
"Benar, seperti yang kamu lihat. Aku sedang hamil," jawab Elena sambil tersenyum getir.
"Ha-hamil anak Mr.Juna?!"
Elena mengangguk. "Siapa lagi yang akan menghamiliku kalau bukan Juna. Kita saling mencintai dan inilah hasil dari cinta kita. Saat aku kembali dari luar negeri beberapa bulan yang lalu dan menemui Juna, dia langsung pergi meninggalkan Eleonara dan bermalam denganku. Vivian, aku mohon dengan amat sangat padamu, tolong bantu aku memisahkan Eleonara dengan Juna," rengek Elena sambil menggenggam kedua tangan Vivian dengan mata berkaca-kaca.
"Eh, tapi ... aku tidak ada hak memisahkan mereka. Lagipula Eleonara juga pernah bilang padaku dia ... dia menyukai Mr.Juna dan dia kelihatannya senang. Aku mana berani menghancurkan kesenangannya."
"Lalu, bagaimana denganku dan bayi dalam perutku ini? Apa pun alasannya, Juna harus tetap menikahi aku. Aku bisa saja mengalah demi adikku, tapi sekarang aku sedang hamil. Aku tidak bisa melihat anakku lahir tanpa seorang Ayah. Mengenai Juna dan Eleonara, mereka hanya tinggal satu atap saja, Juna enggan menyentuhnya karena dia mencintaiku dan juga menghargaiku. Kamu bisa membantuku memisahkan mereka sebelum sesuatu yang lebih buruk terjadi. Satu lagi, jangan pernah kamu beritahu Eleonara kalau kamu bertemu dan bicara denganku, ya?"
"Eh, itu -"
"Aku minta nomormu, kita kerjasama. Aku akan membutuhkan banyak bantuan darimu nanti. Apa kamu masih percaya padanya setelah apa yang sudah aku katakan padamu? Bodoh jika kamu tidak merasa sedih dan kecewa, padahal dia sudah membohongimu demi kesenangannya sendiri," cecar Elena sambil memperhatikan ekspresi Vivian dengan teliti. Bisa ularnya sukses meracuni otak Vivian dan melumpuhkan rasa percayanya pada sang sahabat.
Vivian termenung memikirkan setiap perkataan yang ke luar dari mulut Elena. Semakin dipikirkan, rasa benci dan kecewanya terhadap Eleonara semakin berkembang. Vivian bahkan berani mengacuhkan Eleonara di sekolah.
Tiba-tiba saja ponselnya berbunyi. Ada pesan masuk dari Eleonara.
'Besok aku jelasin semuanya. Kamu jangan menghindar terus, dong, Vi.'
Begitulah isi pesannya. Namun, tampaknya Vivian ogah membalasnya. Dia langsung melempar ponselnya ke sembarang tempat dan memilih untuk tidur.
__ADS_1
....
Sepulang sekolah.
Vivian memberanikan diri menunggu Eleonara selesai karena barusan dia lihat Eleonara sedang di panggil oleh Bu Yuni ke kantor.
"Vi!" panggil Eleonara sambil berlari cepat, takutnya Vivian kabur lagi.
"Apa, El?" tanya Vivian dengan wajah malas sambil memperhatikan penampilannya yang modis, berbeda dengan Eleonara dulu yang begitu culun. Badannya pun sekarang lebih berisi dengan kulitnya yang kinclong, seperti dirawat penuh.
"Cari tempat buat ngobrol, yuk," ajak Eleonara. Dia lalu menggiring Vivian pergi ke sebuah kafe.
Sesampainya di kafe, Eleonara memesan beberapa hidangan, camilan serta minumannya. Kemudian dia mulai membuka suara.
Vivian memutar bola matanya sambil bersandar dan melipat kedua tangannya di atas perut. Hanya itu responnya.
"Aku udah siapin mental dari semalem buat ngomong jujur ke kamu, aku harap kamu ngerti. Jujur, aku ... aku udah nikah, Vi."
Vivian menatap kedua bola mata Eleonara dengan tatapan terkejut, tapi tidak sepenuhnya karena dia memang sudah tahu, hanya saja rasanya berbeda jika dengar dari orangnya langsung. Seakan melenyapkan seluruh ketidakmungkinan di otaknya.
"Sama siapa?" tanya Vivian datar.
__ADS_1
Eleonara seolah melihat ekspresi Vivian tidak semuanya ditumpahkan. Bukankah seharusnya Vivian terkejut sampai mempertanyakan kebenarannya, setidaknya beberapa kali. Dia melihat di hadapannya ini seperti bukan Vivian sahabatnya. Agak mencurigakan.
"Sama ... ehem, Pak Juna," jawab Eleonara ragu karena dia tahu kalau Vivian begitu tergila-gila pada Juna.
Terlihat gurat kesedihan dan kekecewaan dari sorot mata Vivian. Tak bisa dipungkiri itulah yang kini dia rasakan. Sesak dadanya bukan main mengetahui sahabatnya sendiri benar-benar telah menikah dengan idolanya tanpa sepengetahuannya. Berbulan-bulan Eleonara menutupinya darinya, bahkan berpura-pura seolah tidak ada apa-apa ketika Vivian memuja Juna setiap saat, sungguh tega!
"Kok, bisa? Sejak kapan? Kenapa gak ngasih tau aku? Kamu udah gak nganggap aku sahabat kamu lagi, El!" cecar Vivian dengan mata berkaca-kaca. Sakit hatinya dibohongi sahabat segitu tulus seakan dikecewakan seorang pacar.
"Bukan gitu, Vi. Aku nikah sama Pak Juna gara-gara dijodohin. Ayah sama Ibu awalnya mau jodohin Pak Juna sama Kak Sera, tapi ada kesalahpahaman waktu itu sampai Kak Sera gak mau dijodohin dan akhirnya tanggung jawab itu dikasih ke aku. Aku gak bisa nolak, kamu sendiri tau gimana kerasnya Kak Sera sama Bu Rosma sama aku, kan? Jadi aku terpaksa nerima perjodohan itu. Kamu gak bakal ngerti gimana rasanya ada diposisi aku waktu itu. Tertekan, nolak gak bisa, ngebantah sedikit juga pasti dipukul. Masalahnya aku masih sekolah, aku juga punya cita-cita sama tujuan hidup. Terus aku harus ngambil keputusan besar dari kehidupan aku. Vi, aku bener-bener gak ada niat nyembunyiin semua ini dari kamu. Cuma ... cuma aku belum nemu waktu yang tepat buat cerita karena pernikahan itu terlalu mendadak. Aku takut kamu gak nerima aku lagi," jelas Eleonara berusaha meyakinkan Vivian sebisanya sambil menggenggam tangan Vivian dengan tatapan getir.
Vivian merasa tergetar hatinya, tapi tiba-tiba saja dia menarik lengannya dan menatap Eleonara dingin.
"Coba kalau kamu jujur dari awal, terbuka sama aku, ceritain semua keluh kesah kamu, gak ada yang ditutupin kayak gini. Aku mungkin cuma kaget, tapi itu wajar. Rasa kecewa aku yang udah dibohongin kamu sampai detik ini gak bakal sebesar sekarang, El. Sekarang denger penjelasan kamu juga udah percuma. Aku udah terlanjur denger dari orang dan itu yang paling bikin aku sakit hati dan kecewa berat sama kamu tau! Sekarang aku mau tanya, sebesar apa sih rasa percaya kamu sama aku?" ungkap Vivian sambil terengah-engah emosi.
"Kayaknya di sini cuma aku aja yang nganggap persahabatan kita serius. Dari awal kita ketemu, aku gak pernah menyembunyiin apa-apa sama kamu, lho. Masalah di keluarga aku juga aku ceritain semua ke kamu, itu karena aku percaya sama kamu. Sahabat itu saling berbagi, mau susah kek, senang kek, tetep harus berbagi, biar sama-sama ngerasain. Kalau kamu nyembunyiin segudang masalah kamu sendiri, terus apa fungsinya aku? Kayaknya kamu masih gak tau apa arti sahabat. Orang yang ngerangkul disaat kamu sedih, disaat keluarga menjauh dan disaat semua orang pergi! Sekarang kayaknya kita udah gak bisa sahabatan lagi, kita gak cocok. Semoga dari kepergian aku, kamu bisa dapet pelajaran," sambung Vivian sambil beranjak bangun dan pergi dengan segudang kekecewaan. Dia merasa tidak dianggap oleh Eleonara, lalu untuk apa masih bertahan?
...
BERSAMBUNG!!!
.
__ADS_1
.