Istri Kecil Yang Nakal

Istri Kecil Yang Nakal
Ada Apa Dengan Vivian?


__ADS_3

"Tidak boleh! Kalau aku hamil bagaimana?" kata Eleonara dengan tatapan polos sambil mengubur tubuhnya di dalam air.


"Bagus, dong. Saya juga sudah tidak sabar ingin punya jagoan."


"Ih, pokonya tidak bisa! Maksudnya tidak bisa sekarang. Dua bulan lagi aku akan Ujian Kelulusan! Kalau saat itu hamil bisa repot," kata Eleonara protes sambil memukul manja dadaa Juna.


"Repot bagaimana? Memangnya kamu sendiri yang akan mengurus kehamilanmu? Saya juga sebagai pelaku harus ikut serta mengurus bayi kita, kan. Lagipula kamu hamil juga bukannya tidak ada bapaknya, kenapa mengeluh terus?" Juna pun tak mau kalah protes. Dia sampai berkacak pinggang di dalam air dengan mulut komat-kamit.


"Pokoknya tidak bisa sekarang!"


"Memangnya kamu bisa mengatur kapan harusnya kamu hamil? Siapa tahu setelah lulus SMA baru hamil, iya kan? Banyak pasangan di luar sana yang berhubungan sampai satu dua tahun tanpa pengaman, tapi tidak hamil-hamil. Saat malam pertama juga kita melakukannya tanpa pengaman, kamu tidak langsung hamil, kan? Jangan khawatir, kali ini juga tidak akan jadi. Saya sudah tidak bisa menahannya, Leona. Tidak sempat kalau harus membelinya ke Minimarket," rengek Juna sambil menarik-narik lengan Eleonara. Dia lupa, kalau di luar sana juga ada banyak pasangan yang sekali berhubungan langsung hamil.


Eleonara yang sudah terpengaruh ucapan Juna pun pada akhirnya luluh karena perkataan Juna cukup logis menurutnya. Hanya sekali tidak pakai pengaman, peluang kehamilannya kecil. Begitulah cara mereka menyepelekan sel sperrma, di mana sperrma Juna begitu aktif dan sudah sangat siap membuahi.


"A-ah, pelan-pelan!" rintih Eleonara sambil mencengkeram tepi bathtub dengan kuat saat Juna mulai beraksi menyiksanya. >_<


Juna melepaskan kacamata Eleonara dan terlihat kedua matanya yang berkaca-kaca karena serangannya yang buas, membuatnya mengerang kesakitan. Setiap hentakkan pinggullnya memberikan tekanan dahsyat pada tubuhnya.


Juna merengkuhnya dengan penuh kerinduan sambil menyessap sekitar bahunya di beberapa titik hingga menimbulkan tanda merah. Dia menjillati telinga Eleonara, lalu turun ke lehernya serta tulang selangkanya yang indah. Juna semakin menggila.


Eleonara sudah pasrah tak terbantah. Sepenuh jiwa dan raga dia persembahkan pada Juna, meski tulang harus remuk redam. Sudah tidak sempat menghentikannya.


...

__ADS_1


Pagi hari.


Eleonara memakai seragam sekolah baru pemberian dari Emran. Dia merasa tidak percaya diri memakainya karena rok abunya sejengkal di atas lutut dan seragam putihnya begitu ketat sampai rasanya dadaa padat berisi Eleonara terhimpit.


Juna yang kebetulan melewati kamar, berhenti saat melihat Eleonara yang sedang berkaca di cermin dengan penampilan yang berbeda dari biasanya. Juna menatapnya bulat-bulat sambil melangkah mendekati.


"Kamu beli seragam baru?" tanya Juna penasaran sambil mengelilingi Eleonara dengan bola mata naik turun.


"Ini hadiah dari Emran Bey. Bagaimana, apa aku cocok pakai ini?" Eleonara menggoyangkan piinggulnya dan membuat rok rempel SMA-nya tersapu ke sana-kemari.


Emran! (Batin Juna)


"Jelek, ganti! Masa rok sekolah pendek begitu? Ini juga baju seragamnya, sejak kapan seketat ini? Dadaamu sampai tumpah-tumpah begitu, memangnya tidak sesak? Emran itu memang pelit, kalau membuat pakaian selalu kurang bahan. Apa dia kekurangan dana? Kasihan sekali." Juna gagal fokus dan malah jadi ngomel-ngomel karena kesal istrinya dibuatkan seragam seksi. Bagaimana kalau banyak siswa di sekolahnya yang terpesona.


"Iya, jelek. Ganti pakai seragam sebelumnya. Seragam kebesaran lebih cocok ditubuhmu."


"Tapi, sudah tidak sempat. Aku sudah terlambat, hehe." Eleonara menarik tangan Juna dan mengecup punggung tangannya, kemudian berlalu begitu saja melewatinya sambil menyeringai senang. Di punggungnya terdapat tas ransel.


"Hey, Leona!" teriak Juna merasa tak rela Eleonara mengumbar lekuk tubuhnya pada khalayak ramai. Pasti akan banyak laki-laki di sekolahnya yang melirik.


Namun, Juna tak sempat menghentikannya, Eleonara sudah masuk ke dalam mobil. Syam pun dengan cepat membawanya pergi. Membuat Juna kesal saja.


"Kali ini pokoknya aku harus membuat perhitungan pada Emran!" kecam Juna bersungguh-sungguh.

__ADS_1


...


Di Sekolah.


Eleonara melihat Vivian berjalan memasuki gerbang sekolah sambil mengobrol dengan seorang siswi kelas lain. Mereka terlihat asik sekali sampai Vivian cengengesan. Obrolan apa yang membuat Vivian sesenang itu, Eleonara jadi penasaran.


"Vi?!" teriak Eleonara dari jauh sambil melambaikan tangannya. Dia begitu antusias karena ingin melihat seperti apa ekspresi Vivian saat melihatnya tampil beda di Sekolah.


Sontak saja suara Eleonara membuat para siswa-siswi menoleh ke arahnya, termasuk Vivian. Semuanya tercengang melihat penampilan Eleonara sangat jauh berbeda dari sebelumnya yang selalu terlihat culun dengan seragam kebesaran kini begitu seksi memikat.


Eleonara tidak memedulikan pandangan siswa-siswi lain yang terpukau, fokusnya hanya tertuju pada sang sahabat. Namun, saat Eleonara hendak melangkah mendekati Vivian yang sedang menatapnya dingin, Vivian malah mengacuhkannya dan bergegas masuk meninggalkan Eleonara begitu saja.


Langkah kaki Eleonara pun refleks terhenti, gurat kesedihan terlihat dari sorot matanya. Eleonara bertanya-tanya ada apa dengan Vivian.


"Vivian!" panggil Eleonara lagi sambil berusaha mengejar. Sayangnya Vivian sudah memasuki ruang ujian dan Eleonara tidak diperbolehkan masuk oleh pengawas.


...


BERSAMBUNG!!


.


.

__ADS_1


__ADS_2