaruh pesan dan buku Aura Naga Kekaisaran ia letakkan di dalam peti emas beserta dengan pil Yuhe.
Lou Shi memberitahu penjaga mansion untuk menyewakan tukang pengantar barang yang dapat mengirim barang dengan cepat. Kurir datang membawa kereta yang kemudian peti emas ia serahkan kepada kurir.
"Ini bayaran untukmu dan kirimkan ke mansion Jendral An Ning segera, " ucap Lou Shi.
"Baik, akan kami antar sesegera mungkin, " jawab kurir melajukan kereta kudanya.
Lou Shi menggunakan jiwanya untuk menghapus ingatan orang-orang yang terlibat menghindari mereka melapor kepada Tuan Shuan Yi.
Lin Huang mengendarai kudanya melintasi gunung yang berada di wilayah Raja Qiu Di. Hutan yang masih asri dengan hewan-hewan yang jarang dijumpai. Lereng gunung yang ditanami teh hijau membuat suasana asri menyejukkan. Para warga sekitar yang sedang memetik teh dapat dijumpai di sepanjang perjalanan.
"Raja Qiu Di memang kaya, "ucap Lin Huang.
Lin Huang beristirahat di kuil sembari menunggu kudanya mengembalikan staminanya. Pemandangan indah menghilangkan rasa lelah Lin Huang setelah melakukan perjalanan jarak jauh.
Pintu kuil terbuka, seorang biksu muda keluar menyapa Lin Huang.
Lingkungan kuil yang bersih terawat dengan baik. Biksu muda mengantarkan Lin Huang untuk menemui biksu agung.
"Salam, " ucap Lin Huang.
"Salam... " balas biksu agung.
"Tuan ingin beristirahat, silahkan di dalam kuil, " ucap biksu agung.
"Terimakasih, " jawab Lin Huang.
Biksu muda membawakan Lin Huang makanan beserta minuman. Lin Huang makan dan minum dengan pelan serta tidak bersuara.
Biksu muda menyalakan dupa bersiap untuk sembahyang. Lin Huang menyingkir agar tidak menganggu.
__ADS_1
"Tuan Lin, " panggil biksu agung.
Lin Huang terkejut saat seseorang memanggilnya yang ternyata adalah biksu agung.
"Bagaimana anda bisa tahu namaku? " tanya Lin Huang.
"Hati, " jawab biksu agung.
Suasana canggung. Lin Huang merasa tak enak ketika berhadapan dengan biksu agung.
"Terimakasih atas kemurahan hati anda, " ucap Lin Huang.
"Sesama makhluk hidup, kita harus saling membantu, " jawab biksu agung.
"Apakah ada yang ingin anda sampaikan kepada saya? " tanya Lin Huang.
"Jalan kebajikan akan menuntunmu, " ucap biksu agung menyentuh dahu Lin Huang menggunakan jari telunjuknya.
Lin Huang berada di lautan kesadarannya melihat bahwa terdapat anak tangga yang berjumlah ribuan menuju suatu tempat. Kakinya melangkah satu demi satu anak tangga menghilangkan rasa penasaran yang tak tertahankan.
Aura emas mengalir menuju anak tangga yang dilewati Lin Huang dan memblokir Lin Huang untuk melangkah lebih jauh lagi.
"Apa yang terjadi! " ucap Lin Huang terpental hingga kembali ke dasar.
Anak tangga yang berjumlah ribuan sebelumnya menghilang dengan suara biksu agung yang menggema.
"Ujung dari anak tangga tersebut adalah tempat yang kau tuju, namun kau belum layak untuk kesana, " ucap biksu agung.
Lin Huang tersadar kembali terkejut melihat biksu agung berdiri di depannnya.
"Anda.... " ucap Lin Huang.
"Jangan terburu-buru ke sana karena hal yang besar akan terjadi secara beruntun, " ucap biksu agung.
"Hal besar apa? " tanya Lin Huang.
__ADS_1
"Kau pasti akan tahu. Lebih baik kau tinggal beberapa hari di sini bermeditasi, " ucap biksu agung.
Lin Huang menuruti perkataan biksu agung untuk tinggal selama beberapa hari di kuil.