
"Leona!" teriak Serkan.
Eleonara bergegas menghampiri dan apa yang dia lihat, Juna sedang tak sadarkan diri di pangkuan Serkan. Serkan sedang berusaha membangunkan Juna. Tubuhnya sudah lemah tak bertenaga. Tentu saja hal itu membuat Eleonara panik.
"Apa yang terjadi? Kenapa bisa dia pingsan?!" tanya Eleonara sambil menyentuh kening Juna, suhu tubuhnya kembali panas, wajahnya amat merah. "Astaga, panas sekali! Serkan Bey bantu aku bawa Juna ke rumah sakit," pintanya cemas.
Serkan segera membopong Juna ke dalam mobilnya karena tidak mungkin membiarkan Eleonara membawa mobil Juna sendiri setelah kejadian yang menimpa Elena saat itu. Dia mendudukan Juna di kursi belakang, lalu dia sendiri duduk di belakang kemudi.
Diam-diam Juna membulatkan ibu jari serta jari telunjuknya pada Serkan sebagai kesepakatan kerja sama yang telah berhasil saat Eleonara masih di luar mobil. Serkan hanya menghela napas hampa sambil geleng-geleng kepala melihat kelakuan sahabatnya yang konyol itu, demi mendapatkan kembali perhatian istri kecilnya berani mempermainkan sebuah trik. Dan ketika Eleonara membuka mobil, Juna langsung memejamkan matanya lagi, pura-pura pingsan. Serkan pun kembali memasang wajah panik.
"Mau dibawa ke rumah sakit mana, Leona?" tanya Serkan.
"Mana saja, yang paling dekat dari sini," kata Eleonara gelisah tidak tenang.
"Saya akan mengendarai dengan kecepatan tinggi. Pegang Juna, jangan sampai terjatuh," ujar Serkan seakan benar-benar sedang mencemaskan kondisi Juna.
Eleonara mengangguk, lalu memeluk tubuh Juna dengan erat. Kepala Juna bersandar di dadaa Eleonara, diam-diam Juna mengulum senyum sambil mengedipkan sebelah matanya pada kaca spion tengah. Serkan yang melihatnya mulai merasa mual-mual.
Aku melakukan ini terpaksa, semata-mata untuk menebus kesalahanku yang sudah membawa lari istrimu. Kalau tidak begitu, mana mau aku. (Batin Serkan sambil melajukan mobilnya)
...
Sepulangnya dari rumah sakit, Serkan mengantarkan mereka sampai depan rumah Juna. Juna sudah sadar saat ini dan bisa berjalan sendiri tanpa bantuan siapa pun.
"Saya antar sampai sini saja, ya. Ada kesalahan di restoran. Jun, jangan buat masalah lagi. Sayangi istrimu sebelum aku menyayanginya. Güle güle (bye bye/selamat tinggal)," ucap Serkan dengan senyum mengejek pada Juna sambil berlalu pergi.
__ADS_1
Juna menggertakkan giginya dengan tangan mengepal di udara saat melihat kepergian Serkan yang begitu menyebalkan. Namun, kekesalannya pada Serkan luluh saat Eleonara menggiringnya masuk ke rumah dengan melingkarkan tangannya di pinggang Juna.
"Hati-hati, jangan salah melangkah," kata Eleonara perhatian, tapi dengan ekspresi yang masih kesal pada Juna.
"Akh, kepala saya masih terasa pusing." Juna menyandarkan kepalanya di bahu Eleonara sambil memeluknya dengan manja. Eleonara sampai sulit menyeimbangkan tubuhnya saat membuka pintu karena tubuh Juna berat sekali.
"Jangan terlalu dekat! Kamu pikir aku bisa melupakan kejadian yang menyesakkan dada itu begitu saja hanya karena kamu sakit?" gerutu Eleonara yang malah membuat Juna semakin gemas melihatnya.
Namun, ketika mereka menginjakan kaki di ruang tamu, sosok ular berkepala merah itu ada di sana sedang duduk manis dengan sorot mata mencemaskan Juna. Siapa lagi kalau bukan Elena.
"Elena?" Kening Juna mengerut tajam.
"Kamu ...?" Eleonara melirik ke arah pintu bertanya-tanya. Dia baru sadar kalau barusan pintunya tidak di kunci. Eleonara kira Syam ada di rumah. "Ngapain kamu di sini?!" tanyanya dengan tatapan tak bersahabat.
"Siapa yang membiarkanmu masuk seenaknya ke rumahku, El? Di mana Syam!" bentak Juna. Dia terlihat baik-baik saja, tidak seperti sebelumnya yang menggelayut manja di bahu Eleonara.
"Syam tidak ada di sini. Jun, aku ke sini untuk meminta maaf pada istrimu. Aku tidak bermaksud apa-apa, tolong terima aku di sini. Aku hanya ingin bicara berdua dengannya. Aku mohon," rengek Elena sambil berjalan mendekati Juna dan menggenggam tangannya. Tangan yang satunya mengelus-elus perutnya, sengaja menunjukan pada Eleonara kalau dia tidak bisa bersikap kasar padanya karena dia sedang hamil.
"Apa yang mau kamu bicarakan? Katakan saja. Mau meminta Juna dariku? Tidak akan kuberi secara cuma-cuma!" tegas Eleonara sambil berkacak pinggang dengan dagu terjangkat naik.
Juna melirik istri kecilnya yang wajahnya begitu garang sekarang dengan tatapan takjub. Dia menyadari satu hal kalau Eleonara memang marah, tapi tak bisa membencinya apalagi menyerahkannya pada wanita lain. Ah, Juna makin terleona-leona kalau begitu.
"Tidak, bukan begitu. Tenanglah, duduk dulu. Kita bicara santai, ya. Aku sedang hamil lho, tidak bisakah bersikap lembut sedikit? Suaramu yang lantang mengejutkannya," ucap Elena sambil menunjuk perutnya.
Eleonara menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya pelan-pelan. Dia berusaha mengendalikan emosinya.
__ADS_1
"Aku bawa Juna ke kamar dulu." Eleonara harus segera menyembunyikan Juna dari wanita ular ini agar tidak terkena bisa gigitannya.
Dia membuka pintu kamar dan membantu Juna berbaring di ranjang. "Sedang sakit jangan banyak tingkah. Nanti aku buatkan bubur kalau sudah menyelesaikan masalah di luar," gerutunya sebal, tapi tetap saja kesan perhatiannya dapat dirasakan oleh Juna.
Saat Eleonara beranjak bangun, Juna menarik pergelangan tangannya dan meletakan telapak tangannya di dadaanya.
"Tidak perlu menghadapinya. Biarkan saja dia pergi," ucapnya lirih dengan wajah pucat.
Eleonara tiba-tiba mencubit gemas dadaa Juna. Sampai Juna merintih, bukan sakit, tapi geli. "Kalau tidak dihadapi, nanti dia semakin menjadi," katanya.
"Leona, saya tahu kamu tidak bisa benar-benar marah pada saya karena hati kecilmu percaya saya tidak akan kembali dengannya. Kenapa kamu begitu percaya? Tidak takut kah, saya mengkhianatimu?" tanya Juna sambil mengelus punggung tangan Eleonara dengan tatapan penuh kasih sayang.
"Takut? Jujur, ada. Bahkan takut sekali. Mengenai percaya atau tidak, bukankah ayahmu sendiri yang menyarankan pada kita untuk saling percaya satu sama lain? Mempercayaimu adalah keputusanku, membuktikan bahwa keputusanku salah adalah pilihanmu. Itu saja."
Setelah mengatakan itu dengan hilangnya rasa percaya diri, Eleonara pun ke luar sambil menutup pintu. Juna menatap hampa kepergian Eleonara dengan segudang penyesalan di wajahnya.
...
BERSAMBUNG!!
Like, Like, Like!
.
.
__ADS_1