Istri Kecil Yang Nakal

Istri Kecil Yang Nakal
Akhirnya Semua Terbongkar - Ancaman Juna


__ADS_3

"Mungkin diantara Pak Abraham dan anak pertama Anda tidak melakukan kekerasan padanya, tapi coba Anda tanyakan pada istri dan anak kedua Anda. Apakah saya sedang berbohong atau mengada-ada?" Juna melayangkan tatapan sinis pada Mariam yang sedang menunduk dengan tubuh gemetar di pojokan.


Varel dan Abraham langsung menoleh menatapnya tajam. "Bu, apa maksudnya? Kenapa Ibu diam saja, dia ini sedang menuduhmu dan Sora! Ibu dan Sora tidak mungkin tega menyiksa Eleonara, kan?"


"Benar, itu tidak mungkin. Jujur, istri dan anak kedua saya memang tidak pernah akur dengan Eleonara, tapi mereka tidak akan berani main tangan padanya," tutur Abraham.


"Kalau begitu terserah yang mana yang ingin kalian percaya karena keputusan saya sudah bulat. Leona sudah tidak memiliki hubungan lagi dengan keluarga ini, permisi!"


Varel langsung mendorong kasar tubuh Juna sampai Juna hampir tersungkur ke lantai.


"Astaga, Kak Varel, Pak Juna!" Eleonara berlari ke samping Juna untuk membantunya.


"Siapa kamu?! Ada hak apa kamu memutus hubungan keluargaku dengan Eleonara?! Eleonara sudah kami adopsi sejak lama. Dia anggota keluarga Abraham resmi! Tidak ada yang bisa memisahkan kami begitu saja. Jika kamu merasa keberatan Eleonara berada di keluarga ini, kamu saja yang pergi!" bentak Varel, marah-marah sambil berkacak pinggang.


"Kamu sudah kelewatan. Apa kamu tidak mau bertanya pada Leona mengenai kebenarannya? Terus menerus melindungi keluargamu yang bahkan kamu sendiri tidak dapat menilai mereka seperti apa," protes Juna.


"Baik. El, katakan pada Kakak, ucapannya ini tidak ada satu pun yang benar, kan? Kami di sini memperlakukanmu dengan sangat baik, tidak ada namanya siksa menyiksa," tanya Varel pada Eleonara yang sedang memeluk lengan Juna dengan wajah murung.


"Jangan diam saja. Buat semuanya jelas sekarang. Tinggalkan mereka, saya bisa membuat keluarga baru untukmu," bisik Juna, tegas.

__ADS_1


Eleonara melihat harapan besar dari sorot mata Abraham, Varel dan Mariam agar Eleonara tidak mengatakan apa yang akan membuat hati mereka hancur.


"Tapi, Pak Juna, mau bagaimana pun mereka sudah merawatku dari kecil sampai sebesar ini. Haruskah sampai memutuskan hubungan dengan mereka?" tanya Eleonara bimbang.


"Harus! Jika tidak, kedepannya mereka akan menjadikanmu sebagai boneka atau mesin uang. Saya melihat ambisi dari tiap sorot tatapan keluargamu. Sora saja tidak ada kapoknya mengusikmu terus," ujar Juna.


Eleonara memejamkan matanya sambil mengatur suasana hatinya agar dia dapat mengambil keputusan yang tepat.


Benar sekali, bukankah ini yang aku inginkan sejak awal? Ke luar dari keluarga yang toxic? Sudah diberi kesempatan kenapa masih ragu? (Batin Eleonara)


Eleonara pun menganggukan kepalanya, mengisyaratkan kalau perkataan Juna benar adanya. "Kak Varel, Ayah ... selama ini ... Ibu dan Kak Sora memang sering menyiksaku di belakang kalian. Mereka tidak memperbolehkan aku memberitahu siapa-siapa mengenai ini. Aku tidak berhak membantah, jika aku membantah sedikit saja mereka akan memukul dan mencubitku sampai lebam-lebam. Aku minta maaf karena sebelumnya tidak ada keberanian bicara begini. Mereka akan mengancamku, kalau aku memberitahu kalian kelakuan mereka, aku akan dibuang. Seperti yang kalian tahu, aku sangat trauma dengan kata-kata itu," jelas Eleonara, membuat Varel dan Abraham tersentak kaget.


Deg!


Deg!


Deg!


Varel dan Abraham sudah menggeram seperti seekor singa yang hendak mencabik-cabik mangsanya yaitu Mariam. Wajah mereka merah menahan amarah menggebu.

__ADS_1


"Pengakuan ini cukup menghantam kalian, bukan? Termasuk Bu Mariam. Uang 30 juta memang bukan apa-apa bagi saya, tapi tindakan kalian yang katanya sebagai keluarga harmonis sungguh tidak bermoral! Saya ingin Bu Mariam mengembalikan uang 30 juta Leona, besok pagi sudah harus dikirim ke akun rekening Leona. Jika tidak, saya tidak bisa menjamin bisnis Pak Abraham baik-baik saja," ancam Juna sambil tersenyum menyeringai. Senyum yang sangat mengerikan, menyiratkan kehancuran di dalamnya.


Juna pun membawa Eleonara pergi dari hadapan mereka.


"Nak Juna! Nak Juna?!" panggil Abraham, sayangnya Juna sudah enggan menoleh hingga mereka masuk ke dalam mobil dan pergi dari kediaman Abraham.


"MARIAM...!" teriak Abraham sambil mengepalkan tangannya kuat-kuat. Dadanya berdebar marah.


"IBU...!" Kini bagian Varel dengan mata berapi-api. "BERANINYA IBU MENYIKSA ELE DI BELAKANGKU SELAMA INI!"


"Lihat kekacauan yang sudah kamu buat, Mariam, lihat! Bagaimana caramu membereskan semua ini, hah?! Kamu dan anakmu Sora sama-sama tollol dan guobblok! Kalian benar-benar argh ... brrengsek!"


Pyar!


Abraham kalap. Dia menendang meja makan sampai terbalik dan membuat piring-piring serta gelas pecah berantakan.


...


BERSAMBUNG!!

__ADS_1


__ADS_2