Istri Kecil Yang Nakal

Istri Kecil Yang Nakal
Mariam dan Abraham Bermuka Dua


__ADS_3

"Ayah kirimkan alamat rumah Pak Abraham sekarang juga!" suara Juna terdengar marah, membuat Pak Mohsen yang berada di balik telepon bertanya-tanya. Namun, belum sempat Pak Mohsen bertanya, Juna langsung memutus panggilan tersebut.


Akhirnya Juna mendapatkan alamat rumah Pak Abraham. Sesampainya di rumah Pak Abraham, Juna memarkirkan mobilnya asal. Dia masuk ke dalam, lalu mengetuk pintu. Inginnya menerobos masuk saja tanpa basa-basi, tapi Juna berusaha mengendalikan emosinya. Emosi yang berlebihan hanya akan menimbulkan penyesalan di kemudian hari.


Brak, brak, brak!


"Pak Abraham?!" panggilnya dengan kerutan tajam di kening.


Terdengar suara seseorang dari dalam menyuruhnya menunggu. Tidak lama, pintu terbuka, sosok Mariam yang terlihat.


"Eh, Nak Juna? Saya tidak tahu kalau Nak Juna akan datang kemari malam ini, kenapa tidak mengabari terlebih dahulu? Mana Eleonara?" tanya Mariam sambil celingak-celinguk mencari keberadaan Eleonara.


"Saya datang sendiri mencari Sora," ucap Juna dengan aura hitam berkabut yang terasa begitu kental. Membuat Mariam tiba-tiba merinding ketakutan.


"Sora? Sora belum pulang sejak siang. Ada apa memangnya?" tanya Mariam.


Juna nyelonong masuk begitu saja sambil berkata dengan ketus, "Bicara di dalam."


Eh, ada apa ini? Juna terlihat marah sambil mencari-cari Sora. Apa yang terjadi? (Batin Mariam firasatnya buruk)


Mariam pun masuk dan duduk di sofa ruang tamu berhadapan dengan Juna. Pak Abraham ke luar dari kamar dan terkejut melihat kehadiran Juna. Dia langsung melukis senyum indah yang merekah di wajahnya.


"Wah, wah, wah, ternyata ada tamu agung. Maaf, tadi saya sedang istirahat di kamar. Bagaimana kabarnya, Nak Juna? Setelah menikah dengan Eleonara, kalian tidak pernah mengunjungi kami. Padahal saya begitu rindu ingin bertemu kalian, tapi akhirnya sekarang kalian datang juga," ucap Pak Abraham sambil duduk di samping Mariam.


"Saya sedang mencari Sora," kata Juna menekan dengan raut wajah datar tanpa ekspresi.


"Sora? Ada apa Nak Juna mencari Sora? Oh, di mana Eleonara?" tanya Pak Abraham heran.


"Leona sekarang berada di rumah sakit!" ungkap Juna tanpa aba-aba.


"Apa, rumah sakit?! Kenapa dengan Eleonara? Dia sakit apa?" tanya Pak Abraham dengan kedua mata membulat. Terlihat benar-benar mencemaskan kondisi Eleonara. Namun berbeda dengan Mariam yang ikut cemas, tapi tidak begitu tulus.

__ADS_1


"Leona tenggelam di kolam renang. Anak Anda Sora yang melakukannya."


Deg!


Sekujur tubuh Pak Abraham membatu. Matanya membulat besar mendengar pernyataan Juna yang sukses membuatnya terlonjak kaget. Begitu juga dengan Mariam yang lebih terkejut dari pada itu.


"A-apa maksudmu, Nak Juna? Eleonara tenggelam ke kolam renang disebabkan oleh Sora? B-bagaimana itu mungkin? Sora sangat menyayangi Eleonara sebagai adiknya, dia tidak mungkin melakukan tindakan bahaya seperti itu," kata Mariam membela anaknya.


"Benar yang istri saya katakan, Sora tidak akan berani mencelakai Eleonara. Meski mereka bukan saudara kandung, tapi dari kecil hingga sekarang Sora sangat menyayangi dan melindunginya. Pertengkaran kecil itu sudah biasa diantara kakak beradik, pada akhirnya mereka akur kembali. Itu hal yang wajar, bukan?" imbuh Pak Abraham ikut membela karena hatinya menolak percaya.


Bukan saudara kandung? (Batin Juna)


"Mungkin sebelum-sebelumnya memang pertengkaran biasa, tapi sepertinya sekarang sudah kelewatan." Juna mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan rekaman CCTV pada Mariam dan Pak Abraham.


"Saya berani bicara seperti ini karena memegang buktinya. Bukan semata-mata hanya omong kosong saja," sambung Juna sambil melihat ekspresi Pak Abraham serta Mariam yang sedang melihat rekaman tersebut. Ekspresinya langsung berubah drastis. Tadi begitu kuat, sekarang terlihat lemah tak berkutik.


"I-ini ... tidak mungkin!" seru Mariam dengan mulut menganga.


Pak Abraham naik pitam. Dia sampai menggebrak meja dengan rahang mengeras kuat. Kebencian terlihat dari sorot matanya.


Bagaimana mungkin Sora begitu ceroboh? Sampai berani mencelakai Eleonara! Apa dia tidak tahu kalau nasip bisnisku ada di tangannya. Sekali menyinggung Juna atau keluarganya, bisnisku bisa dalam bahaya lagi. Tampaknya Juna juga sangat tidak terima Sora mencelakai Eleonara. Bisa dibilang kalau hubungan mereka berjalan baik. Itu kabar bagus, tapi sekarang malah dikacaukan oleh Sora. Dasar anak bodoh! (Batin Abraham)


Juna tidak tahu apa yang dipikirkan Pak Abraham karena kelihatannya dia sangat marah, yang jelas pasti pikirannya sedang kacau berdesakan karena Juna tahu suasana hatinya bisa mempengaruhi nasip bisnis Pak Abraham. Pun dengan Mariam, mereka tidak ada yang akat bicara. Hanya terkejut dalam diam saja. Tidak seperti sebelumnya yang begitu menentang pernyataan Juna.


"Pokoknya saya ingin bertemu dengan Sora. Kalian jangan menyembunyikannya. Saya ingin membuat perhitungan karena sudah membuat nyawa Leona dalam bahaya," tutur Juna dengan tatapan mengancam.


Sora, Sora, Sora! Bodoh, tidak bisakah anak itu bertindak tanpa menimbulkan dampak buruk? (Batin Mariam)


"Nak Juna, saya benar-benar tidak tahu Sora di mana. Kita perlu membicarakan ini secara kekeluargaan. Mungkin saja ada kesalahpahaman. Dari siang dia izin ke luar dan sampai sekarang belum pulang. Saya tidak tahu kalau ternyata Sora pergi mengunjungi Eleonara barusan," ucap Mariam dengan ekspresi minta dikasihani.


"Kalian tidak mungkin tidak memiliki nomornya, kan? Telepon dia sekarang, tanya keberadaannya di mana," ujar Juna.

__ADS_1


Mariam menelan saliva dalam-dalam sambil saling memandang dengan Pak Abraham. Raut wajah mereka sangat-sangat muram. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa selain menyanggupi permintaan Juna.


Mariam menghubungi Sora. Dalam hatinya dia berdoa agar Sora mematikan ponselnya, tapi sayang teleponnya tersambung.


Bodoh! Kenapa tidak dimatikan ponselnya kalau sudah melakukan tindakan yang tidak manusiawi?! (Batin Mariam)


"Ah, anu ... ponselnya tidak dapat dihubungi. Tidak aktif," bual Mariam gelagapan dengan keringat dingin mengucur di kening. Dia buru-buru mematikan layar ponselnya.


"Saya minta nomornya saja," pinta Juna yang membuat Mariam semakin ketar-ketir tidak karuan.


"Em ... itu ... biar saya dan suami saya saja yang mencarinya. Jika kami sudah menemukan Sora, kami pasti akan membawanya pada Nak Juna. Nak Juna tenang saja, sebaiknya sekarang kita mencemaskan kondisi Eleonara saja. Sayang, kita harus ke rumah sakit untuk melihat Eleonara, ayo cepat siap-siap," ucap Mariam berusaha mengalihkan topik pembicaraan sambil mendorong-dorong Pak Abraham. Namun sayangnya Juna tidak dapat tertipu semudah itu.


"Berikan saya nomonya dulu. Kalian kalau mau melihat Leona, pergi saja ke Rumah Sakit Medika. Ruang VIP. Di sana ada Syam yang menjaganya," kata Juna menekan.


Mariam terlihat ragu memberikan nomor Sora pada Juna. Namun, Pak Abraham yang tidak tahu menahu kelicikan Mariam malah memaksanya memberikan nomor Sora pada Juna.


"Nak Juna meminta nomor Sora, kenapa diam saja? Ayo, berikan. Jangan membuatnya menunggu," ujar Pak Abraham sambil melotot.


Aku tahu, tapi nomor Sora aktif. Bagaimana bisa aku memberikannya sekarang pada Juna. (Batin Mariam kesal sampai ubun-ubun)


"Saya tidak akan menghubunginya, tapi melacak keberadaannya. Dia pasti sedang bersembunyi di suatu tempat saat ini," ucap Juna yang semakin membuat Mariam tak rela memberikan nomor ponsel Sora. Tangannya sampai gemetar dan dingin sedingin es karena begitu takut.


Sora, kamu sudah membuat Ibu tertekan dan tidak bisa berbuat apa-apa. Kamu tanggung sendiri saja akibatnya. (Batin Mariam)


...


BERSAMBUNG!!


Dukung terus karya ini, ya^^


.

__ADS_1


.


__ADS_2